Semua Tentang Cinta - Congkasae.com

News Update

14 February, 2017

Semua Tentang Cinta


kata orang, Jangan pernah mencintai seseorang setinggi langit karena langit bisa saja runtuh.
Jangan juga mencintai seseorang sedalam lautan karena lautan suatu saat akan surut, bahkan tak jarang menimbulkan bencana.


Cinta pun tak harus sebesar dunia, karena dunia bisa hancur berkeping-keping dengan kenangan yang terlupakan. Cukup mencinta layaknya seujung kuku. Kecil, namun selalu tumbuh walau terus dipotong. Itulah cinta yang sejati

Cinta hanyalah sebatas kata, tanpa arti, sampai kemudian seseorang datang dan memberi mu makna yang sesungguhnya
Apalah arti sebuah tulisan ‘cinta’ meski ditorehkan dengan tinta emas sekalipun jika perasaan cinta itu tak ada.

Namun, sekali perasaan itu tersentuh oleh seseorang yang menjadikanmu sebagai harapan dan belahan jiwa, ah pastilah tulisan cinta itu akan memiliki banyak makna.
Memang Sangat sulit untuk melupakan seseorang yang memberimu banyak arti dalam hidup cinta datang tanpa kamu sadari namun kepergiannya meninggalkan ribuan kenangan
karena Cinta itu ibarat angin, tak bisa dilihat, namun dapat dirasakan
Aku ingin mencintai mu, seandainya bukan menjadi bagian dari sisa hidupmu, biarkan menjadi bagian dari sisa kehidupanku
Tanpa dirimu hatiku seakan hampa dan jalanku seakan gelap, kau adalah cahaya dan duniaku
Saat diriku berkata, “aku mencintaimu”. Kamu pun berkata lirih, “teriakkan itu pada dunia”. Lalu aku berbisik pelan dan berkata lembut, “aku mencintaimu”. Kamu bingung dan bertanya, “kenapa berbisik”? —–“Karena Kau Lah Duniaku”

Cinta—sebuah topik eksistensial dalam kehidupan manusia. Berawal dari pertanyaan Heideggerian tentang makna “Ada”, cinta adalah jawaban tentang makna “Ada” dan “meng-Ada” sebagai manusia. Cinta menjanjikan kedamaian yang mengakhiri kekerasan dalam relasi antar-entitas dalam semesta—baik antar-sesama manusia maupun antara manusia dan entitas-entitas lain.
Berhadapan dengan nalar metafisika , cinta adalah gambaran mitis dari suatu bentuk relasi yang sepenuhnya hampa-kekerasan. Disebut gambaran mitis, karena cinta adalah bentuk relasi yang lahir dari proses pemitosan, mitifikasi (mythification), yang membongkar tatanan hierarki dalam relasi yang dibangun dalam kerangka logika identitas.
Cinta adalah mitos (μθος) yang bangkit melawan dominasi logos (λόγος), irasionalitas yang menolak tunduk pada rasionalitas. Seperti tercermin dalam pameo “cinta itu buta”, sifat cinta yang irasional-mitis memampukan cinta mencairkan kebekuan berbagai kategorisasi identitas yang telah mengkotak-kotakkan manusia ke dalam perbedaan seks, ras, status sosial ekonomi, gender, etnis, agama, kewarganegaraan, dan sebagainya.
Hubungi kami di WA 082342994060 untuk pemasangan Iklan

Sebagai mitos, cinta memungkinkan “Aku” dan “Kamu” berimajinasi tentang “Kita”, sebuah perlawanan terhadap tiga hukum logika identitas. Cinta tidak mengenal kepastian identitas, karena “Aku” bukanlah “Diri-ku” dan “Kamu bukanlah “Diri-mu”.
Dalam Cinta, “Aku” dan “Kamu” tidak pernah sungguh-sungguh berbeda, karena “Aku” adalah “Kamu” dan “Kamu” adalah “Aku”. Dalam cinta, tidak ada jalan tengah yang mustahil, karena “Aku” dan “Kamu” telah melebur dalam “Kita”.
Cinta menyelesaikan kekerasan karena melumerkan batas identitas dan relasi antar-identitas yang tersusun secara hierarkis. Dalam cinta, kemanusiaan lelaki tidak lebih tinggi dari perempuan, kulit putih tidak lebih murni dari kulit berwarna, orang kaya tidak lebih terhormat dari orang miskin, orang beriman tidak lebih baik dari orang kafir, warga negara maju tidak lebih mulia dari warga negara berkembang, dan seterusnya.
Demikian karena atas nama cinta, tidak ada lagi perbedaan identitas. Dalam cinta, yang ada hanyalah tindakan mencintai itu sendiri, tanpa hasrat untuk memiliki, tanpa kepentingan untuk menguasai—tanpa syarat apapun.
Hubungi kami di WA 082342994060 untuk pemasangan Iklan

Namun, betapapun indah gambarannya, cinta tidak pernah tumbuh dalam “ruang murni” yang demikian “sunyi” seperti dibayangkan Rumi atau para mistikus. Cinta tumbuh dalam pikiran manusia yang entah bagaimana terlempar dalam faktisitas “ruang imitasi” yang ramai dengan segala “hiruk-pikuk” kerumunan yang saling berkompetisi mengklaim ini dan itu.
Tidak seperti dibayangkan para mistikus, cinta tidak pernah bisu, ia tampil dalam ungkapan kata-kata dalam sebuah sistem metafisika linguistik, di mana petanda, makna, adalah asal-usul bagi segala penanda. Karena tidak pernah dapat melampaui metafisika, cinta, seperti digambarkan Sartre, menjadi instrumen manipulasi yang sangat efektif bagi subyek terhadap obyek.
Di balik nama cinta, seorang subyek menyembunyikan kepentingan penguasaannya atas obyek dengan berpura-pura ingin dikuasai oleh orang yang menjadi obyek cintanya.
Karena melawan logos, cinta selamanya adalah mitos—selalu fiksi, tidak pernah fakta. Dan mungkin karena sifat cinta yang irasional dan mitis itulah cinta terlalu indah untuk menjadi nyata. Mungkin itu juga sebabnya kenapa “Aku” dan “Kamu” tidak pernah menjadi “Kita”. Karena “Aku” dan “Kamu” tidak pernah sungguh-sungguh “Mencinta”.


Selamat Merayakan Hari Kasih Sayang, termia kasih sudah menjadi pembaca setia artikel saya

Love you all
Tonny



No comments:

Post a Comment