Social Distancing Tidak Mempengaruhi Nilai Lejong - Congkasae.com

News Update

03 April, 2020

Social Distancing Tidak Mempengaruhi Nilai Lejong

Budaya Lejong di Manggarai, Foto Adepuitra Moses, Ekora/Congkasae.com


[Congkasae.com/Kreba] Dalam upaya menangani wabah virus corona yang semakin meluas, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan sebagai langkah antisipatif menekan laju penyebaran wabah Wuhan itu di Indonesia.

Salah satu aturan yang diterapkan pemerintah adalah dengan menerapkan social distancing alias pembatatasan sosial bagi masyarakat.

Aturan ini sudah mulai diterapkan dalam beberapa minggu belakangan ini.

Pemerintah meminta masyrakat untuk melakukan isolasi secara mandiri dengan mengurangi aktifitas di luar rumah, agar membantu pemerintah dan sesama untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus covid-19.

Namun rupanya aturan ini perlu diseusaikan dengan budaya lokal masyarakat setempat salah satunya di Manggarai, Flores, NTT.

Sebagai orang Manggarai tentunya kita mengenal budaya Lejong (lejo dalam bahasa Rongga) yakni sebuah budaya yang sudah lama hidup di masyarakat.

Lejong sendiri diartikan sebagai ajang untuk bertegur sapa atau juga berdiskusi dan berbincang-bincang yang biasanya dilakukan pada waktu senggang, seperti  sore atau pagi hari.

Jika kita kaitkan kebijakan social distancing yang diterapkan pemerintah dengan budaya lejong, tentunya sangat bertentangan.

Untuk mengetahui persepsi dari tokoh adat terkait kebijakan ini, congkasae.com menyambangi kediaman Stanislaus Mujur yang merupakan salah satu tokoh adat di kisol, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Kepada Congkasae.com Stanislaus Mujur sangat mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menghimbau masyrakat untuk membatasi aktifitas yang mengundang perkumpulan orang banyak.

"Pemerintah telah mengambil satu langkah konkret dengan membuat kebijakan yang sangat tepat karena ini berkaitan dengan keselamatan jutaan masyrakat Indonesia. Lebih baik mencegah dari pada mengobati," ungkapnya di Kisol Manggarai Timur baru-baru ini.

Menurutnya kebijakan ini sama sekali tidak mengurangi esensi dari lejong/lejo (bahasa Rongga) itu sendiri.

Pasalnya, kata dia, masyrakat juga masih bisa beraktifitas di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer dan sekedar berdiskusi ringan.

"Kebijakan ini sama sekali tidak mengurangi nilai lejong karena masyrakat tentunya melakukan aktifitas kecil-kecilan, seperti pergi belanja di kios sambil sempat berinteraksi dengan pemilik kios dan ngopi sore bersama tetangga sambil membicarakan seputar update berita corona."

" Itu juga merupakan contoh lejong, makanya saya melihat bahawa kebijakan ini tidak mengurangi nilai lejong,"tambah Stanislaus Mujur.
.
Stanislaus Mujur tokoh adat Rongga, Foto Marselino Ando/Congkasae.com 

Meskipun interaksi lejong masih tetap nampak dalam situasi seperti sekarang, Stanislaus Mujur  meminta masyrakat untuk selalu waspada dengan menjaga jarak dalam berkomunikasi serta mengikuti himbauan medis.

Dampak wabah corona memang sudah mulai dirasakan oleh masyarakat di daratan Flores, beberapa hari belakangan ada warga kampung yang terpaksa mengungsi ke kebun, menyusul kedatangan orang dari luar daerah ke kampung tersebut.

Warga mengkhawatirkan dampak flu Wuhan yang dibawa orang tersebut, untuk itu warga kampung meminta pemerntah untuk segera melakukan test terkait wabah Corona kepada yang bersangkutan.

Sementara itu, kepala daerah setempat, dalam himbauannya meminta masyarakat Manggarai Timur untuk segera menghubungi pihak medis jika menemukan ada gejala yang mengarah pada Covid-19.

Penulis: Marselino Ando
Editor: Antonius Rahu

No comments:

Post a Comment