Menelusuri Warisan Leluhur Kempo Manggarai Barat - Congkasae.com

News Update

23 January, 2017

Menelusuri Warisan Leluhur Kempo Manggarai Barat





Ketika Anhar Gonggong berbicara di depan acara Seminar dan Dialog Budaya dalam rangka kegiatan Festival Keraton Nusantara IX-2014 yang berlangsung di Paruga Na’e Kota Bima, tanggal 8 September 2014 silam, beliau dengan berapi-api menjelaskan bahwa kebudayaan harus dipelajari. Di dalamnya, banyak jenisnya.


Salah satunya adalah tradisi lisan pada zamannya yang merupakan kristilisasi pemikiran positif masyarakat pendukungnya. 

Menurut Anhar Gonggong,yang sejarawan itu, kebudayaan harus dimaknai secara utuh melalui sejarah, sebab nilai yang terkandung dalam kebudayaan dianggap tidak pernah menanamkan bibit konflik terhadap masyarakat. 

Itu pernah ada di zaman kerajaan/kesultanan tempo dulu. 

Iya, itulah sebabnya pada zaman lalu, banyak yang datang ke pusat kerajaan/Kesultanan untuk belajar ilmu yang positif, dan setelah kembali ke kerajaannya dia aplikasikan nilai-nilai tersebut di kerajaannya, demi langgengnya kebersamaan di dalam kerajaan termasuk hubungan dengan masyarakat dalam kerajaan/kesultanan.

Namun untuk sekarang, fakta riil menunjukkan bahwa orang lebih berusaha memperoleh kecrdasan saja tanpa memperhitungkan apakah ilmunya sudah tercerahkan atau terpahami oleh warga masyarakat, nampaknya tak terpikir oleh orang yang menyatakan dirinya pintar. 

Nah, ketika itu terjadi, berarti, ada kendala yang terjadi. Oleh karena itu, perlu ada solusi, sebagai langkah praktis mengantisipasi masalah. 

Anhar meminta peserta seminar, agar lebih cerdas dan lebih jernih memahami dan memaknai kebudayaan di daerahnya, sehingga bisa memberikan manfaat besar bagi kemajuan kebudayaan daerahnya dan pada gilirannya, kerajaan/kesultanannya diakui pihak lain.

”Langkah tersebut mampu meminimalisasikan munculnya potensi konflik”, ujarnya dalam meanggapi komentar peserta terkait sering terjadinya konflik di berbagai tempat saat ini.

Pencerahan Gonggong, memotivasi saya untuk mencermati kembali tradisi lisan di kampungku. 

Saya melihat fakta yang diutarakannya, ya kena juga di daerahku. Maka, sejak itu, saya menggali tradisi lisan yang nyaris tenggelam dimakan zaman. 

Buktinya, hadirnya sebuah buku bertajuk, " MENGGALI SERPIHAN INDANG WARISAN LELUHUR KEMPO-MANGGARAI (Serpihan berupa catatan perjalanan).

Saya berkeyakinan bahwa tradisi lisan di wilayah Kehamentean Kempo-Manggarai Barat,cukup banyak, dan ini berarti tidak ketinggalan dengan daerah lain di Nusantara ini. 


Tradisi lisan yang banyak mengandung nilai ini, tidak akan berguna manakala ditinggalkan oleh generasinya.

Berangkat dari fakta riil yang ada, seperti banyak tradisi lisan yang tenggelam termakan arus zaman, maka adalah sebuah kebanggan kalau ada upaya untuk menggalinya sekaligus melestarikannya demi anak cucu di masa mendatang. 

Jika tradisi lisan ini terkumpul kembali, apalagi kalau sudah dibukukan, tentu anak cucu warga masyarakat Kempo ke depannya merasa bangga, karena sejarah mencatat, leluhurnya telah menghasilkan budaya positif yang patut ditiru sekaligus dicontohi demi kemaslahatan hidup.

Dan tentu, harapan Prof.DR. Anhar Gonggong terealisasi jadinya, terutama terkait dengan potensi konflik di tengah masyarakat diminimalisasikan karena warga masyarakatnya memahami sejarah terkait tradisi positif di daerahnya seperti “indang”(nasihat) yang merupakan salah satu hasil tradisi lisan leluhur warga Kempo, dapat dimengerti dengan baik dan dikonsumsikan dalam keseharian. 

Ini pun akan terealisasi, manakala warga masyarakat Kempo menyadari bahwa upaya mengembalikan tradisi lisan, yang termakan arus zaman tadi, memang butuh kesadaran tinggi.

Sebab fakta riil, di negeri ini, khususnya di wilayah Kehamentean Kempo terjadi krisis identitas, serta lemahnya solidaritas dalam bermasyarakat. Ini berarti pula, tradisi lisan warisan leluhur dalam perkembangannya dewasa ini bukan tanpa kendala dan hambatan. 

Dalam perjalanan sejarah, tradisi dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Kempo yang merupakan bagian integral Manggarai Raya itu, memang dibutuhkan penanganan/pengelolaan khusus , antara lain program revitalisasi.

Sehingga warga masyarakat menyadari perlunya semangat untuk hadirkan kembali tradisi lisan memang perlu upaya kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas untuk mengatasinya dengan kebijakan yang tepat. 

Konkretnya, bencana budaya seperti yang disebutkan di atas harus diatasi dengan membuat kebijakan kebudayaan yang menempatkan manusia sebagai titik sentral dengan mempertimbangkan keragaman dan sekaligus keunikan yang ada di masyarakat Kempo. Iya, revitalisasi harus dilakukan, karena fakta riil menunjukkan bahwa penuturnya sudah mulai menghilang, dari waktu ke waktu.

Sementara proses pewarisan yang ada , berjalan secara alamiah, yakni diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya , baik dalam lingkup keluarga maupun di luar lingkup keluarga tidak berlangsung dengan baik. 

Akhirnya, perlu dihadirkan pertanyaan,” Mestikahkah kita tega melupakan kearifan lokal Kempo yang banyak mengandung nilai positif itu?”***)
Bersambung

Penulis: Usaman D Ganggang Putra Kempo Provinisi NTT, alumnus SMA N 1 Ruteng dan Undana Kupang kini berdomisili di Kota Kesultanan Bima NTB.

Baca Juga















No comments:

Post a Comment