mengapa orang manggarai itu ramah? - Congkasae.com

News Update

31 July, 2016

mengapa orang manggarai itu ramah?


foto bersama Mahasiswa Asal Manggarai
Satu hal yang dibanggakan menjadi orang manggarai adalah, orang manggrai itu terkenal dengan keramahan, keramah-tamahan ini mencerminkan
budaya yang berlaku di manggarai.seperti halnya budaya di indonesia pada umumnya di manggarai ada beberapa faktor yang mendukung alasan mengapa orang manggarai itu ramah diantaranya dapat dilihat dari aspek hubungan kekerabatan antar sesama yang di uraikan seperti berikut ini.
1.berdasarkan hubungan perkawinan 
Sistem kekerabatan berdasarkan hubungan perkawinan dapat dipahami sebagai hubungan seorang individu dengan istri yang juga menghubungkan saudara-saudari kandung kedua-belah pihak. Secara umum ada dua istilah yang menekankan aspek perkawinan dalam budaya Manggarai yaitu:
a.Wa’u/ase kae
Wa’u/ase ka,e adalah keluarga kerabat yang terbentuk berdasar keluarga patrilineal (garis keturunan ayah), baik yang hidup dalam satu kampung maupun yang hidup terpencar-pencar karena pendidikan, tugas, dll. Dalam keluarga bahwa semua anak laki-laki disebut ata one atau ata wone dalam bahasa manus (orang dalam).

 Anak laki-laki disebut ata one /ata wone, karena tergolong keluarga patrilineal. Setelah anak lak-laki kawin, ia tetap tinggal pada kampung kelahirannya, kampung orang tua kandungnya sendiri. Ada juga anak laki-laki yang setelah kawin tinggal pada kampung kelahiran istrinya tetapi ia tetap disebut ase ka,e/wa’u oleh anggota patrilinealnya (saudara laki-laki lain di marga orang tua kandungnya. 
Hubungi kami di WA 082342994060 untuk pemasangan Iklan

saudara yang setelah menikah menetap di rumah istrinya/pada marga orang tua kandung istri disebut ase ka,e ata ka,eng olo/ase kae ata ka,eng pe,ang tapi di manggarai timur ini di sebut ata ka,eng wone anak rona (keluarga kerabat patrilineal yang tinggal di luar).
b.Woe nelu
Woenelu adalah keluarga kerabat yang terbentuk atas dasar hubungan perkawinan antara kedua keluarga kerabat, anak rona (keluarga kerabat pemberi istri) dan anak wina (keluarga penerima istri). Istilah woe nelu adalah gambaran kedekatan hubungan antara keluarga anak rona dengan anak wina. Hubungan ini tidak bersifat temporer (salang tuak), melainkan bersifat kekal (salang wae).
Dalam masyarakat Manggarai, ada tiga cara yang mengatur sistem perkawinan, yakni:
a.   Perkawinan Tungku/tuku(bahasa manus)
Perkawinan jenis ini juga disebut crosscousin unilateral. Tungku/tuku adalah bentuk perkawinan dengan tujuan mempertahankan hubungan woe nelu, hubungan antara anak rona dengan anak wina yang sudah terbentuk akibat perkawinan cangkang

Laki-laki dan perempuan yang melakukan kawin tungku biasa disebut laki one dan wai leleng one.Pemuda yang laki one dapat berarti pria yang kawin tungku, juga berarti perkawinan terjadi di dalam atau di sekitar kampung asalnya.Demikian pula terhadap wanita yang wai leleng one. Berbicara tentang paca untuk orang yang laki one dan wai leleng one tergantung pada jenis tungku.
1.Tungku cu
Tungku cu adalah perkawinan yang terjadi antara anak laki-laki dari saudari kandung  dengan anak perempuan dari saudara kandung. Karena begitu kuatnya penerapan dan pemahaman perkawinan jenis ini, maka kalau anak wina hendak mengadakan tungku maka berarti perkawinan tungku yang dimaksud adalah antara anak kandung dari saudari perempuan dengan anak kandung dari saudara kandung laki-laki. 

Perkawinan jenis ini dilakukan dengan tujuan agar harta kekayaan dalam keluarga tidak jatuh ke tangan orang lain. Namun saat ini Gereja katolik melarang keras diadakanya perkawinan jenis ini karena alasan genetika.
2.Tungku/tuku neteng nara
Tungku/tuku neteng nara merupakan perkawinan yang ada hubungan darah antara anak dari perempuan sepupu dengan anak dari saudara laki-laki sepupu.
3.Tungku/tuku  anak rona musi
Tungku anak rona musi merupakan perkawinan hubungan darah dengan keluarga  pemberi istri mertua laki-laki. Dalam segi adat Manggarai perkawinan ini bukan perkawinan tabu tetapi perkawinan ini dianggap melangkahi anak rona dungka. Perkawinan jenis ini sah secara adat.
b.Perkawinan Cangkang
Cangkang adalah bentuk  perkawinan yang terjadi di luar suku atau perkawinan antarsuku. Dalam bahasa adatnya disebut laki pe’ang (anak laki-laki yang kawin di luar suku) atau wai pe’ang (anak wanita yang kawin di luar suku). 

Orang yang laki pe’ang atau wai pe’ang membuka jalur hubungan baru dengan suku-suku lain. Dengan itu keluarga besar memiliki jangkauan hubungan yang  lebih lebar dan luas dengan woe nelunya(woe nelu merupakan keluarga kerabat yakni anak wina dan anak rona)

Dari praktek orang tua dulu, orang yang laki pe’ang bukan sembarang orang. Biasanya dari kalangan keluarga yang mampu membayar belis karena berhubungan dengan harga diri dan martabat dari kedua belah pihak, antara keluarga pria dan wanita.
c.Perkawinan Cako/perkawinan sako,o(bahasa manus)
Cako/sako,o adalah bentuk perkawinan yang terjadi dalam suku sendiri. Biasanya dilakukan pada anak laki-laki dari keturunan adik dan anak perempuan dari keturunan kakak. Kawing cako juga berarti perkawinan anak saudara sepupu dalam garis patrilineal dan antara sesama keluarga kerabat anak wina (keluarga penerima istri). Disebut juga sebagai perkawinan cako cama tau

Perkawinan cako biasanya orang tua mulai mencobanya pada lapisan ketiga atau lapisan keempat dalam daftar silsilah keluarga. Karena menurut adat Manggarai, tidak semua perkawinan cako direstui Mori agu ngaran (Tuhan Pencipta). Orang Manggarai percaya bahwa Tuhanlah yang menentukan apakan perkawinan itu direstui atau tidak. 

Ada bukti bahwa perkawinan cako tidak direstui, bahwa kedua insan yang menikah itu mati pada usia muda sebelum memperoleh anak.Perkawinan cako cama salang artinya perkawinan yang dilangsungkan dengan sesama anak wina. Dalam konteks ini belis tidak dituntut sesuai dengan kemampuan kita. 

Berlaku ungkapan tama beka salang agu beka weki(yang terpenting terjadi hubungan kekeluargaan). Istilah-istilah yang ada pada sistem kekerabatan berdasarkan hubungan perkawinan  ini adalah:
a.Anak rona dan anak wina
Dalam konteks budaya Manggarai yang dimaksudkan anak rona adalah pihak pemberi istri atau keluarga asal istri, sedangkan anak wina merupakan sebutan untuk keluarga dari pihak suami.
b.Kesa dan ipar
Kesa/eza(bahasa manus) merupakan panggilan untuk saudara dari istri, sedangkan ipar merupakan panggilan untuk saudari dari suami.
c.Inang dan amang/lopo nina dan mekas mama(dalam bahasa manus)
Inang/lopo nina  merupakan panggilan untuk mama mantu, sedangkan amang/mekas mama merupakan panggilan untuk bapa mantu.
d.Wina dan rona
Wina merupakan panggilan untuk seorang istri oleh suaminya, sedangakan rona merupakan panggilan untuk seorang suami oleh istrinya.
2.    Berdasarkan Hubungan Keturunan
Sistem kekerabatan berdasarkan hubungan keturunan  merupakan hubungan seorang individu dengan istri dan anak-anak kandungnya sendiri. Dalam masyarakat Manggarai, ada beberapa istilah yang berhubungan dengan sistem kekerabatan ini, yakni:
a.Ema
Ema merupakan panggilan untuk seorang ayah oleh anak-anaknya.
b.Ende
Ende merupakan panggilan untuk seorang ibu oleh anak-anaknya.
c.Nana
Nana merupakan panggilan untuk anak laki-laki oleh orang tuanya.
d.Enu
Enu merupakan panggilan untuk anak perempuan oleh orang tuanya.
3 . Sistem Kekerabatan Berdasarkan Hubungan Darah
Sistem kekerabatan berdasarkan hubungan darah merupakan hubungan seorang individu dengan saudara-saudari kandungnya. Dalam masyarakat ada beberapa istilah yang terdapat dalam sistem ini, yakni:
Nara
Nara  merupakan panggilan untuk saudara oleh saudarinya.
Weta
Weta merupakan panggilan untuk seorang saudari oleh saudaranya.
Ase
Ase merupakan panggilan untuk seorang adik oleh kakanya.
Kae
Ka,e merupakan panggilan untuk seorang kakak oleh adiknya.
Secara umum, beberapa istilah yang dikenal dalam sistem kekerabatan Manggarai antara lain  anak rona (turunan keluarga mama), anak wina (turunan keluarga saudara perempuan), amang/mekas mama (saudara lelaki mama), inang/lopo nina  (saudara perempuan bapak), ema koe/ema koa (adik dari bapak), ema tua/ema gga,e (kakak dari bapak), ende koe/ende koa (adik dari mama), ende tua/nde ngga,e (kakak dari mama), ema (bapak), ende (mama), kae (kakak), ase (adik), nana (saudara lelaki), dan enu (saudara wanita atau istri).
Dari beberapa bentuk kekerabatan yang di uraikan oleh penulis di atas semuanya itu menunjukan hubungan kekerabatan yang terjalin antara sesama orang manggarai, sehingga tidaklah mengherankan jika orang manggarai itu terkenal dengan keramahanya, ini sekaligus menjadi dasar bagi setiap orang dalam membina hubungan yang baik antara sesamanya. 

 penulis: Mahasiswa Tingkat Akhir Jurusan Pendidikan Matematika IKIP PGRI Bali

No comments:

Post a Comment