Cintaku Kandas Ditengah Wabah Corona - Congkasae.com

Hoos ata werud

24 March, 2020

Cintaku Kandas Ditengah Wabah Corona


***Oleh Marselino Ando***

Nama saya Rinto, saya berasal dari salah satu kampung di Kabupaten Manggarai Timur. 3 tahun   lalu setelah lulus SMA, saya tidak melanjutkan pendidikan di tingkat Universitas lalu saya memutuskan untuk berhijrah ke Bali.

Saya lahir dari keluarga dengan latar belakang  yang pas-pasan. Bapak saya hanya seorang buruh tani dan Ibu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Sedangkan kedua kakak saya sudah lama merantau ke Kalimantan.

Selain meninggalkan kedua orang tua, saya juga harus berpamitan untuk waktu yang cukup lama dengan pacar saya yang bernama Rina, karena dia lebih memilih untuk tinggal di kampung saja.

Di Bali saya bekerja sebagai security di salah satu hotel ternama. Upah saya per bulan Rp.7.000.000. Uang ini sebagianya saya sisihkan untuk mengirim orang tua di kampung dan juga untuk Rina sang pujaan hati. Ini sudah menjadi rutinitas saya selama 3 tahun.

Pada akhir Januari tahun 2020, di tengah orang lagi marak-maraknya bicara soal virus mematikan yang bernama corona yang diduga berasal dari Kota Wuhan , Tiongkok yang kabarnya  sudah merebak hingga ke Indonesia.

Menurut informasi yang saya dapatkan dari televisi, virus ini lebih cepat masuk melalui wisatawan-wisatawan asing yang sudah positif corona.

Di Bali sendiri pada hari Senin (23/03/2020) berdasarkan informasi yang saya peroleh melalui media elektronik sudah 3 orang yang positif corona.

Perasaan saya cukup tergangu oleh peristiwa ini.  Tiba-tiba ponsel saya berdering. Ternyata panggilan masuk dari Rina sang pujaan hati.

"Hallo..., nana Rinto bagaimana kabar eww..?"tanya Rina.

"Kabar baik nu. Selama kita dua sepakat untuk tetap setia, pasti saya baik-baik saja,"jawab saya dengan sedikit gombal.

"Begini nana, saya nonton di TV kalau virus corona sudah menyebar sampai ke Bali. Sebaiknya nana pulang saja ew. Saya takut nana juga nanti tertular,"ungkap Rina dengan nada suara yang sedikit sedih.

"Enu Rina yang cantik, jangan khawatir. Saya selalu menjaga diri dan mengikuti petunjuk dari medis guna mencegah terjangkitnya virus ini," jawab saya sembari memberikan pengertian pada enu Rina.

Setelah jawaban ini, tanpa pamit Rina langsung mematikan teleponnya. Sepertinya dia sangat marah dan kecewa dengan keputusan saya untuk tetap tinggal di Bali.

Berselang 30 menit setelah pembicaraan tadi,  ponsel saya kembali berdering, namun kali ini bukan nada telepon tetapi deringan nada SMS dari enu Rina.

"Nana Rinto, jangan marah ew..., hubungan kita cukup sampai di sini dan saya tidak mau mengenal kamu lagi," bunyi SMS enu Rina.

Hati saya begitu hancur dan remuk ketika membaca SMS ini. Saya pun berusaha untuk membujuk enu Rina, namun ia tetap pada keputusannya untuk mengakhiri hubungan ini.

Penulis merupakan alumnusUKAW Kupang saat ini menetap di Manggarai Timur

No comments:

Post a Comment