Crossway di Watu Mori Ambruk Lagi, Pengendara Dipalak Jika Melintas - Congkasae.com

News Update

close
Dukung kami dalam menyajikan karya yang Independen dan berkualitas
Donasi bisa dikirim ke No Rek BRI 4720-01-001-453-53-7, Hubungi kami di 082 342 994 060

 


5 Des 2021

Crossway di Watu Mori Ambruk Lagi, Pengendara Dipalak Jika Melintas

 

Namun kendaraan yang melintas harus membayar ongkos sebesar 10.000 rupiah jika melintasi jembatan titian itu. Warga berharap pemerintah Manggarai Timur segera turun ke lokasi untuk memperbaiki Crossway itu.

[Congkasae.com/Kereba] Salah satu Crossway yang terletak di desa Watu Mori Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur dikabarkan ambruk, menyusul banjir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah itu belum lama ini.


Ambruknya Crossway di desa Watu Mori itu dikeluhkan warga yang berasal dari tiga desa seberang seperti desa Torok Golo, Desa Satar Lahing dan Desa Lalang.


Salah satu Pendamping Desa Fransiskus Leu Rahalaka mengatakan jika Crossway itu merupakan satu-satunya akses masuk ke tiga desa dimaksud.


"Jembatan rusak parah,"kata Fransiskus Rahalaka sebagaimana dikutip laman Flores Merdeka Minggu (5/12).


Ia mengatakan akibatnya akses keluar masuk warga ke tiga desa itu menjadi terhambat. Warga sekitar Crossway itu terpaksa membuat jembatan titian menggunakan material kayu dan bambu seadanya agar kendaraan roda dua bisa melintas.


"Warga terpaksa membuat jembatan dari bambu biar kendaraan khusus roda dua bisa melintas,"tambahnya.


Namun kendaraan yang melintas harus membayar ongkos sebesar Rp. 10.000 jika melintasi jembatan titian itu. Warga berharap pemerintah Manggarai Timur segera turun ke lokasi untuk memperbaiki Crossway itu.


Aksi mengumpulkan uang dari usaha memperbaiki fasilitas publik semacam itu kerap ditemui di wilayah Manggarai Timur.


Sebelumnya aksi serupa juga dilakoni warga di Kali Wae Mokel perbatasan antara desa Mokel Morid dan desa Paang Leleng kecamatan Kota Komba Utara.


Warga yang membuat jembatan penghubung di sungai Wae Mokel itu kerap meminta ongkos yang disebut-sebut sebagai upah atas apa yang mereka lakukan yakni memperbaiki fasilitas publik itu.


Dalam penelusuran media ini dana yang dikumpulkan itu juga masuk ke kantong pribadi sang pelaku.


Penulis: Tonny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar