Di Labuan Bajo Harga Sepotong Ubi Kayu Setara dengan Harga Beras - Congkasae.com

News Update

10 May, 2019

Di Labuan Bajo Harga Sepotong Ubi Kayu Setara dengan Harga Beras


[ Congkasae.com/Sipi-Sopok] Labuan Bajo merupakan salah satu kota yang diproyeksikan jadi kota dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di NTT.

Hal tersebut bukan tanpa alasan mengingat Labuan Bajo kini dinobatkan sebagai pintu masuk wisatawan Manca Negara ke provinsi kepulauan itu.

Bicara tentang Labuan Bajo, apa yang paling diingat di kepala kalian? tempat sandarnya kapal Tilong Kabila? atau Bandar Udara Komodo atau kota dengan harga air paling mahal?

Bagi saya yang paling mudah diingat adalah yang terakhir, yakni kota dengan harga air paling mahal. Bukan hanya air ternyata yang mahal, tapi juga harga kebutuhan pokok lainnya meroket.

Kalian bayangkan saja, di Labuan Bajo harga Labu siam yang kecil itu 2000 per biji, itupun labu yang kalau di Ruteng atau di Bajawa orang potong kasi makan ternak.

Selain harga labu Jepang alias Labu Siam yang mahal, ternyata di kota ini harga ubi kayu alias Singkong juga meroket.

Bayangkan saja jika harga sepotong Ubi Kayu alias singkong setara dengan harga beras, wooowww.

Di Labuan Bajo, harga satu potong ubi kayu alias Singkong itu 10.000 setara dengan harga satu kg beras yakni 10.000 ribu juga.

Mengapa harga-harga barang seperti itu meroket? ternyata setelah saya telusuri di pasar, harga barang-barang tersebut sangat mahal karena harus dibawa dari Bajawa dan Bima.

Mengapa harus dibawa dari luar daerah? karena petani di sini mungkin tidak hobi tanam Ubi Kayu dan Labu Jepang.

Padahal jika saja para petani di sini bisa memasok bahan-bahan tersebut, uang dolar yang dibawah oleh bule itu tidak mesti dibawah ke Bajawa dan Bima.

Bisa langsung dibawah pulang ke kampung, jika peredaran mata uang di kampung-kampung lancar maka daya beli masyarakat meningkat.

Selain itu perekonomian masyarakat di pedesaan akan tumbuh dengan pesat. Tapi katanya sich dengar-dengar bisikan tetangga di rumah di kampung-kampung ada itu ubi dan Labu Jepang.

Tapi karena susahnya akses ke Labuan Bajo karena jalan ke desa-desa yang masih banyak lobang dan aspalnya bisa dihitung dengan jari, akibatnya para petani mengurungkan niatnya untuk membawa hasil buminya ke Labuan Bajo.

Mereka berpikir lebih baik Labu Jepang dan Ubi Kayu ini kami rebus kasi makan Babi, biar Babinya cepat besar karena harga Babi di sini setara dengan motor buntutnya saya.

Kalian yang di tempat perantauan yang mungkin masih bingung mau pulang Manggarai mau kerja apa? saran saya datang saja di sini banyak sekali peluang usaha.

Yang paling penting adalah kalian harus punya modal yang utama yakni keberanian untuk memulai. Saya saja mau rencana tanam Ubi Kayu dan Labu Jepang semua di tanah yang di Terang itu, biar nanti bisa jual ke Labuan Bajo.

Tapi kalau ternyata pas Ubi Kayu dan Labu Jepangnya saya panen ternyata harga anjlok, saya sudah siapkan Babi satu kandang besar.

Nanti kasi makan Babi itu Ubi dan Labu biar cepat besar Babinya, kalau Babi sudah besar nanti jual saya terus saya dapat uang sudah.

No comments:

Post a Comment