Diary Usang - Congkasae.com

Hoos ata werud

12 December, 2017

Diary Usang

Ilustrasi

**Sebuah Cerpen Karya Eman Jabur**
Malam ini, di bawa rembulan, aku memandang langit penuh makna. Sebuah pena terselip diantara ibu jari dan jari telunjukku dan sedikit menyentuh bagian samping kiri jari tengahku.

Aku hendak menorehkan kisah di diary usang yang di berikan Rifan dua tahun yang lalu pada waktu ulang tahunku yang ke dua pulu satu. Rifan adalah kekasih ku.

Kami memulai merajut kisah ini semenjak berada di bangku kuliah. Pertemuan pertama kami masih terus ku ingat dan mungkin akan menjadi memori yang tak akan pernah aku lupakan.

Waktu itu, aku adalah mahasiswa baru dan Rifan sudah satu tingkat diatasku. Pertemuan pertama kami terjadi di sebuah lorong kampus, tepatnya di depan ruangan kelas, di Kampus STKIP Santu Paulus Ruteng.

Pada waktu itu dia meminta nomor telepon ku, dan aku memberinya. Sebuah pertemuan yang singkat, yang juga menjadi awal kedua insan akan menyatu. 

Beberapa hari setelah perjumpaan itu, sebuah nomor baru menghubungi ku melalui via sms.
Dan ternyata yang empunya nomor baru itu adalah Rifan, seorang laki-laki manis yang tak sengaja bertemu dengan ku di lorong kampus waktu itu.

Melalui via sms inilah dia mengajak ku untuk jalan-jalan ke taman kota.  Kami berjalan mengelilingi taman itu, kemudian berhenti ketika aku memintanya agar kami duduk sebentar di tengah taman itu.

Saat kami sampai di tengah taman tersebut dan kami belum sempat duduk, tiba-tiba tangannya memegang kedua tanganku, kemudian dia berdiri menghadapku.
“enu Mila, mau kah kamu menjadi pacarku,"

Seketika, udara seakan banyak mendatangi, napasku sesak, pembuluh jantung tampak tak mampu menahan degupnya.

Uapnya seakan menembus bola mata, hingga mereka tiba-tiba berembun dan aku kehilangan kata-kata. Waktu tiba-tiba seolah begitu lambat bergerak, atau aku saja dan seluruh organku yang diam di tempat? Tanganku kaku, bibirku kelu.

Ini perasaan apa? Tentu saja, “CINTA”. Karena semenjak pertemuan di lorong kampus itu, aku sudah menaruh hati terhadap Rifan.

Hanya saja aku memendamnya.  “enu, sekarang apa jawabanmu?” suara Rifan memecah keheningan yang ku ciptakan. Aku mengangguk. Tanda bahwa aku menerimanya. Ku lihat kebahagian terpancar dari wajahnya.

Layaknya seorang bocah yang minta di belikan sepeda kepada Bapaknya, dan bapaknya mengindahkan permintaannya.  “terima kasih enu, dan mulai sekarang enu resmi menjadi pacarku”.

Semenjak saat itu, kami berdua menjadi sepasang kekasih. Hari-hari serasa begitu cepat berlalu. Kuliah yang terkenal berat dengan tugasnya, menjadi sangat mudah bagiku. Itu semua karena Rifan selalu memotivasiku. 

Tiga tahun sudah kami menjalin kisah ini, dan beberapa hari lagi Rifan akan Wisuda, yang juga merupakan puncak dari perjuangannya menapaki gelar S1 Matematika.

Namun, sebuah kabar datang dari kampus, bahwasanya Rifan mendapat Beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 ke German.

Dan aku tidak tahu, apakah aku harus senang atau malah sedih mendengar berita ini. Tapi yang jelas dia akan pergi meninggalkanku sendiri disini. 

Sore itu, saat setelah hari dimana Rifan Wisuda, dia mengajakku ke taman kota. Sebuah taman, yang merupakan tempat pertama kali dia mengutarakan isi hatinya kepadaku.

“enu, besok pagi saya akan berangkat ke German, dan itu artinya kita akan disekat oleh ruang dan waktu. Tapi meskipun begitu ku harap cinta kita akan tetap bersatu, kuharap enu tetap menunggu ku disini,"katanya sembari manundukan kepala.

Aku tak menjawabnya. Hanya deraian air mata terus mengalir dikedua pipihku. Aku menangis terisak-isak. Dia mengelus-elus rambutku.

“Enu, aku tahu ini berat bagimu. Tapi ketahuilah, ini juga berat bagiku. Namun demi mimpi, cita-cita dan kesuksesku yang juga akan menjadi kesuksesan kita nantinya, aku menahan kepedihan dari perpisahan ini. Jadi berhentilah menangis, enu," Katanya sembari merangkul kepalaku dengan kedua lengannya. 

“Aku belum siap menjadi pasangan LDR, setiap saat di siksa beratnya rindu untukmu Fan, aku belum siap. Berada jauh darimu adalah hal tersulit yang aku lakukan. Namun aku juga tidak bisa membatasi ruang gerakmu”. Kataku seraya membalas pelukannya. “l love you,"Lanjutku membisik di telinganya.

Keesokannya, tepatnya di pagi hari, aku duduk diterminal carep menunggunya datang dari kampung Benteng Jawa.

Sekalian aku akan ikut mengantarnya ke pelabuhan Labuan Bajo nantinya. Aku duduk di terminal itu selama dua puluh menit.

Tidak lama setelah itu, sebuah Bus yang di samping kiri kanannya bertuliskan Harapan Bersama, muncul. Aku bergegas berdiri, melihat apakah Rifan menumpang di Bus tersebut.

Dadaku bergetar, saat sosok tinggi tegap, keluar dari dalam bus. Itu benar, Rifanku. Dengan menggunakan setelan kemeja kotak-kotak dan jelana jeans bermerk loys membuatnya terlihat semakin neces. Aku berjalan menjemputnya. 

“selamat pagi, enu sudah dari tadi disini?” sapanya. Aku mengangguk. Kemudian menggapai sebuah tas yang di tentengnya.

“biar aku yang membawanya. Dan aku akan ikut mengantarmu ke pelabuhan”. Kataku. “tapi hari ini katanya enu akan memulai KKN di Borong. Bagaimana mungkin bisa ikut mengantarku?” “aku sudah membatalkan jadwal KKN hari ini Fan. Aku mau mengantarmu,"katanya.

Sorenya, kami tiba di Pelabuhan. Sebuah kapal yang bernama Tilong Kabila, stand by di pelabuhan. Kami keluar dari mobil.
Kemudian berjalan menuju dermaga, yang merupakan pintu perpisahan. Rifan tiba-tiba berhenti, lalu mengajakku untuk duduk di sayap dermaga tersebut.

Aku mengiakannya. Dibawa dermaga, ombak bernyanyi merdu dengan sekawanan ikan. Seolah menyanyikan lagu perpisahan untuk mengiringi kepergian kekasihku.

Aku mengankat muka, lalu berpaling ke Rifan yang sedari tadi menatapku dalam. Aku membalas tatapannya. Kali ini aku melihat bola mata indahnya berembun.

Dari ekspresinya, seperrtinya dia hendak menahan agar embun di matanya tak membanjiri pipihnya. Aku menggapai kedua tangannya.

Kali ini giliranku yang menguatkannya.  “bukankah kita hanya berbedah ruang dan waktu? Benang merah masih akan terkait diantara hati kita berdua?”. Kataku dia memeluku.

“aku akan selalu mengirim kabar untukmu,"Katanya sembari membisik di telingaku. Aku mengangguk sambil melepas pelukannya, kemudian mengambil sebuah surat yang ku tulis tadi malam, dan memasukannya kedalam kantong bajunya.

Isi pesannya singkat, yaitu sebagia berikut:  “inilah perpisahan kita. Di seberang sana kamu akan kembali mengejar mimpi yang belum menjadi mimpiku. Lupakan aku sejenak, fokuslah pada mimpimu, kesetian akan menjadi pakaianku selama kamu pergi.

Aku akan menunggumu kembali".  Saat itu, sebenarnya aku ingin melipat diri di dalam surat tersebut, lalu mengejutkannya saat dia membukanya disana.

Namun, tidak mungkin. Aku harus tinggal disini, mimpi-mimpiku sudah terlanjur ku tanam di Tanah Manggarai ini, sudah ku besarkan, sudah ku siangi, sudah di berkati.
Lagipula, aku harus menjadi sebuah frasa yang dia sebut “pulang”,bukan?  Kemudian dia mencium kening ku. Ada ketenangan yang menyerbak dalam kecupan di bibir atau di pipi.

Aku selalu suka saat dia mengecup keningku, katanya dulu, keningku adalah landasan tempatnya yang tak pernah bosan mendaratkan bibirnya.

Mungkin karena di balik dahi tersimpan imajinasi tentangnya yang tak terhitung jumlahnya.  Beberapa saat kemudian, dia berbalik badan, melangkah naik ke pintu kapal, menyisahkan punggung satu-satunya yang bisa ku pandang.

Lalu punggung itu menghilang di telan pintu kapal. Ku palingkan muka ke lautan, ombaknya bersenandung. Tapi aku tak mau mendengarnya. Karena itu akan bermuara pada kesedihan yang panjang dan menyakitkan.

Pertemuan memang akan selalu berahkir pisah, itu adalah hukum semesta. Tapi paling tidak, aku sudah mengatakan kepada Tuhan bahwa aku memuja keselamatannya agar nanti bisa menjemput nya kembali di dermaga ini, suatu hari nanti, yang aku tak tahu pasti, kapan.

Dua tahun telah berlalu, musim telah berganti, mengantar aku yang tanpanya menuju masa depan. Kabar yang pernah dia janjikan tidak pernah ada.

Tapi aku tak mau menangis, dan malam ini, dibawa rembulan dengan diary usang pemberiannya, untuk kesekian kalinya aku akan menoreh kisah kesendirianku, tentang sebuah kesepian tanpanya, tentang sebuah tekat untuk terus menunggunya.

Selamat berjuang kekasihku Rifan, tetaplah menjadi kekasih terhebatku.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Warmadewa-Bali, memiliki hobi menulis dan aktif menulis di blog

No comments:

Post a Comment