Ketika Covid-19 Juga Menghantui Perayaan Paskah di Flores - Congkasae.com

News Update

06 April, 2020

Ketika Covid-19 Juga Menghantui Perayaan Paskah di Flores

Umat paroki Mbata tampak bersiap-siap menantikan pemberkatan daun Palma, Foto Congkasae.com

[Congkasae.com/Kreba] Dalam pekan ini Umat katolik di seluruh dunia akan memperingati wafatnya Yesus Keristus yang sering disebut Paskah.

Di sejumlah negara di dunia paskah diperingati dengan beragam kegiatan atau tradisi termasuk di Indonesia. Pekan suci paskah biasanya diawali dengan hari raya Minggu Palma, yang memperingati momen di mana Isa Almasih itu masuk ke Yerusalem.

Namun ada yang berbeda dengan perayaan paskah tahun ini, pasca wabah covid-19, gereja-gereja di Indonesia telah menghentikan perayaan misa harian dan mingguan dengan menghadirkan jemaat di gereja.

Gereja memutuskan untuk menggelar perayaan misa secara online melalui jalur live streaming di facebook youtube dan platform media social serupa.

Perayaan misa online yang diterapkan otoritas gereja di Indonesia sejalan dengan larangan berkumpul yang dikeluarkan oleh pemerintah, demi menekan laju penyebaran virus corona di Indonesia.

Larangan itu berlaku bagi seluruh provinsi di tanah air termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT).

Minggu Palma Tanpa ke Gereja
Perayaan minggu Palma yang tahun ini jatuh pada 5 April 2020 berlangsung tidak seperti biasanya, pantauan congkasae.com di beberapa paroki di daratan Flores perayaan misa Minggu Palma tetap dilaksanakan.
Pastor tampak berkeliling memberikan pemberkatan daun palma, Foto Patrisia/Congkasae.com

Namun tidak seperti biasanya, gereja selalu dipenuhi jemaat yang datang beribadah. Perayaan Minggu Palma tahun ini tanpa kehadiran umat di gereja-gereja.

Untuk pertama kalinya  sejak gereja Katolik masuk ke wilayah Flores Barat (Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur) perayaan minggu Palma di daerah itu dilakukan tanpa kehadiran umat di gereja.

Kendati demikian, umat tetap berpatisipasi dengan menyiapkan daun Palma yang ditempatkan di halaman rumah menanti percikan air berkat yang dilakukan imam.

Di beberapa paroki umat tampak antusias menyiapkan daun palma sembari menanti pemberkatan yang dilakukan pastor paroki.

Salah satunya terjadi di paroki Mbata, desa Rana Mbata, kecamatan Kota Komba, kabupaten Manggarai Timur, Flores.
Pastor paroki Mbata Romo Bernad Parus Pr tampak keliling memberkati daun palma, Foto Vian/Congkasae.com

Umat di paroki yang masuk dalam area kevikepan Borong ini menyelenggarakan misa Minggu Palma dari rumah.

Sejak Minggu pagi, umat tampak berdiri di halaman rumah menanti mobil pastor paroki yang berkeliling memberkati daun-daun palma yang disiapkan umat.

Pastor paroki Mbata Romo Bernadus Parus Pr berkeliling menyapa serta memberkati daun palma yang disiapkan di halaman rumah warga.

Hal serupa juga dilakukan oleh umat di Paroki Rangga kecamatan Lembor, kabupaten Manggarai Barat, Flores.

Umat di paroki ini juga mengikuti perayaan misa Minggu Palma dari rumah, pastor hanya memberikan pemberkatan terhadap daun palma yang disediakan umat.

Sementara umat katolik di paroki Kumba, tepatnya di kota Ruteng ibu kota kabupaten Manggarai juga mengadakan misa serupa.

Daun-daun palma disediakan warga sementara pastor paroki Kumba bekeliling memberkati daun palma.
Pastor paroki Mbata Romo Bernad Parus tampak berkeliling memberkati daun Palma, Foto/Congkasae.com

Ini jadi pertama kali dalam sejarah, umat tidak ke gereja pada hari raya keagamaan. Meski Covid-19 memang belum resmi teridentifikasi di wilayah NTT.

Namun otoritas pemerintah serta gereja di provinsi itu telah memberlakukan larangan berkumpul untuk mengantisipasi sebaran virus flu Wuhan itu.

Warga Semakin Paranoid
Wabah covid-19 yang telah menjalar ke sejumlah negara dan menyebabkan banyak korban jiwa rupanya menjadi momok yang menakutkan bagi warga NTT.

Di daratan Flores, tepatnya di Manggarai Timur, sekelompok warga terpaksa mengungsi ke kebun menyusul masuknya pendatang baru yang datang dari luar daerah.

Warga khawatir dengan wabah covid-19 yang diduga dibawa oknum tersebut. Mereka meminta oknum bersangkutan segera memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit.

Permintaan itu lantas direspons dengan melakukan isolasi mandiri di kebun yang dilakukan oleh oknum bersangkutan.

Pemerintah kabupaten Manggarai Timur berencana menyiapkan ruang isolasi di rumah sakit umum daerah. Hal itu dikatakan bupati Manggarai Timur Agas Andreas kepada Manggarai Timur TV belum lama ini.

“Jadi kita akan siapkan rumah sakit umum daerah sebagai tempat isolasi bagi ODP ini, soalnya isolasi mandiri selama ini tidak terjamin,”demikian bupati Manggarai Timur Agas Andreas kepada Manggarai Timur TV di Borong.

Terkait ketakutan dan kekhawatiran berlebih yang dialami warganya, bupati Agas meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi wabah ini.

Sementara itu Pemkab Manggarai juga berencana melakukan pembatasan akses masuk terhadap kapal-kapal yang bersandar di plabuhan Kedindi Reok.

Langkah ini diambil menyusul adanya laporan ditemukannya pendatang dari luar yang bersandar di pelabuhan itu dengan suhu tubuh di atas rata-rata.

Sementara bupati Manggarai Barat melalui surat yang ditandatangani wakil bupati Maria Geong sebelumnya telah meminta pemerintah pusat untuk menutup operasi Bandara Komodo serta pelabuhan penumpang di Labuan Bajo, namun permintaan itu tidak disetujui pusat.

Paskah Tanpa Kehadiran Umat
Selain Minggu Palma, paskah tahun ini juga dilakukan tanpa kehadiran umat di gereja, dalam surat edaran yang dikeluarkan keuskupan Ruteng gereja meminta umat untuk tetap mengikuti misa dari rumah yang disiarkan secara live streaming.

Sementara di paroki yang jauh dari akses telekomunikasi, perayaan paskah tetap dilaksanakan dengan hanya diikuti oleh beberapa orang saja di gereja.

Sementara umat dapat mengikuti perayaan paskah tahun ini dari pengeras suara yang disediakan gereja. Ini benar-benar paskah pertama yang digelar tanpa kehadirian umat di gereja.

Paskah adalah momen dimana setiap umat katolik mengikuti kisah sengsara yang dialami Yesus mulai dari perjamuan terakhir yang dilakukan pada malam kamis putih, peristiwa penyaliban dan kematian Yesus pada Jumat Agung, serta kebangkitan Yesus yang dilaksanakan pada Malam Paskah dan hari raya Paskah.

Dalam perayaan ini, umat Katolik selalu memadati gereja-gereja untuk mengikuti perayaan misa.
Namun pasca wabah Corona, untuk pertama kali gereja-gereja di Flores merayakan tri hari suci ini tanpa kehadiran umat di gereja.

Penulis: Berto Jahang
Editor: Antonius Rahu

No comments:

Post a Comment