Antara Lejong dan Gadget - Congkasae.com

News Update

09 January, 2020

Antara Lejong dan Gadget

Lejong kini berubah jadi lejong Virtual/ Foto Ilustrasi Congkasae

***Oleh Paul S Nokar***

Sesuatu yang menjadi ciri khas masyarakat Manggarai adalah Lejong atau budaya silaturahmi yang tidak menunggu iven tertentu.

Budaya silaturahmi sepintas memang merupan cara untuk menghabiskan waktu dikala senggang, akan tetapi dalam dialektika bertetangga bagi orang Manggarai silaturahmi atau Lejong adalah usaha untuk mempererat hubungan kekeluargaan.

Dengan Lejong orang Manggarai bisa berbagi informasi. Tetangga yang kurang Lejong akan dianggap kurang pergaulan (Kuper) atau eksklusif, yang kemudian akan dicurigai memegang magic (rasung).

Dengan demikian orang Manggarai menganggap silaturahmi/Lejong adalah salah satu hal penting dalam bersosialisasi.

Pada masa lampau Lejong bukan hanya bertandang ke rumah tetangga, tapi bisa mendatangi rumah di kampung berbeda. Hal ini dipandang perlu agar bisa mendapatkan informasi lebih.

Silaturahmi Moderen
Pada zaman semoderen seperti sekarang ini, budaya silaturahmi berubah pola. Silaturahmi sekarang tidak perlu capek berjalan dari rumah kerumah, tetapi bisa dilakukan sambil duduk santai atau tiduran kalau hanya untuk  bertegur sapa atau mencari informasi.

Cukup hanya bermodalkan pulsa telepon genggam kita sudah bisa bertukar informasi atau bertanya kabar tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Semua menjadi begitu dekat. Seolah semuanya hanya sejengkal tangan. Dunia menjadi begitu sempit dan ruang gerak menjadi begitu luas, begitu mudah.

Pendeknya silaturahmi moderen berbanding terbalik dengan budaya lejong masa lalu. Lejong moderen tidak perlu kedinginan, kepanasan atau atau berlumpur-ria mendatangi rumah tetangga.

Tetapi dengan sekali klik atau sentuhan kita sudah bisa berkomunikasi sepuasnya. Demikian untuk bersosialisasi diri pada zaman  moderen ini semua lebih mudah.

Saking mudahnya kita terseret dalam perubahan yang menjadikan segala sesuatunya jadi serba instant.

Hanya dengan meng-update status atau posting foto di Facebook kita sudah mendapat ratusan acungan jempol.

Dampak Sosial Gadged
Kata Gadged adalah adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang berarti 'sebuah perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus.

Dalam bahasa Indonesia Gadged berarti "acang". Salah satu hal yang membedakan Gadged dengan perangkat elektronik lainnya adalah bahwa Gadged memiliki unsur  "kebaruan" yakni Gadged akan selalu menawarkan teknologi baru untuk kemudahan hidup kita.

Ketika Lejong tidak lagi perlu bertatap muka dan mencicipi kopi atau tembakau linting tetangga, maka dengan serta Merta pula kemistri hubungan antara tetangga menjadi surut.

Tegur sapa ketika bersua muka hanya sekedar lipservice. Hanya sekedar agar tidak dibilang judes atau sejenisnya.

Kita menjadi tidak saling memahami sifat, watak dan karakter tetangga bahkan keluarga kita. Tetapi sebaliknya kita akan semakin akrap dan bahkan hampir tidak terpisahkan walau hanya sehari dengan Gadged.

Bercengkrama atau bersenda gurau dengan teman atau tetangga menjadi sangat sulit terjadi. Kita tidak lagi memiliki waktu untuk "copy darat" dengan teman maupun keluarga.

Gadged menciptakan sifat eksklusivis dan individualis. Kita akan lebih cenderung malas dan tidak bergairah.

**
Penyalah gunaan Gadged akan menimbulkan masalah baru dalam kehidupan.
Mulai dari masalah rumah tanggal sampai pada tindak kriminal.

Seyogyanya teknologi diciptakan untuk mempermudah hidup, bukan justru sebaliknya mempersulit apalagi  menjauhkan kita dari sesama.

Sikap bijak dalam menggunakan  teknologi adalah dengan tetap menyediakan waktu khusus untuk saling bersilaturahmi dengan keluarga, tetangga dan masyarakat umum.

Gadged hanyalah salah satu media dalam mempermudah  kehidupan kita, jangan sekali-kali jadikan Gadged sebagai satu-satunya pegangan, karna ada yang tidak dapat disajikan Gadged yaitu kemisteri 'mitrekasatrata'....
Paul S Nokar

Penulis merupakan praktisi pendidikan saat ini menetap di Surabaya

No comments:

Post a Comment