Wabah Corona dan Kesiapan Masyarakat Flores - Congkasae.com

News Update

23 March, 2020

Wabah Corona dan Kesiapan Masyarakat Flores



**Oleh Antonius Rahu**
Corona, adalah sebuah nama yang awal kemunculannya tidak terlalu diperhitungkan. Di awal kemunculannya saya termasuk orang yang acuh dengan bahaya yang dibawa oleh virus ini.

Bukan tanpa alasan, awal kemunculannya virus ini ditemukan di Wuhan, provinsi Hubei China, sebuah kota dengan jarak berjuta-juta kilo meter dari Labuan Bajo, tempat saya tinggal saat ini.

Paling kalaupun virusnya ganas, yang jadi korban pertama adalah warga kota di Wuhan, Indonesia kan jauh dari China.

Mungkin itulah yang terlintas di benak saya pada November tahun lalu, ketika media-media Internasional seperti BBC, CNN, Reuters melaporkan bahaya wabah ini langsung dari kota Wuhan.

Rupanya bukan hanya saya yang beranggapan demikian, direktur utama World Health Organisation (WHO) Tedros Adanom Ghebreyesus di awal kemunculan wabah ini enggan turun tangan menyikapi wabah ini.

WHO di awal kemunculan virus ini lebih memilih melipat tangan dan menyerahkan penyelesaiannya pada pemerintah Tiongkok, alasannya kala itu karena belum dikategorikan wabah global.

Namun siapa sangkah hanya butuh beberapa pekan saja bagi corona untuk bisa melancarkan misinya di negara-negara di luar China.

Dalam waktu yang terbilang singkat, sang pembunuh manusia yang paling beringas itu berhasil keluar dari daerah asalnya di Wuhan, terbang melintasi benua Asia melewati samudra atlantik hingga ke Negeri paman Sam.

Alhasil Corona berhasil menelan korban penduduk dunia, mulai dari Asia hingga Eropa dan Afrika.

Bertamu ke Indonesia Meski Tak Diundang
Banyaknya korban yang terpapar virus Corona di seluruh dunia menyebabkan WHO akhirnya menaikan  status Corona ke level darurat global.

WHO yang awalnya lebih memilih melipat tangan ketimbang menggulungkan lengan akhirnya harus terseok-seok mengatasi wabah mematikan yang sudah menjadi pandemic global itu.

Beberapa negara mulai menerapakan lock down (menutup akses) ke negara-negara terpapar virus. Salah satunya Indonesia yang awalnya menghentikan penerbangan langsung ke kota Wuhan.

Namun langkah pemutusan penerbangan langsung itu saja rupanya tidak cukup bagi corona untuk tidak bertamu ke Indonesia.

Buktinya hanya butuh waktu dua bulan saja wabah itu akhirnya terdeteksi di Indonesia, meski awalnya kedatangan tamu tak diundang itu ke Indonesia diwarnai pro dan kontra.

Ada yang menyebut jika Corona tidak kuat dengan cuaca di Indonesia, karena Corona lahir di negara yang memiliki empat musim, jadi kalau ke Indonesia Corona takut kulitnya akan menghitam dan rambutnya bisa jadi keriting.

Warga Indonesia lupa bahwa dalam kopernya Corona juga sudah bawah serta dengan Catok (alat pelurus rambut keriting) serta lotion pelembab kulit.

Ada pula yang mengatakan jika Virus Corona takut bertandang ke Indonesia karena malas mengurus perijinannya yang super ribet.

Namun orang Indonesia lupa bahwa Corona juga menggunakan jasa Calo, sehingga perijinannya menjadi super cepat.

Alahasil Coronapun resmi bertamu ke Indonesia setelah dua warga Depok dikabarkan terpapar virus itu. Pengumuman tentang kedatangan tamu tak diundang itu ke Indonesia dibacakan langsung oleh presiden Jokowi di Istana Negara.

Wabah Cacar di Mangarai 1930
Usai resmi terdeteksi di Indonesia, wabah itu akhirnya menyebar ke sulurh provinsi di tanah air termasuk NTT.

Salah satu provinsi kepulauan yang berdekatan dengan Australia dan Timor Leste. Awalnya saya juga pesimis Corona bisa bertamu ke NTT.

Pasalnya NTT termasuk provinsi dengan keadaan cuaca yang cukup ekstrim, dikenal dengan cuaca panas yang bisa membakar kulit.

Namun rupanya Corona sudah memborong lotion yang terjul di Denpasar dan Jakarta sebelum bertamu ke NTT.

Selain itu rupanya sebelum ke NTT Corona juga sudah membeli dua unit alat catok rambut di kopernya.

Alhasil Corona pun resmi bertamu ke NTT dengan ditemukannya 42 kasus ODP yang ada di seluruh provinsi kepulauan itu.

Meski sejauh ini belum ada PDP satu level di atas ODP, namun dengan adanya 92 orang ODP yang berada di Provinsi itu membuktikan bahwa Corona serius ingin bertamu ke NTT.

Meski kita berdoa semoga Corona mengurungkan niat bertamunya itu dan beneran takut kulit gosong dan rambutnya bisa jadi keriting.

Bicara soal wabah mematikan, orang Manggarai sudah pernah mengalaminya sekitar satu abad yang lalu. Kabarnya wabah Cacar pernah melanda ujung barat pulau Flores dan menyebabkan setengah dari populasi orang Manggarai kala itu menjadi korban.

Wabah Cacar itu pula dikenal sebagai Ruci atau Rusi, namun di beberapa wilayah Manggarai menyebutnya dengan istilah Nemba.

Jumlah kematian orang Manggarai kala itu dibilang cukup tinggi, apa lagi waktu itu belum mengenal dunia sanitasi dan obat-obatan medis.

Hampir setiap hari jumlah korban terus berjatuhan, meski telah diadakan ritual teing hang, pada empo sebagai pendahulu (ata paang be le).

Namun Ruci atau Nemba kian mengganas, alhasil hampir setengah dari populasi orang Manggarai kala itu jadi korban keganasan Ruci.

Orang Manggarai hampir kehilangan keturunan (Wa,u) maka keberadaan perempuan sejak saat itu dinilai sangat berharga.

Karena hanya perempuan yang bisa melahirkan sebagai jalan satu-satunya untuk mempertahankan eksistensi Wa,u.

Maka perempuan Manggarai kala itu dianggap sebagai ni’i atau bibit penerus keturunan.

Sejak saat itu setiap laki-laki yang hendak meminang molas Manggarai harus menyertakan hewan serta harta berharga lainnya termasuk mendi (bagi keturunan kraeng) sebagai ungkapan penghormatan dan apresiasi kepada perempuan Manggarai.

Pemberian inilah yang jadi cikal bakal lahirnya budaya Belis yang kita kenal seperti saat ini. Gara-gara mengulas belis itu saya sampai diputusin pacar dan dicap sebagai laki-laki kurang ajar.

Namun wabah Ruci kala itu pergi begitu saja tanpa adanya obat yang bisa menghentikan penyebaran virus itu.

Setelah menelan ribuan nyawa di Manggarai kala itu, Ruci pergi tanpa pamit ibarat mantan pacar yang pergi untuk selama-lamanya hahaha.

Hal itulah yang saya lihat terjadi di kota Wuhan hari-hari belakangan ini, merujuk pada kantor beritak Reuters, di wuhan saat ini sudah tidak ditemukan kasus inveksi baru.

Akankah Wuhan akan benar-benar bebas dari wabah corona, seperti di Manggarai zaman dulu? Hanya Tuhan yang tahu.

Tingkat  Kesiapan Masyarakat Flores
Wabah corona ini rupanya jadi pusat perhatian warga dunia, termasuk di Indonesia khususnya di Flores. Dalam beberapa hari belakangan ini, institusi pemerintah dan Institusi agama gencar mengeluarkan kebijakan yang bersifat antisipatif.

Mulai dari kebijakan pemerintah Provinsi NTT yang menginstruksikan semua instansi pemerintah di provinsi itu untuk meningkatkan kewaspadaan, sampai pada langkah merumahkan anak sekolah.

Selain itu institusi agama seperti gereja juga telah mengeluarkan kebijakan dan himbauan untuk Jemaahnya agar menjauhi kerumunan masa, menjaga kesehatan, serta menghentikan aktivitas ibadah di gereja.

Ini saja tidak cukup bagi kita untuk memastikan diri bahwa NTT benar-benar aman dari wabah corona, mengingat ada begitu banyak warga NTT yang bekerja di luar daerah bahkan ke luar negeri.
Kepulangan warga perantau ini bisa jadi carier alias pembawa virus ini ke NTT.

Oleh karena itu alangkah elok dan bijaknya apabilah dalam beberapa waktu ke depan, para perantau NTT yang berada di luar NTT untuk mengurungkan niatnya untuk pulang kampung.

Demikian pula sebaliknya, orang NTT yang hendak melakukan perjalanan ke luar daerah atau ke luar negeri sebaiknya ditunda dulu untuk sementara waktu.

Hal itu dilakukan untuk kebaikan kita bersama, bukankah mengantisipasi itu jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan mengobati?

Apalagi di Flores rata-rata gemar mencari nafkah ke luar daerah, mulai dari Larantuka Flores Timur , hingga ke Labuan Bajo Manggarai Barat.

Populasi orang Flores di luar NTT saat ini diestimasi hampir 60 persen. Angka ini tentu saja jumlah yang tidak sedikit.

Jika saja pada paskah tahun 2020 ini mereka semua akan pulang kampung merayakannya di Flores, maka Flores akan lebih gawat dari Jakarta atau Denpasar.

Karenanya penting untuk mematuhi protol pemerintah, untuk keselamatan kita bersama.
Kita tak ingin kasus Nemba atau Ruci di Manggarai kemabali terulang di tahun 2020 ini bagai fungsi periodik dalam ilmu kalkulus bukan?

Karenanya mari tingkatkan kewaspadaan, dengan mematuhi arahan pemerintah dan gereja sembari berdo’a agar wabah ini segera berlalu.

Dan yang paling penting semoga corona batal bertamu ke NTT Karena takut kulitnya gosong dan rambutnya keriting.

Note: Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan masyarakat NTT sebagai berambut keriting dan kulit hitam itu hanya sebagai anekdot lucu saja tidak bermaksud apa-apa.
Antonius Rahu

Penulis merupakan, pemerhati budaya saat ini menetap di Labuan Bajo, Flores

No comments:

Post a Comment