Internet Dan Dampaknya Pada Budaya Lejong - Congkasae.com

News Update

22 January, 2017

Internet Dan Dampaknya Pada Budaya Lejong


 Oleh Christina Lawung***

Gempuran arus globalisasi dan modernisasi semakin terasa akhir-akhir ini. Kita dihadapkan dengan beragam kemudahan sekaligus ancaman apabilah kita tidak arif menyikapi kemudahan yang ditawari oleh kemajuan zaman ini.


Internet merupakan satu hasil karya kemajuan zaman yang memberi ruang bagi kita untuk bebas berekspresi, selain itu, kita disodori oleh kemudahan mengakses dan menyebarkan informasi tanpa ada batasan ruang dan waktu.

Di satu sisi hadirnya Internet memang memberi ruang kebebasan bagi kita namun disisi lain pasti selalu ada dampak buruk dari lahirnya teknologi canggih ini.

Berbicara mengenai dampak buruknya, penulis merasa tertarik untuk membahas budaya lejong (bertamu) yang ada dalam struktur sosial masyarakat Manggarai.

Dulu lejong merupakan sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat Manggarai, terutama pada pagi hari biasanya di kampung saya, akan selalu ada orang-orang yang lejong, sebelum berkebun atau pada sore harinya sepulang dari kebun.

Lejong dalam kehidupan orang Manggarai, merupakan satu momentum untuk mendiskusikan beragam topik, mulai dari hasil panen di kebun, masalah sosial, sampai masalah-masalah teraktual dan terkini lainya.

Kebiasaan ini diwariskan secara turun-temurun, sampai saat ini tanpa adanya warisan tertulis. Lama kelamaan ini menjadi budaya yang identik dengan orang Manggarai. Lejong memberikan ruang (space) bagi kaum mudah untuk belajar beretika dan bertutur kata.

Lejong juga memberi ruang bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai luhur budaya Manggarai secara lisan langsung.

Singkatnya lejong menjadi medium bagi orang Manggarai untuk bersosialisasi dan membentuk karakter sebagai putra-putri tanah Congka Sae.

Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya internet dewasa ini rupanya berdampak pada budaya lokal kebanggaan orang Manggarai ini.

Internet menjadikan putra-putri Congka Sae bukan lagi eksklusif melainkan inklusif. Kehadiran Facebook, twitter instagram dan sosial media lainya bukan lagi menjadi katalisator dalam mempererat budaya lejong, melainkan menjadi Racun pembunuh budaya lokal ini.
Hubungi kami di WA 082342994060 untuk pemasangan Iklan

Putra-putri Congka Sae saat ini sibuk dan asik sendiri dengan dunianya. Sosial media atau yang lebih keren di sebut “sosmed” menjadikan putra-putri Manggarai cendrung lupa bahkan tidak tahu yang namanya lejong.

Hal tersebut dikarenakan dengan hadirnya sosmed yang bisa menjawab semua kesulitan dan masalah sosial. Dewasa ini kaum mudahnya cendrung meng-update semua hal yang mereka lakukan termasuk masalah pribadi sekalipun ke akun jejaring sosial miliknya.

Berharap ada yang bisa menemukan solusi, pada hal kita lupa bahwasanya kita memiliki budaya yang sangat bagus yakni lejong, yang seharusnya menjadi wadah bagi setiap kita untuk berdiskusi tanpa mengumbar ke ranah publik.

Dewasa ini juga tutur kata kaum muda cendrung kasar dan tidak tahu sopan-santun bila berinteraksi, baik itu di dunia maya, maupun di dunia nyata meskipun itu tidak semua. Ini merupakan dampak dari lahirnya teknologi canggih.

Orang menjadi merasa bahwa dirinya merupakan pribadi yang paling sempurna oleh karena itu tidak perlu berinteraksi, bersosialisasi di dunia nyata (lejong). Toh semua kesulitan saya bisa teratasi dengan baik di facebook, instagram maupun twitter.

Pada hal mereka lupa bahwasanya sosmed yang mereka agung-agungkan itu, bisa menjerumuskan mereka dalam masalah yang serius. Tidak semua hal bisa dijawab oleh sosmed, ada hal-hal tertentu yang tidak bisa dijawab oleh sosmed dan bisa dijawab oleh Lejong.

Sebut saja belajar beretika, tata kerama, sopan-santun yang menjadikan orang Manggarai berbeda dengan orang lain.

Namun sayangnya, kaum muda kita sudah terlanjur mempercayai sosmed sebagai penjawab segala macam kebutuhan akibatnya, budaya lejong kian terkubur dalam keriuhan arus globalisasi dan trend masa kini.***

Penulis Mahasiswi UT Jurusan FISPOL saat ini tinggal di Borong
artikel ini sudah pernah di publikasikan di media online floreseditorial.com edisi 6 januari 2017

Baca Juga
1.Songke Dan Identitas Orang Manggarai

2. Derita Warga Elar Selatan Dan Amnesia Politik Anggota Dewan

3. Molas Manggarai Dan Bedak Viva Nomor 5

4.Belis di Manggarai Bentuk Penghargaan Terhadap Perempuan Atau Human Traficking??

5.mengapa orang manggarai itu ramah?



 

No comments:

Post a Comment