Bukit Ndalo dan Potongan Sejarah di Tanah Manus Manggarai Timur - Congkasae.com

Hoos ata werud

28 December, 2017

Bukit Ndalo dan Potongan Sejarah di Tanah Manus Manggarai Timur

Bukit Ndalo diambil dari kampung Bebot

[Congkasae.com/Wisata]– Siang itu udara cukup panas, maklum musim kemarau masih berlangsung, beberapa warga desa Mokel Morit kecamatan Kota komba kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT tengah bergegas mendaki puncak bukit Ndalo yang jaraknya cukup dekat dari kampun Bebot.
Beberapa orang ibu tampaka menggendong keranjang yang berisikan makanan, menuju puncak bukit. Sementara beberapa orang pria paruhbaya membawa beberapa peralatan memasak.
Rupanya hari itu sedang berlangsung upacara adat di puncak bukit Ndalo, oleh warga setempat upacara itu disebut “teing hang embo” yakni upacara memberikan persembahan pada leluhur.
Ndalo, merupakan salah satu bukit kecil yang memiliki sejarah panjang bagi warga mokel dan Manus di masa lalu.
Salah satu kkuburan kuno yang direstorasi kembali
Konon katanya, bukit Ndalo dulunya merupakan banteng perang ketika perang Kegor sedang berkecamuk di wilayah Manus dan Mokel.
Nenek moyang suku Mokel kala itu menjadikan bukit Ndalo sebagai banteng pertahanan. Di tempat ini pulah embo Karrong dan embo Wae Mese dikuburkan. Keduanya merupakan nenek moyang suku Mokel saat ini.
Karenanya Congkasae.com berkesempatan mengunjungi bukit Ndalo beberapa waktu lalu, bersama beberapa warga desa Mokel Morit, kami mendaki bukit yang cukup terjal itu.
Kami memulai perjalanan dari kampung Bebot, sebuah kampung yang terletak di kaki bukit Ndalo.
Tanjakan yang cukup terjal menyulitkan perjalanan kami kala itu, apalagi bau khas yang bersumber dari tanaman kopi yang sedang berbunga menyengat di hidung.
Dalam perjalanan terdapat beberapa perhentian, sayangnya kondisinya belum memadahi, para pejalan kaki hanya bisa melewati jalan ini ketika musi kemarau tiba.
Sementara dimusim hujan, jalur ini hampir tak dapat dilalui karena kondisinya akan sangat licin, apalagi tanjakannya cukup terjal.
Setelah setengah jam kami melakukan perjalanan, akhirnya kami sampai di atas bukit.
Hal tersebut ditandai sengan undakan Batu yang menjadi ring pertahanan luar bukit Ndalo. Undakan batu tersebut konon katanya kala itu dibangun oleh “darat” alias peri.
Setelah beberapa meter berjalan, kami kembali menemukan undakan batu yang sama. Ini merupakan ring pertahanan ke dua dari banteng Ndalo.
Tumpukan batu yang diyakini sebagai compang atau mesbah
Beberapa meter dari ring dua itu, kami menemukan tumpukan batu, ada satu batu lonjong yang berdiri kokoh. Ini disinyalir menjadi Compang alias mesbah bagi warga yang mendiami bukit Ndalo di masa silam.
Rasa penasaran akan sejarah kelam bukit Ndalo pun berkecamuk dalam diri ketika Congkasae.com menemukan beberapa kuburan kuno yang kembali direstorasi.
Setidaknya di tempat itu terdapat dua kuburan dan batu nisanya tertulis Embo Karrong dan embo Wae Mese. Pertanyaan mengenai sosok dua nama ini akan menjadi episode lanjutan dari tulisan ini.
Saat ini di puncak Ndalo, terdapat salah satu Gua Maria yang dibangun tahun 2011. Warga sekitar bukit seringkali mengunjungi bukit ini terutama pada bulan mei dan oktober.
Yoseph Sani yang merupakan salah seorang warga kampung Bebot mengatakan jika dirinya seringkali mengunjungi puncak  Ndalo terutama ketika bulan maria tiba.
“jika bulan rosario seperti mei dan oktober, kami selalu mengunjungi bukit ini, “katanya kepada Congkasae.com di bukit Ndalo baru-baru ini.
Ia juga mengatakan bukit Golo Ndalo merupakan salah satu tempat mistis. Pasalnya, kata dia, di bukit ini terdapat salah satu situs bersejarah berupa undakan batu yang merupakan ring pertahanan.
“dulu tempat ini merupakan benteng pertahanan kedaluan Manus, “katanya.
Ia juga mengatakan, jika berdoa di tempat ini, terdapat banyak keanehan, “meski siang hari, terkadang kita mendengar tepukan tangan, terkadang juga suara orang berjalan di sekitar lokasi, “katanya.
Goa Maria di sebelah kiri compang atau mesbah
Mereka meyakini suara itu merupakan nenek moyang karena di bukit ini dulunya merupakan salah satu kampung yang juga merupakan benteng perang dalu Manus.
Di sebelah utara kuburan kuno itu juga terdapat mata air yang merupakan sumber air minum (wae teku) di masa lalu.
Mata air ini hingga kini masih mengalirkan air yang sangat segar dan dingin seperti es meski siang hari.
Selain itu, dari puncak Ndalo kita bisa melihat indahnya daerah sekitar seperti mukun, Paang Leleng, kampung Eduk, Bebot, Mbata dan masih banyak lagi.
Dari puncak Ndalo kita juga bisa menyaksikan indahnya sawah petani yang diselingi oleh perkebunan warga.
Pemandangan alam kampung Bebaot dari puncak Ndalo
Selain itu, hembusan angin yang sepoi-sepoi menjadikan Bukit Ndalo menarik untuk dikunjungi.
Bagi anda yang menyukai sejarah dan peninggalan nenek moyang masa lalu, Bukit Ndalo merupakan tempat yang pas untuk dikunjungi.


No comments:

Post a Comment