Dampak Wabah Corona Mulai Terasa di Flores - Congkasae.com

News Update

27 March, 2020

Dampak Wabah Corona Mulai Terasa di Flores

Sunset di Ayana Labuan Bajo/Foto Jadwal Travel
[Congkasae.com/Kereba] Wabah Corona kian mengkhawatirkan umat manusia pasalnya, selain berdampak langsung pada kesehatan manusia, penyebaran virus yang berasal dari kota Wuhan,Tiongkok ini juga menimbulkan efek domino pada segala bidang.

Mulai dari pendidikan, kehidupan sosial kemasyarakatan hingga sektor ekonomi, sejak pertama kali teridentifikasi di Indonesia, hingga kini flu Wuhan ini sudah menyebar ke hampir seluruh provinsi di tanah air termasuk NTT.

Meski otoritas pemerintah Nusa Tenggara Timur hingga kini belum menemukan pasien dengan status positif Covid-19, namun jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19 di provinsi kepulauan  itu semakin meningkat.

Untuk menekan laju penyebaran virus ini, pemerintah RI telah mengambil beberapa kebijakan konkret yang bersifat antisipatif.

Salah satunya dengan memberlakukan larangan berkumpul atau yang sering disebut social distancing bagi  masyarakat.

Selain itu masyarakat juga  dihimbau untuk mengisolasi diri selama 14 hari dalam rumah, semua aktivitas kampus, sekolah, instansi pemerintah, pasar, hotel, tempat hiburan juga diberhentikan untuk sementara waktu.

Kebijakan ini rupanya berdampak negatif bagi perlambatan ekonomi di tanah air. Salah satu sektor yang terdampak akibat wabah covid-19 adalah pariwisata serta sektor lain yang jadi penyangga pariwisata.

Di Labuan Bajo  Manggarai Barat dampak wabah Corona ini sangat terasa terutama di sektor perhotelan dan restoran.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) cabang Manggarai Barat, Silvester Wanggel mengatakan pemberlakuan lockdown di sejumlah Negara akibat wabah Corona juga ikut dirasakan oleh pengusaha perhotelan serta restoran di Manggarai Barat.

“Beruntung pemda Manggarai Barat memberi keringanan kepada usaha perhotelan dan restoran dengan tidak membayar pajak dan retribusi kepada daerah mulai bulan Maret hingga Juni,”kata Silvester Wanggel kepada Congkasae.com Jumat malam.

Kendati demikian, ketua PHRI itu mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya belum menerima laporan tentang adanya Pemutusan Hubungan Kerja, terhadap karyawan hotel dan restoran yang beroperasi di Labuan Bajo.

“Cuma yang ada sejauh ini adalah cuti yang tidak dibayar,”tambah Silvester.

Sementara itu dampak wabah Covid-19 juga ikut dirasakan oleh sekelompok tukang ojek di Kisol, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Di Kisol sekelompok tukang ojek mengalami penurunan pendapatan yang sangat signifikan dalam beberapa pekan belakangan ini.

"Sebelumnya pendapatan saya dalam sehari itu bisa sampai  Rp. 70.000- Rp.80.000 dan sekarang pendapatan saya dalam sehari hanya Rp.30.000 saja," kata Don, salah seorang tukang ojek di Kisol Kepada congkasae.com.

Menurut Don hal itu juga dirasakan oleh teman-teman seprofesinya. Ia beralasan penurunan pendapatan disebabkan adanya liburan umum yang dikeluarkan pemerintah terhadap pengguna jasa mereka seperti, guru, siswa-siswi, dan pembeli yang mau ke pasar yang tidak lagi beraktifitas untuk sementara waktu.

Persoalan serupa juga dialami Peter, seorang pedagang asongan buah semangka di kampung Watunggong, Kisol.
Peter pedagang buah di Kisol Matim/Foto Marselino Ando, Congkasae.com

Peter mengaku pendapatannya dalam beberapa minggu belakangan ini merosot drastis. Jika sebelumnya penghasilan Peter dalam sehari bisa mencapai Rp.400.000, tetapi sekarang ia hanya mampu mendapatkan omset sebesar Rp. 50.000 saja.

“Bahakan sempat tidak laku sama sekali, sebelumya banyak pegawai-pegawai yang membeli buah semangka. Mungkin karena kebijakan ini mereka terus mengisolasikan diri dan membatasi aktifitas," tutup Peter.

Ia berharap wabah covid-19 ini cepat berlalu, agar perputaran roda ekonomi mereka kembali pulih.

Penulis: Marselino Ando
Editor: Antonius Rahu

No comments:

Post a Comment