Toing, Beberapa Nasehat Manggarai - Congkasae.com

News Update

27 May, 2020

Toing, Beberapa Nasehat Manggarai


***Catatan Avelinus Ramli Okom S.P***

Suatu ketika saat saya duduk di kelas 2 SMP, kakek saya mendatangi rumah kedua orang tua saya sekitar pukul 00.30 WITA.

 

Kamipun duduk dan berbagi cerita terkait kisah pengalaman hidup kakek, semasa ia masih muda.

 

Ada suka juga ada duka ia tuturkan semuanya kepada saya, nama kakek saya ialah Alm. Paulus Jehama beliau adalah Mantan Kepala Desa Golo Lembur.

 

Setelah saya simak pengalaman pada masa mudanya, hampir didominasi oleh kesusahan. Saat itu saya dibaluti oleh hasrat penasaran, karena penasaran akhirnya saya memutuskan untuk bertanya.

 

Kakek kenapa hidup kakek pada masa muda selalu didominasi oleh kesusahan?

 

Dengan nada sendu Almarhum kakek saya menjawab dalam bahasa Manggarai ai danong nana ami hoo haju toe pake laing (kami dulu  hidup laksana kayu yang tak layak dipakai).

 

Mendengar jawaban itu, sayapun bingung, lalu saya bertanya lagi ai coo tara nggitun ke ema lopo? (kenapa begitu kakek).

 

Kakekpun menjawabnya dengan terbata-bata “ai ami toe sekolah le ende agu emagm (karena kami tidak disekolahi oleh orang tua kami).

 

Nah teman-teman pasti bingung, kenapa orangnya tak bersekolah bisa jadi Kepala Desa?

 

Jawabanya ia bisa, karena kepala desa pada zaman dulu tak memakai syarat administrasi tingkat pendidikan.

 

Hanya butuhkan satu syarat yaitu bisa bicara didepan umum (nganceng tombo olo mai ranga data do)

 

Dalam nada seru kakek saya terus menasihati (toing) saya katanya; (eme sekolah, sekolah di,a-di,a) makanya kalau orang tua kamu suruh sekolah yah harus sekolah baik-baik.

 

Kamu sekolah bukan untuk orang tua kamu melainkan untuk dirimu sendiri dan masa depan kamu (ite sekolah latang weki ru, cala jari tai agu di,a diang).

 

Di tengah obrolan kami ia ucapkan beberapa kalimat go,et Manggarainya untuk saya diantara ialah go,et berupa nasihat (toing) sebagai berikut:

1.      Eme wakak betong asa manga waken nipu tae, eme muntung gurung pu,u manga wungkut nipu curup (hanya kamu yang bisa diharapkan oleh keluarga)

2.      Neka daku ngong data (jangan menghakimi milik orang lain adalah milikmu atau jangan mencuri)

3.      Sili sili wisi sili sili cing, pe,ang pe,ang wecak pe,ang wela ( berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah, tebarlah kebaikan dari kapanpun sampai kapanpun)

4.      Sekolah toe landing le bora, ngo pala landing toe manga (sekolah bukan karena kaya, merantau karena miskin)

5.      Neka acu ngong hae wa,um neka kode ngong hae woem (jangan samakan manusia dengan binatang)

6.      Neka hemong beo bate elor, mopo koe golo lontom (jangan melupakan tanah kelahiranmu).

Akhir kata beliau tuturkan kata, mose dite toe neho leso ema kolep bur koley, toe kole neho hajuy eme matay lodong koley (=hidup kita tidak seperti matahari ia benam namun terbit lagi bukan pula seperti kayu ia mati pasti akan tumbuh tunasnya 

No comments:

Post a Comment