Bukannya Larang, Tapi Sebaiknya Perantau NTT jangan Pulang Dulu - Congkasae.com

News Update

02 April, 2020

Bukannya Larang, Tapi Sebaiknya Perantau NTT jangan Pulang Dulu

***Oleh Antonius Rahu***

Wabah corona Virus atau yang sering dikenal dengan sebutan Covid-19 terus meluas di tanah air.

Meski pemerintah secara cepat telah mengambil langkah antisipatif untuk meredam laju penyebaran virus ini dengan merumahkan anak sekolah serta menggalang kegiatan social distancing, namun wabah ini tetap menjalar ke seluruh pelosok negeri.

Dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, 32 diantaranya masuk dalam zona merah alias daerah terpapar virus, sementara hanya 2 Provinsi yang hingga kini masih berstatus zona hijau alias belum terpapar corona.

Kabar baiknya datang dari provinsi Nusa Tenggara Timur, meski di provinsi kepulauan itu jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP)terkait wabah covid-19 sudah menembus angka ratusan, namun belum ada satu pun kasus yang berstatus positif covid-19.

Kabar ini sekaligus menempatkan provinsi kepulauan itu masuk dalam kategori zona hijau, untuk menjaga wilayahnya dari sebaran virus covid-19, beberapa kepala daerah di NTT telah mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat.

Salah satu poin penting dalam permohonan yang diajukan yakni terkait permintaan penutupan bandara dan pelabuhan sebagai akses pintu masuk ke wilayah itu.

Namun opsi itu rupanya masih dipertimbangkan oleh pemerintah pusat, pemerintah dalam hal ini enggan terburu-buru dalam mengambil langkah penutupan akses apa lagi sampai melakukan lock down.

Perantau Berpotensi sebagai Carrier
Merujuk pada data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) jumlah perantau yang hilir mudik dengan pesawat terbang saja per Februari 2020 saja sebanyak  131.370 orang.

Sementara jumlah keberangkatan dari seluruh bandara di provinsi itu pada bulan yang sama sebanyak 139.946 orang.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa lalulintas orang yang hilir mudik dengan pesawat terbang saja di provinsi itu sudah begitu banyak.

Jumlah itu belum terhitung dengan kedatangan dan keberangkatan dengan menggunakan kapal laut yang diestimasi jauh lebih besar lagi.

Rata-rata para perantau asal NTT memang tersebar di seluruh pelosok Nusantara, hingga ke Negara-negara tetangga.

Para perantau asal bumi Flobamora (sebutan untuk NTT) tersebar di beberapa provinsi di tanah air mulai dari Bali, DKI Jakarta, hingga ke Kalimantan, Sumatera bahkan Papua.

Jika pada perayaan Paskah sebagai hari besar keagamaan Kristiani yang jatuh pada 10 April mendatang para perantau ini memutuskan pulang kampung, maka hal itu akan berdampak pada jumlah pasien ODP bahkan PDP di provinsi kepulauan itu.

Pasalnya kita semua tidak mengetahui riwayat perjalanan mereka sebelum tiba di NTT. Bisa saja perantau ini awalnya masih sehat bugar sebelum melakukan perjalanan, akan tetapi dalam perjalanan mereka melakukan kontak fisik dengan ODP atau PDP.

Maka ini akan jadi celah bagi covid-19 untuk masuk ke wilayah NTT. Di tambah lagi dengan minimnya alat deteksi covid-19 yang ada di NTT, maka perantau ini akan lolos hingga ke pelosok daerah katakanlah di kampung halamanya.

Di kampung selama 14 hari orang ini akan berinteraksi dengan sesama warga karena masih belum memiliki gejala apapun, maka dia akan lengang menyebarkan virus yang dia sendiri tidak tahu jika sudah terpapar.

Tibalah waktunya bagi covid-19 untuk menunjukan eksistensinya yang ditandai dengan batuk pilek dan sederet gejala awal Covid-19 lainnya.

Maka penduduk sekitar masih menganggap itu sebagai gejala flu biasa, hingga akhirnya pendatang baru di desa tersebut dinyatakan positif covid-19, maka ibarat bom waktu bagi yang lain terutama mereka yang telah melakukan kontak fisik dengan pendatang baru ini.

Di tengah kepanikan dan ketidakberdayaan akibat minimnya akses ke fasilitas kesehatan maka covid-19 telah berhasil menaklukkan tembok pertahanan NTT yang masih berstatus bebas corona.

Covid-19 telah berhasil menaklukan benteng pertahanan NTT dengan strategi grilia dan menyusup masuk ibarat strategi perang dunia II.

Kini covid-19 menyerang warga mulai dari pedalaman, dari daerah pelosok yang minim fasilitas kesehatan, semoga kemungkinan ini tidak sampai terjadi di NTT.

Peran Aparat Desa Sangat Diperlukan
Dalam menangkal serangan wabah mematikan covid-19 ini, memang diperlukan peran serta dari kita semua. Mulai dari diri sendiri, kelompok hingga pemerintah.

Covid-19 adalah musuh kita bersama yang wajib diperangi, semua elemen masyarakat haruslah satu suara dalam memerangi laju penyebaran covid-19.

Langkah pencegahan hingga pengobatan serta penguburan bagi korban covid-19 haruslah dimulai dari RT/RW sebagai garda terdepan dalam struktur sosial kemasyarakatan.

Dalam kaitannya dengan langkah pencegahan, aparatur desa dan kelurahan haruslah sigap dalam mendata setiap warga yang baru tiba dari perantauan, atau tempat yang jauh.

Aparat desa harus memiliki peraturan kekarantinaan kepada siapa saja yang masuk ke wilayah desa atau kelurahannya.

Hal ini perlu dilakukan agar para pendatang baru tidak diberi ruang untuk berinteraksi atau bersentuhan secara fisik dengan warga desa yang masih sehat.

Pertanyaannya adalah adakah desa yang sudah menerapkan pola seperti itu untuk menangkal serangan virus mematikan covid-19?

Semoga saja sudah ada, sehingga desa akan benar-benar jadi ujung tombak dalam memerangi wabah covid-19 yang datang menghantui kita.

Kabar baiknya untuk masyarakat NTT adalah hingga saat ini provinsi kepulauan itu masih bertahan di zona hijau tanpa adanya laporan terinveksi virus.

Lantas ini bukan berarti kita berleha-leha dalam menjaga kedaulatan wilayah dari serangan covid-19. Kita semua harus bekerja lebih keras lagi, lebih sungguh-sungguh agar status ini tetap dipertahankan hingga wabah covid berakhir.

Kita tidak mau mati konyol hanya karena lengah dalam menghalau serangan covid-19 di provinsi kita yang tercinta ini.

Karenanya mari, sama-sama kita bergandengan tangan, satukan tekad perang melawan wabah covid-19 sampai titik darah penghabisan.

Memang Sebaiknya Jangan Pulkam Dulu
Mendengar kabar yang beredar di beberapa media masa khususnya di wilayah Flores, orang jadi takut dengan kedatangan orang baru.

Bahkan kabarnya di beberapa kampung di daratan Flores, ada warga kampung yang langsung mengungsi ke kebun, menyusul masuknya orang baru yang merupakan warga kampung itu juga.

Orang ini baru tiba dari luar daerah, di tengah heboh pandemic covid-19 lantas warga kampung memilih hijrah ke kebun semua.

Ini tidak bisa disalahkan juga, karena warga rupanya sudah paham dengan ganasnya covid-19 yang telah menelan korban jiwa di kota-kota besar.

Dari kasus ini kita bisa mengambil langkah antisipatif sebenarnya yakni jika tidak penting-penting amat, sebaiknya jangan dulu pulang kampung alias Pulkam.

Pasalnya kita tidak pernah tahu selama dalam perjalanan kita terpapar virus atau tidak.

Bisa jadi ketika berangkat awal kita tidak terpapar tapi selama dalam perjalanan katakanlah di pesawat atau kapal laut kita berdekatan dengan PDP, maka ini akan jadi celah bagi covid-19 untuk mengikuti kita ke kampung.

Nah di tengah situsi yang tidak menentu seperti saat ini, berdiam diri adalah pilihan yang tepat. Meski memang berdiam diri tanpa penghasilan adalah neraka kecil yang kelihatan.

Pasalnya di beberapa kota besar usaha, pabrik dan kegiatan lainnya sudah dibatasi ini tentu saja berimbas bagi karyawan yang disebut-sebut mulai dirumahkan.

Tapi sebaiknya memang tidak pulang kampung dulu, mengingat bahaya laten yang dibawah virus Covid-19.

Penulis merupakan pemerhati budaya, saat ini menetap di Labuan Bajo Flores.

No comments:

Post a Comment