Rueng dalam Perspektif Kepemimpinan Politik Manggarai - Congkasae.com

Hoos ata werud

16 February, 2020

Rueng dalam Perspektif Kepemimpinan Politik Manggarai



Oleh : Alvitus Minggu

Diskusi tentang Rueng merupakan ide atau gagasan yang cukup menarik untuk disimak secara mendalam serta secara tidak langsung ingin mengajak masyarakat Manggarai merefleksikan kembali cerita tentang Rueng dalam legenda Manggarai.

Diskusi tentang Rueng merupakan bentuk komitmen bersama dalam rangka menghadirkan sesuatu yang positif bagi warga Manggarai di tanah perantauan maupun yang menetap di Manggarai.

Rueng dan Legenda Loke Nggerang
Cerita tentang Rueng tentu saja berrmuara pada Legenda Loke Nggerang. Konon katanya Loke Nggerang merupakan Legenda yang mengisahkan kehidupan seorang gadis cantik dari daerah Manggarai.

Jaman dulu gadis  hidup di sebuah dusun kecil bernama Ndoso. Secara biologis Nggerang merupakan hasil dari perkawinan silang resmi antara manusia dengan mahluk halus dari alam lain, dalam bahasa setempat dinamakan kakartana atau darat (bidadari) atau juga disebut ata pelesina.

Ayah Nggerang bernama Awang dan Ibunya bernama Hendang. Hendang berasal dari alam lain. Putri Nggerang ditinggalkan Ibunya semasa dia masih balita.

Ayahnya meninggal dunia sebagai akibat melanggar pantangan sebanyak tiga kali. Kisah ini terjadi ketika Hendang pergi menimba air, sementara Nggerang pada waktu itu masih bayi dijaga dan digendong ayahya.

Hendang memberi pesan kepada Awang suaminya “jika anak ini menangis jangan mendendang lagu ipung setiwu, pake sewae, teu sa ambong neka woleng jaong, muku ca pu neka woleng curup.

Namun ketika Hendang sedang pergi menimba air yang jaraknya cukup jauh dari rumah Nggerang pun menangis, kemudian Awang berupaya menghentikan tangisan Nggerang dengan mendendangkan lagu yang sama tadi sebanyak tiga kali, namun tidak membuat putrinya berhenti menangis.

Pelanggaran tetap saja didendangkan Awang sebanyak tiga kali. Kendatipun sudah dingatkan berkali-kali oleh Hendang namun Awang masih juga melanggarnya akhirnya perpisahan pun terjadi.

Hendang ibunda putri Nggerang pergi meninggalkan kedua orang terkasihnya Awang suaminya serta Nggerang anaknya di Dusun Ndoso.

Hendang berpesan agar Nggerang yang merupakan buah cinta mereka agar dijaga suaminya. Mendengar pesan tersebut, Awang diam membisu dan tak berdaya. 

Seketika itu Hendang berubah wujud menjadi seekor nepa atau ular, lalu dia pergi meninggalkan Dusun Ndoso untuk selamanya.

Sepeninggal ibunya, putri Nggerang diasuh empat saudaranya yaitu; satu laki-laki, dan tiga wanita yang merupakan  anak dari istri pertama bernama ayahnya yang bernama  Tana.

Ayahnya beristri dua yaitu Hendang yang berasal dari alam lain dan Tana  merupakan manusia biasa.   

Raja Bima, saat itu selalu melihat cahanya yang terpancar ke langit yang berasal dari daerah Manggarai.

Cahanya tersebut sesungguhnya berasal dari kulit emas putri Nggerang yang tumbuh pada punggung bagian atas, berbentuk bulat dan besarnya seukuran bulatan mata uang logam.

Sultan Bima pun segera mengutus seorang abdi kerajaan bersama beberapa orang prajurit kerajaan ke Manggarai guna melacak keberadaan cahaya tersebut.

Ternyata cahaya itu dimiliki seorang putri dan masih remaja bernama Nggerang. Dalam perkembangan selanjutnya Sultan Bimapun mempersiapkan diri untuk berangkat ke Manggarai, tepatnya di Dusun Ndoso untuk meminang Nggerang.

Namun sangat disayangkan, ketika Sultan Bima menyampaikan isi hatinya, putri Nggerang menolaknya.

Raja Bimapun sakit hati dan menaruh dendam kepada Nggerang. Raja Bima kemudian mengancam dengan mengirimkan magic ke Dusun Ndoso. Seluruh Dusun Ndoso diselimuti awan tebal kehitam-hitaman.

Fenomena inipun hingga saat ini masih dikenal dengan sebutan rewung taki tana. Ancaman demi ancaman tak gubris putri Nggerang hingga akhirnya raja Bima tak sabar lagi membunuh putri Nggerang.

Saat itu sebagai kesultanan Bima berkuasa atas tanah Manggarai. Kulit perut Nggerang dijadikan gendang yang  disimpan di Ndoso Manggarai Barat, sementara satu lagi disimpan di rumah adat Todo kecamatan Satar Mese Kabupaten Manggarai.

Bargaining Position Rueng dan  Orang Manggarai Masa Kini
Meskipun cerita Rueng dalam Legenda Manggarai tidak bersifat kontekstual, akan tetapi cerita tersebut tetap dianggap masih berelevan dengan konteks kekinian.

Dimana pengalaman perubahan sosial yang terjadi di Manggarai, sesungguhnya merupakan kombinasi antara aspek input dan output.

Generasi Manggarai saat ini  merupakan produk dari nilai tradisi cerita  tentang Rueng yang terjadi pada masa silam.  

Hingga kini  cerita tentang Rueng dalam legenda Manggarai selalu menjadi sesuatu yang menarik serta menjadi fokus perhatian bersama orang Manggarai yang hendaknya hal itu tetap dipertahankan dan dilestarikan secara konsisten dan berkesinambungan.

Bertitik tolak dari hal tersebut secara sosial, putri Nggerang memiliki bargaining position (posisi tawar) yaitu posisi yang dapat memungkinkan seseorang untuk dapat berpengaruh dalam kelompoknya.

Berpengaruh yang dimaksudkan disini adalah mengenai derajat sosial perempuan Manggarai. Putri Nggerang seoarang gadis yang cantik, yaitu; memiliki keindahan tubuh yang sangat proporsional, memiliki harkat dan martabat yang tangguh, dan memiliki kepribadian yang baik sehingga membuatnya tidak gampang dipengaruhi oleh siapapun memenuhi keinginan Sultan Bima untuk menerima lamaranya sebagai calon istrinya.

Dalam konteks politik sebagaimana diungkapkan oleh Hoogerwerf”, bahwa berbicara bargaining position (posisi tawar) itu sama halnya berbicara tentang pengaruh.

Mendasarkan otoritas yang potensial dan kemungkinan untuk mempengaruhi tingkah laku pihak lain dalam kaitannnya dengan tujuan dari seseorang.

Teori ini berimplikasi pada keputusan putri Nggerang, dimana putri Nggerang memiliki otoritas atau pengaruh tradisioanl sehingga ia menolak segala bentuk tawaran Sultan Bima untuk melamar putri Nggerang.

Dalam konteks ini cerita tentang putri Nggerang sebenarnya itu tidak terlepas dari isu tentang gender. Berbasis persamaan hak antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam berbagai  sektor baik dalam kepemimpinan politik maupun dalam sektor publik lainnya.

Sudah saatnya tidak boleh terbelenggu dengan cerita tentang Nggerang yang hidup penuh dengan kekerasan hingga pada akhirnya meninggal dunia dengan cara yang tragis sebagai akibat perilaku kekejaman fisik sang penguasa sultan Bima pada masa itu.

Waktu boleh silih berganti tetapi yang paling penting adalah bagaimana Masyarakat Manggarai agar bisa keluar dari stigma tentang kekerasan yang dirasakan seorang putri Nggerang sehingga ke depan tidak muncul lagi putri Nggerang yang lain.

Perlunya Peningkatan Partisipasi Kaum Perempuan Manggarai
Salah satu solusi menghilangkan stigma itu perlu adanya peningkatan partisipasi perempuan Manggarai dalam berbagai bidang sosial misalnya menjadi pengurus partai politik, organisasi kemasyarakatan, LSM, instansi pemerintah, sebagai anggota parlemen, maupun dalam bidang lainya.

Dalam kaitan tersebut sebagaimana diungkapkan Rober Michels dalam buku berjudul; Partai politik Kecenderungan oligarkis dalam Birokrasi.

Bahwasannya semua orang berhak menjadi warga negara dan semua warga negara berhak dipilih oleh siapapun. Artinya siapa pun  yang ingin menjadi pemimpin formal di setiap level politik memiliki hak politik yang sama untuk mendapatkannya termasuk dari agama mana pun serta dari kaum laki-laki dan kaum perempuan.  

Teori tersebut sudah membuktikan bahwa di era pilkada langsung banyak bermunculan kepemimpinan politik dari kalangan perempuan di daerah.

Tahun 1955 perempuan Indonesia mulai muncul memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki melalui hak memilih dan dipilih dalam pemilihan umum yang terjadi pada pemilu pertama di Indonesia.

Pengalaman perubahan kecenderungan untuk mengakomodasi pemenuhan hak politik perempuan di seluruh dunia berbeda-beda misalnya Amerika baru membolehkan perempuan untuk memilih pada tahun 1920, 144 tahun setelah merdeka.

Kemudian Perancis juga baru mengakomodasi hak politik perempuan pada tahun 1944 melalui konstitusinya.

Amerika dan perancis adalah negara yang sangat konsent terhadap persoalan isu Gender. Tujuannya adalah agar perempuan diakui sebagai subjek hukum yang punya hak politik seperti halnya laki-laki. Gerakan ini meluas di negara-negara Barat.

Pada pemilu pertama tahun 1955 ada perempuan yang mendapatkan suara cukup untuk menduduki kursi di parlemen bernama Salawati Daud.

Dia merupakan pejuang dalam perang kemerdekaan asal Makasar terpilih sebagai anggota Dewan konstituante dari Partai komunis Indonesia (PKI).

Salawati sebelumnya adalah menjadi walikota Makasar yang dipilih pada tahun 1949, setelah kota ini merdeka secara de facto dari Belanda.
Tapi, bagaimana dengan posisi perempuan Manggarai dalam konteks kekinian, terutama Rueng dalam perspekttif kepemimpinan politik Manggarai?

Perbandingan perubahan antara era Rueng dalam legenda Manggarai dengan era demokrasi langsung dan era kapitalisme, Manggarai sudah mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

Kecenderungan pemenuhan hak politik perempuan di Manggarai tak bisa dibilang payah. Hal ini terbukti banyak kaum perempuan di Manggarai sekarang menjadi pejabat publik.

Misalnya Maria Geong wakil Bupati Manggarai Barat, Osi Gandut anggota DPRD Manggarai selama dua periode dan merangkap sebagai ketua fraksi Golkar.

Leni Paga menjadi kepala bandar udara, Ney Asmon yang menjabat sebagai kepala dinas Peternakan kabupaten Manggarai Barat, Sisi Nanga mantan anggota DPRD Manggarai dari fraksi Golkar, kemudian Lila Jehaun mantan anggota KPUD Manggarai.

Penulis merupakan dosen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional Universitas Keristen Indonesia UKI Jakarta

No comments:

Post a Comment