Aku Menunggumu Sampai Corona Berlalu - Congkasae.com

News Update

06 May, 2020

Aku Menunggumu Sampai Corona Berlalu


***Sebuah Cerpen karya Ingrida Santriana Nice***

Panggil saja aku Reni, gadis desa yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di rumah. Ramah, dan pendiam, itulah aku.

Oh ia, aku hanyalah gadis biasa, lulusan SMA  tiga tahun yang lalu. Aku memiliki seorang teman dekat, lebih dekat lagi kusebut dia kekasih. 

Namanya Rio, seorang pemuda tampan dari desa tetangga yang sangat aku cintai.
Tali cinta dan kasih antara kami, sudah terjalin cukup lama, yah sejak kita duduk di bangku kelas XI.

Sejak lulus SMA, Rio memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu kota di Sulawesi, dan aku lebih memilih untuk tidak melanjutkan karena beberapa alasan yang aku pikir semuanya masuk akal, diantaranya keadaan ekonomi keluargaku.
Janji untuk tidak saling melupakan terucap saat itu.

Jarak bukanlah halangan untuk kita tak saling mencintai lagi, apalagi menjadikannya alasan untuk tidak saling memberi kabar. 

Setiap hari selalu berusaha menyempatkan diri berkomunikasi via suara, untuk sekadar bertukar sapa, atau berbagi cerita tentang kegiatan masing-masing. 

Bermodalkan rasa percaya menurut kami itu adalah kunci hubungan agar tetap langgeng.

Benar kata Dilan kalau rindu itu berat. Itulah yang sedang aku rasakan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bila waktu liburan akhir semester tiba, Rio selalu pulang kampung untuk bertemu dan melepas rindu bersama keluarganya dan pastinya datang ke rumah untuk menemuiku.

Liburan kali ini, Rio tidak pulang. Apalagi semenjak virus corona ini merajai indonesia. Semua jalur transportasi sementara ditutup, membuatnya semakin lama menetap di kota itu.

"Tuhan, aku sudah terlalu rindu, aku ingin bertemu kekasihku"gumamku.

Panggilan masuk itu mengagetkan aku dari lamunan, deringan nada ponselku terdengar cukup keras di indera pendengaranku. 

Ternyata Rio menelponku. Tanpa basa-basi, Rio berkata padaku "Enu, liburan kali ini aku tidak pulang e, coo gi ta enu? Aku poli janji kudut cumang ite, landing co mole di, daat bail panden corona hoo ga"

"De nana, tidak apa-apa, enu selalu sabar di sini, asalkan nana tetap ingat janji di sana, enu tidak kemana-mana, apalagi hatinya enu.

Enu akan sabar menunggu nana sampai corona ini berlalu, dan kita segera bertemu". ucapku dengan suara lirih saat itu.



No comments:

Post a Comment