Ketika Muhamad Jahidin Bertopi Songkok DI Ibu Kota - Congkasae.com

News Update

03 November, 2016

Ketika Muhamad Jahidin Bertopi Songkok DI Ibu Kota


“sebagai kaum muda Manggarai alangkah eloknya jika jahidin mengenakan topi songkok dalam acara diskusi public seperti yang dilakukan oleh Ruhut Sitompul beberapa waktu lalu, dari pada mengikuti aksi demonstrasi yang hanya mewakili kelompoknya tapi bertentangan dengan pandangan orang Manggarai secara umum namun menyeret orang Manggarai kedalam pusaran konflik melalui atribut songkok yang di kenakan.”
Antonius Rahu

Oleh Antonius Rahu

Ketika Bola panas bernama “penistaan agama” itu menggelinding dalam arena pilgub DKI maka, semesta pembicaraan publik pun kini berubah dari yang hanya sebatas politik sekarang merambah ke panggung agama.

 Awal mulanya hanya berasal dari pernyataan calon gubernur petahana Basuki Tjahya Purnama di kepulauan seribu, tentang surat Almaidah ayat 51 namun karena tensi politik di DKI kian memanas maka pernyataan ini pun di tafsirkan secara berbeda oleh beberapa kaum yang kemudian menimbulkan pro kontra dalam masyarakat.

Pro-kontra pun kian memanas buntutnya adalah adanya demonstrasi yang dilakukan oleh beberapa ormas muslim di DKI yang di pimpin langsung oleh salah satu ormas muslim terbesar yakni Front Pembela Islam atau yang sering di kenal dengan FPI. 

Bericara tentang PILGUB DKI dan aksi demonstrasi ormas Muslim di ibu kota yang akhir-akhir ini ramai di perbincangkan, tepatnya kemarin rabu 3 november 2016 ada satu topic yang menarik perhatian public terutama di kalangan orang Manggarai Raya, setelah di halaman depan media online floreseditorial.com menurunkan berita dengan judul “camat komodo mengecam warganya yang memakai topi songke Manggarai saat demo FPI di DKI”. 

Berita ini langsung menyedot perhatian publik terutama di kalangan orang Manggarai Raya meklum salah satu oknum yang katanya mahasiswa pasca sarjana di salah satu universitas di Jakarta yang merupakan peserta demo tertangkap camera wartawan mengenakan topi peci bermotif songke atau yang sering di sebut songkok di Manggarai. 

Dalam berita tersebut juga tidak di jelaskan mengapa oknum misterius tersebut mengenakan songkok saat mengikuti aksi demo di DKI bersama FPI beberapawaktu lalu. Hal tersebut langsung menuai kecaman dari warga Manggarai Raya, bahkan caci maki yang di alamatkan kepada oknum yang kemudian di akui bernama Mohamad Jahidin pun menghiasi status di jejaring sosial warga Manggarai Raya. 

Lalu mengapa orang Manggarai Marah? Mengapa orang Manggarai tidak marah setelah sebelumnya  Ruhut sitompul yang bukan orang Manggarai juga pernah mengenakan topi yang sama dalam diskusi politik di stasiun televisi swasta nasional?

Orang Manggarai tampaknya kesal dengan ulah Mohamad Jahidin, karena  mengenakan songkok yang khas dengan adat Manggarai apa lagi pemakainya berada di tengah kerumunan ormas FPI yang sedang berdemonstrasi dan itu sangat tidak merepresentasikan bahkan bertentangan dengan pandangan warga Manggarai Raya secara umum. 

Dalam surat pernyataan yang kembali di turunkan di media floreseditorial.com Jahidin menyampaikan maafnya kepada masyarakat Manggarai Raya. Mohamad Jahidin berargumen “pemakaian songkok dalam aksi demonya bersama ormas FPI adalah bentuk pelestarian kekayaan budaya  Manggarai, penggunaan songkok tersebut bukan berarti memberikan dukungan dari masyarakat Manggarai Raya.” 

 Akan tetapi yang perlu diingat adalah atribut adat yang dikenakan oleh seseorang bisa saja merepresentasikan identitas orang tersebut dan bisa saja ini menggiring opini public terutama di luar orang Manggarai bahwasanya orang Manggarai Raya  juga mendukung aksi demo yang dilakukan Jahidin dan teman-temanya di Ibu kota. 

Yang perlu di ingat kembali adalah Mohamad Jahidin mengikuti aksi demo tersebut mewakili kelompok dan dirinya sendiri, bukan mewakili masyarakat Manggarai Raya. Akan tetapi Jahidin telah berusaha menyeret-nyeret orang Manggarai kedalam pusaran konflik yang tengah menggelinding di pusat Ibu kota tersebut melalui pemakaian atribut songkok, hal ini bisa saja di tafsirkan sebagai bentuk dukungan masyarakat Manggarai Raya dalam aksi demo FPI di Ibukota. 

Sebagai kaum mudah Manggarai sudah selayaknya kita menjunjung tinggi adat dan budaya kita, melalui penggunaan atribut adat seperti songkok, kain tenun songke dan sebagainya. 

Itu memang patut di acungi jempol namun ada satu hal yang harus di perhatikan yakni pemakaianya harus di sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Yang di lakukan oleh Jahidin adalah pemakaian atribut adat yang tidak pada tempatnya dan ini sangat berbahaya bagi kerukunan umat beragama di tanah Manggarai. 

Di sisi lain Jahidin mau menyeret masyarakat Manggarai kedalam pusaran konflik yang kian memanas di ibukota. Oleh karena itu, sebagai kaum mudah yang juga berasal dari Manggarai saya berpandangan bahwa alangkah eloknya, jika jahidin mengenakan topi songkok tersebut dalam acara diskusi public seperti yang dilakukan oleh Ruhut Sitompul beberapa waktu lalu.

Hal ini sangat di apresiasi oleh masyarakat Manggarai, dari pada mengikuti aksi demonstrasi yang hanya mewakili kelompoknya tapi bertentangan dengan pandangan orang Manggarai secara umum namun menyeret orang Manggarai melalui atribut songkok yang di kenakan. 

Sehingga tidak ada lagi kebencian dan rasa dendam di kalangan masyarakat Manggarai. Dan menjadi mahasiswa Manggarai yang benar-benar membanggakan orang Manggarai bukan sebaliknya menimbulkan kegaduhan dan amarah.

Penulis: Mahasiswa tingkat akhir jurusan pendidikan Matematika di IKIP PGRI Bali berasal dari Manggarai.

tulisan ini sudah pernah di publikasikan di media online floreseditorial edisi 4 november 2016

No comments:

Post a Comment