sejarah berdirinya Benteng Ndalo di Bebot desa mokel muri manggarai timur - Congkasae.com

News Update

19 July, 2016

sejarah berdirinya Benteng Ndalo di Bebot desa mokel muri manggarai timur



Dewasa ini sejarah serasa tak diperhitungkan lagi. Sejarah selalu dipandang sebagai mitos yang kadang kebenarannya diragukan. Seajarah menjadi hal yang tabu dan terasa kaku untuk diperbincangkan. H
akikat sejarah sebagai suatu pedoman untuk kehidupan di masa mendatang berangsur hilang tanpa jejak. 

Jarang lagi terdengar cerita-cerita pengantar tidur tentang kejayaan sebuah budaya,kisah hidup dan perjuangan di masa lampau yang dahulunya sering menjadi santapan sebelum tidur. 

Sejarah mengalami kebangkrutan makna karena menyusupnya alat teknologi dan kemajuan sains dalam beriaknya kehidupan masyarakat modern.

Pada kesendirian dalam maraknya peradaban manusia, penulis sangat tertarik untuk menggali sebuah situs sejarah yang lama ditinggal oleh masyarakat setempat yang bermukim disekitar tempat tersebut. 

Pencerahan Sejarah Benteng Ndalo” menjadi  judul yang menarik untuk mengisahkan kembali bagaimana sampai tempat ini menjadi salah satu situs yang bersejarah. 

Tempat letaknya tepat di Mukun bagian timur di kabupaten Manggarai Timur. Wacana ini menjadi pencerahan dan mengusik sedikit ingatan kita yang lahir ditanah manus juga untuk siapa saja yang masih penasaran dengan kronologis lahirnya tempat ini.
 
Kita mungkin sedikit mencuri ungkapan klasik dari sang pejuangan kita di awal kemerdekaan,Soekarno (presiden RI pertama) mengatakan “JASMERAH_jangan sekali-kali melupakan sejarah_. 

Ungkapan tersebut kita harus mengartikannya lebih intens bahwa sejarah itu penting karena kita ada setelah sesuatu yang dahulu itu ada. Hendaknya kita selalu memaknai sejarah sebagai bagian dari kehidupan.

Letak Geografi dan Topografi Benteng Ndalo
adapun letak geografis bentenng Ndalo adalah sebagai berikut
Bagian Selatan berbatasan dengan kebung Podol. Podol dahulunya adalah sebuah perkampungan kecil.

     II.            Letak topografi
Dari letak topografi,Benteng Ndalo memilki letak wilayah yang sangat strategis yaitu di atas sebuah bukit di mana struktur tanahnya didasarkan oleh batu-batu cadas.

Dari hasil peninjauan sementara mengenai keadaan tempatnya,saat ini di sekitar Benteng Ndalo bahkan di pusat Benteng dijadikan sebagai tempat ladang warga sekitar. 

Tetapi laporan terbaru semenjak pertengahan tahun 2011, seiring perkembangan waktu di daerah Benteng Ndalo sudah didirikan sebuah tempat ziarah berupa bangunan Gua Maria. 

Gua Maria ini dibangun sebagai tempat doa dan juga sebagai salah satu daya tarik untuk masyarakat untuk tidak melepas terlentar segalah macam cerita sejarah yang terlahir dari benteng tersebut. Dengan kata lain masyrakat selalu penasaran untuk mengunjungi tempat itu.

Sekilas Sejarah Berdirinya Benteng Ndalo
Ndalo dalam kisahnya terdiri dari empat(4) Benteng yang berdiri kokoh dan terbuat dari bahan-bahan dasar batu cadas. Masing-masing benteng memiliki satu wa’u (wa’u=clan,suku). 

Adapun situs awal berdirinya Benteng Ndalo yaitu setelah Wae Mese lahir (wae mese=leluhur yang pernah mendiami Ndalo) Dia tidak pernah mengetahui dan menemukan siapa ayahnya.

Hari berganti hari kala itu wae mese pun bertambah dalam usianya menjadi dewasa,barulah diketahui bahwa ayahnya adalah Rato Doang. Rato Doang adalah leluhur yang berasal dari suku Manus yang kemudian setelah dewasa mendiami suku Mokel. 

Wae Mese telah mengetahui telah mengetahui siapa ayanya meski sudah lama mencari,namun sayang seorang Tonda Roma yang pada saat itu menjadi orang terbesar dari suku Nengga berhasil lebih awal merenggut nyawa sang ayah Rato Doang.

Lantas kenapa itu semua terjadi? Kenapa harus ada pertumpahan darah?siapa dalang dari peristiwa itu?

Berdasarkan Cerita dari tetua adat,dalang pembunuhan kejam itu adalah kraeng Padu Warang yang sangat tersohor di pedalaman suku Manus. Kraeng Padu Warang menyuruh Tonda Roma untuk membunuh Rato Doang.

Alasan terbunuhnya Rato Doang dikarenakan oleh masalah keluarga,dimana Rato Doang menjadikan istri kraeng Padu Warang sebagai istrinya yang pertama. Disini terjadi perselingkuhan kecil yang menyakitkan. 

Istri Kraeng padu Warang itu bernama Lopo Enek. Lopo Enek terkenal dengan cantiknya. Wajah ayu dan lembut dalam perhatian,tidak salah jika Dia menjadi rebutan tetua saat itu. 

 Dari garis keturunan dan silsila keluarga Rato Doang adalah adik kandungnya Kraeng Padu Warang. Namun karena cinta itu buta segalahnya harus disangkal dan direlahkan. Siapa pun dia. 

Keluarga,teman atau sahabat harus dikorbankan demi terwujudnya sebuah perjuangan kehormatan dan cinta. Meski pertumpahan darah atau konflik yang berkepajangan tidak dihiraukan,realnya nilai kehormatan dan cinta harus menjadi nomor satu.

Bagaimana kehidupan Wae Mese Selanjutnya?
Wae Mese dilahirkan oleh seorang ibu yang bernama Lopo Enek di sebuah kali besar (wae mese dalam bahasa manusnya) olehnya anak yang dilahirkan itu diberi nama Wae Mese. Kelahiran Wae Mese menjadi cerita awal sejarah lahirnya suku Wae Mese. 

Dari keterunan wae mese terlahir berbagai keturunan yang turut mewarnai tragedi perang Kegor. Perang Kegor dilakoni oleh dua pihak berkekuatan besar yaitu suku Manus dan suku Riwu. Suku riwu barasal dari daratan benteng Raja.

Suasana kala itu dalam keadaan perang. Untuk memperkuat barisan perangnya menghadap suku Riwu,Suku Manus bersekutu dengan  suku-suku tetangga yaitu suku Legu,Suku Aghos,suku Keteng dan suku Wae Mese.

Perang menjadi satu tanda bahasa jaman,bahwa dengan perang segalah pengakuan akan kejayaan dan derajat kekuasaan akan diakui. Perang menjadi salah satu solusi yang pasti untuk keluar dari segalah bentuk pertikaian,menjadi moment yang paling indah untuk mengangkat nama suatu ras,suku dan kebudayaan. Semua orang berlomba menjadi penguasa dengan memangsa sesamanya. 

Sangat ironis sekali,tetapi itulah nyatanya kehidupan nenek moyang kita.  Berlanjut dalam pertikaian sengit tersebut untuk menanggapai relasi dan koalisi dari suku Manus,keempat suku tadi mengadakan pembangunan benteng pertahanan dan pengadaan alat perang seperti;bedil(malela) dan meriam  yang dipasang dipusat benteng milik suku Wae Mese. 

Menurut cerita,benteng-benteng di Ndalo dibangun oleh roh-roh halus (darat ,bahasa manus) dalam waktu satu malam. Adapun tujuan berdirinya benteng tersebut adalah hanya sebagai persiapan dari suku Aghos,suku Keteng,suku wae mese dan suku legu apabila suku Manus kalah dalam perang di Kegor.

Suku manus pada saat itu telah dipastikan menang dalam pertempuran perang Kegor maka selanjutnya ketiga suku yang menjadi sekutu suku Manus memutuskan untuk melakukan transmigrasi lokal kewilayanya masing-masing selain suku wae mese. 

Alasan mereka melakukan transmigrasi adalah karena tempat yang mereka diami adalah tempat milik suku Wae mese. Ketiga suku besar itu melakukan transmigrasi kedaerah seperti Neros untuk suku Aghos, Ngusu untuk suku Keteng dan Lebo untuk suku Legu. Sedangkan suku Wae mese menetap di Ndalo sebagai pemilik wilayah itu.

Semenjak melakukan transmigrasi masing-masing suku terlihat akrab dan dalam kehidupan selanutnya mereka kembali melakukan rutinitas harian mereka sebagaimana kebiasaan mereka. Seiring perputaran waktu juga banyak diantara suku-suku tersebut menyebar ke wilayah Mukun karena meningkatnya kebutuhan hidup.

Pemeliharaan dan Pembugaran Situs Benteng Ndalo.
Ndalo merupak situs sejarah dan sekaligus rimbah yang sudah gundul akibat ulah manusia. Kerusakan hutan didaerah itu menyebabkan krisis ekologi. 

Krisis ekologi itu membawa manusia dalam keprihatinan. Kurangnya sumber mata air bersih,kemarau panjang dan kemiskinan frekuensinya meningkat. 

Ulah manusia yang tidak bertanggung jawab membuat alam tidak indah dipandang. Pengolahan hutan dan menjadikan ladang dengan menebang pohon-pohon yang bisa membantu memproduksi O2 untuk pernafasan.

Ndalo sebagai gambaran alam yang rusak dalam konteks daerah. Ndalo membutuhkan perhatian dan pemeliharaan dengan cara sederhana seperti melakukan reboisasi. Serta melakukan pembugaran situs sejarah dengan menggali bentuk-bentuk peninggalan masa lampau.

Sekarang Ndalo sudah menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh warga-warga setempat,baik para pegawai maupun masyrakat biasa,anak-anak sekolah juga ikut mendatangi tempat ini.

Para pengunjung berkunjung ke tempat ini untuk berwisata serta berziarah kegua Maria yang kurang lebih beberapa bulan didirikan oleh masyarakat dengan dukungan tokoh masyarakat,tua adat dan pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

Dengan berdirinya Gua Maria di Ndalo setidaknya memori kita akan tempat bersejarah itu digali kembali dan mengenal sejarah bagaimana kejadian yang unik seperti yang diulas sebelumnya bisa terjadi didaerah kediaman kita. 

Mungkin kita sudah terlalu jauh terlelap dan  menutup mata akan kekayaan kebudayaan daerah atau bahkan kita gelap dalam menjawab apa kekayaan dari kebudayaan kita. Maka dengan menggali informasi peninggalan masa lampau adalah jawabannya.

No comments:

Post a Comment