Mencintai di Waktu yang Salah - Congkasae.com

News Update

13 May, 2020

Mencintai di Waktu yang Salah


***Cerpen Karya Ingrida Santriana Nice***

Ayu namaku. Mahasiswa semester akhir di salah satu Perguruan Tinggi di kotaku.

Setiap hari kuhabiskan waktu di kampus, tahulah bagaimana sibuknya mahasiswa semester akhir,  sibuk dengan skripsi yang lumayan menguras pikiran dan tenaga.

Pagi itu aku menyusuri lorong kampus, berjalan menuju perpustakaan. Aku benar-benar sendiri.

Aku berjalan dengan begitu semangatnya. Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku kaget, sumpah.

Spontan kumembalikkan badan. Ada tatapan mencengangkan disana.   Ternyata itu seorang pria tampan. Yang menyambut mataku dengan senyum termanisnya.  "Tuhan,, makhluk apalagi ini?" aku membatin sedikit lebay.

Aku tidak mengenalnya. Yang jelas tujuan kita pagi itu sama, yaitu sama-sama menuju perpustakaan. Oh ia, belum ada perbincangan di sana.

Sesampainya di perpustakaan, aku memutuskan untuk berdiri di depan pintu dulu. Sedangkan pria itu langsung menerobos masuk, tanpa permisi apalagi menyapa si Bapak pegawai perpustakaan. 

Langkahnya terhenti sejenak. Seperti ada yang aneh. Tengok kiri kanan seperti orang kebingungan.

Wahh. Aku kedapatan telah diam-diam mencuri pandang. Bagaimana tidak, pria itu berbalik arah, berjalan ke arahku.

"Hei, kok kamu tidak masuk? Siapa yang sedang kamu tunggu?" tanyanya dengan raut wajah heran namun tampak semakin tampan.

Aku diam cukup lama, tanpa jawaban. "Ayolah masuk," katanya lagi sembari menggapai tanganku lalu digandengnya.

Jujur, jantungku saat itu detaknya sudah tak karuan, lebih cepat dari biasanya.
Maklum, baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Hehehe

Aku mengiakan ajakkannya. Lalu kami memilih duduk di bangku dekat pojok di ruangan berbuku itu.
Duduknya berhadapan pula. Jantungku detaknya semakin tidak karuan.

Aku tidak bisa mengingkari jika aku sudah menaruh rasa pada pria itu tepat pada pandangan pertama. Yah. Aku jatuh cinta.

"Oh ia, kita belum kenalan. Aku Dody," ucapnya sembari mengulurkan tangannya. "Aku Ayu," balasku sembari mengulurkan tanganku, menyambut tangannya sebagai tanda awal perkenalan.
Setelahnya kami bercngkerama cukup lama.

Hari sudah terlalu siang, sebab waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. 

Hari itu aku benar-benar mendadak jadi pelupa. Aku lupa tujuan utamaku ke perpustakaan.
Bahkan buku dan laptopku tak kukeluarkan dari ranselku.

Ini semua gara-gara aku lama bercengkerama dengan Dody pria tampan itu.

Aku sudah merasakan tanda-tanda lapar, lalu aku memutuskan untuk pulang saja. "Dody, kamu belum pulang?" tanyaku sembari menggeserkan bangku yang tadinya kududuki, dan perlahan berdiri.

"Belum Ayu. Kamu duluan, aku masih ada urusan lain setelah ini." jawabnya.

Mendengar itu aku langsung berjalan meninggalkannya dan kupercepat langkahku..
Sekian cerita hari itu.

Keesokkan harinya, aku ke kampus lagi, aku berharap bertemu Dody kembali.

Rupanya hari itu Tuhan berpihak padaku. Sesampainya aku di kampus, aku melihat Dody sedang duduk di taman. Dari jarak yang lumayan dekat, kulihat dia hanya berteman ponsel yang saat itu sedang berada di genggamannya.

Meski tak sempat bertukar sapa, aku sangat bahagia. Sebab aku masih bisa menatap dan menikmati senyum manisnya.

Aku pun sesekali  ikut tersenyum, aku semakin memeluk erat buku yg saat itu ada dalam pelukkanku.

Ingin sekali bercengkrama dengannya lagi.
Tetapi tidak lama kemudian, kulihat ada sosok perempuan cantik datang menghampiri Dody. Sungguh cantik.

"Siapa perempuan itu?" aku membatin.

Sepertinya bukan teman, dari cara Dody menyambut kedatangannya sudah jelas berbeda. Dody terlihat sangat senang dengan kedatangan perempuan itu. Aku yakin itu adalah kekasih hatinya.

Dia beranjak dari tempat duduknya, menyambut perempuan itu dengan bahagia, dan kulihat tangannya membelai lembut mesra rambut perempuan itu. Ada tawa bahagia di paras keduanya.

Jujur, aku sakit hati melihatnya. Ingin rasanya aku menangis. Tapi ya sudahlah, aku harus bisa membendung air mataku.

Aku tidak bisa lagi mengingkari, bahwa aku telah seutuhnya mencintai Dody setelah perjumpaan di perpustakaan itu.

Aku sadar, aku mencintainya di waktu yang salah, di saat Dody telah ada yang memiliki.

Sejak saat itu, kuluruhkan semua harapku tentang memiliki.
Namun untuk berhenti mencintainya, sungguh tak semudah sekali mengedipkan mata.

Aku siap dengan segala konsekuensi dari keputusanku mencintai Dody. Yaitu tidak akan pernah memiliki, dan akan patah hati.

"Aku tetap mencintainya meski aku luka, sebab pergi darinya belum tentu aku bahagia."aku  kembali membatin. Dengan langkah tertatih, kulanjutkan perjalananku menuju perpustakaan.

No comments:

Post a Comment