Wajah Gapong 13 Tahun Pasca Bencana Longsor - Congkasae.com

Hoos ata werud

28 February, 2020

Wajah Gapong 13 Tahun Pasca Bencana Longsor

Kampung Gapong, Foto Antonius Rahu/Congkasae.com


[Congkasae.com/Lejong] Siang itu udara cukup panas, jarum jam sudah menunjukan angka 11:00, sementara  sekelompok anak mudah tengah asik berbincang-bincang di depan kios tepat di pertigaan pertama setelah Pagal,ibu kota kecamatan Cibal.

Itulah kondisi yang terekam di memori ketika Congkasae.com tiba di kampung Gapong, desa Gapong, kecamatan Cibal, kabupaten Manggarai, Flores, NTT.

Setelah bersalaman dengan kelompok anak mudah Gapong, Congkasae.com pun mengutarakan niat kedatangan kemari.

Hari ini Congkasae.com hendak melihat secara langsung terkait kondisi masyarakat yang terdampak bencana longsor 13 tahun silam, yang menewaskan 29 orang 3 orang diantaranya dinyatakan hilang sampai saat ini.

Bencana longsor di Gapong terjadi pada Jumat 2 Maret 2007 silam, bencana alam yang menelan puluhan orang warga Gapong itu terjadi menyusul hujan lebat yang mengguyur wilayah Manggarai selama beberapa pekan.
Proses evakuasi korban Longsor, Foto Republika

Kantor berita antara melaporkan kejadian bencana yang terjadi hampir berbarengan yakni di kampung Riung, desa Wotok, Kampung Gapong desa Gapong, kecamatan Cibal,  dan kampung Golo Gega desa Goreng Meni kecamatan Lamba Leda.

Di desa Goreng Meni, 11 unit rumah beserta penghuninya tertimbun longsor akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut.

Hingga dua hari pasca kejadian, tim gabungan yang terdiri dari aparat TNI/Polri serta tim SAR terus melakukan pencarian korban yang meninggal dengan bantuan alat seadanya.

Tingginya intensitas hujan serta kabut tebal yang menyelimuti wilayah Manggarai menyebabkan pencarian korban kala itu mengalami kendala.

Apa lagi alat berat (Exavator) belum bisa didistribusikan ke lokasi kejadian karena beberapa ruas jalan Ruteng Reo dan Ruteng Lamba Leda terputus, demikian antara dalam laporannya edisi Sabtu 3 Maret 2007.

Setelah beberapa hari melakukan pencarian tim Sar akhirnya memutuskan menghentikan proses evakuasi korban bencana.

Hasilnya 29 orang Warga Gapong dinyatakan meninggal dalam peristiwa naas itu, 3 orang diantaranya dinyatakan hilang sampai saat ini.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun langsung terbang ke Gapong untuk meninjau secara Langsung kondisi korban bencana.

Untuk memperingati peristiwa naas itu, pemerintah membangun sebuah Monumen yang berisis nama-nama korban di lokasi longsor.
Monumen Longsor Gapong, Foto Antonius Rahu/Congkasae.com

Kini 13 tahun sudah peristiwa tersebut berlalu, lanatas bagaimana warga Gapong memperingati hal itu? Bagaimana kondisi mereka hingga saat ini serta apakah ada ketakutan akan terjadinya bencana serupa di masa depan?

Laporan utama Congkasae tahun ini akan mengulas hal ini secara mendalam, untuk mendapatkan data yang akurat kami mendatangi kampung Gapong serta melakukan wawancara langsung kepada beberapa warga.

Berikut adalah petikan wawancara Congkasae.com dengan  salah seorang korban bencana sebut saja namanya Lanang  (Bukan nama sebenarnya)

Congkasae : Waktu kejadian itu kabarnya masih duduk di bangku SD ya, masih ingat detail peristiwanya?

Lanang: Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 19:00 malam (Jumat 2 Maret 2007), hujan sejak jam 12 siang tidak henti-henti, ketika kami pulang sekolah, sampai malam pas kejadian juga hujan tak kunjung henti. Peristiwa itu diawali dengan adanya bunyi ledakan yang bersumber dari puncak gunung yang diikuti dengan material longsor batu, tanah yang mengahntam rumah-rumah penduduk.

Congkasae : Bagaimana bisa sampai adanya begitu banyak korban dalam peristiwa itu?

Lanang: Yang bikin korban banyak itu ketika warga hendak membantu korban longsor pertama, mereka tidak mengira akan adanya longsor susulan yang terjadi dalam volume dan skala lebih besar dari yang pertama itu yang bikin banyak korban.
Lokasi Longsor yang tepat berada di jalur Ruteng Reo menelan puluhan orang warga Gapong, Foto Antonius Rahu/Congkasae.com

Congkasae: Bagaimana ceritanya anda bisa lolos dari peristiwa naas itu?

Lanang: Syukurnya saya tinggal di rumah nenek yang berlokasi sedikit jauh dari tempat kejadian, kejadian itu terjadi pas kami tengah asik duduk minum kopi.

Congkasae: Bagaimana perasaannya ketika menyaksikan proses pencarian Jenazah anggota keluarga?

Lanang: Yang jelas sedih, ada beberapa orang yang tidak kuat sampai pingsan berkali-kali, apalagi proses pencarian korban kala itu berlangsung selama sepekan, jadi itu waktunya panjang, dan ketika ditemukan kondisi jenazah sudah tidak utuh, ada yang hilang beberapa bagian tubuhnya akibat tertimpa material longsor.

CongkasaeAdakah trauma yang terjadi hingga saat ini pasca kejadian?

Lanang: Itu sudah pasti, makanya ketika intensitas hujan di sekitar kampung ini tinggi, kami sudah mulai cemas, kadang kalau hujan malam kami semua mengungsi ke tempat yang lebih aman, kami takut peristiwa itu terjadi lagi.

Congkasae: Terima kasih waktunya semoga para korban diterima dalam kerajaan Surga terutama anggota keluarganya.

Lanang: Amin Sama-sama.
Kondisi bangunan rumah warga Gapong yang hanya berjarak beberapa cm saja dari bibir jurang, Foto Antonius Rahu/Congkasae.com

Congkasae.com pun penasaran dengan topografi kampung Gapong, yang berada tepat di pinggir jalan menuju ke Reo itu.

Untuk itu Congkasae.com melakukan survei langsung dan bertemu dengan warga kampung secara langsung.

Dalam pengamatan Congkasae, kampung Gapong memang berada dalam zona bahaya. Pasalnya rumah-rumah warga dibangun di pinggir jurang yang kemiringanya hampir 80 derajat.

Congkasae.com berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala setelah melihat kondisi dan topografi kampung Gapong.

Sejumlah pertanyaanpun muncul dalam benak, mengapa mereka tetap bertahan dalam situasi seperti ini?

Apakah mereka tidak tahu ancaman yang terus mengintai mereka setiap waktu? apakah tidak ada tempat lain untuk bermukim selain tempat ini?

Untuk menjawab pertanyaan itu congkasae.com pun menemui MA salah seorang tetua di Gapong (nama dirahasiakan atas permintaan narasumber).

Berikut adalah petikan wawancara Congkasae.com dengan MA
Kondisi Rumah warga Gapong hanya berjarak beberapa meter dari jurang, Foto Antonius Rahu/Congkasae.com

Congkasae: Sejak kapan bermukim di sini?

MA: Saya pindah ke sini sejak usai nikah, sebelumnya kami punya kampung itu di sebelah tapi karena di sana sudah padat makanya kami pindah ke sini.

Congkasae: Mengapa memilih tempat ini, apa yang istimewah dari tempat ini?

MA: yang jelas dekat dengan kampung asli kami, terus dekat dengan kebun dan air minum, kan itu intinya kita orang Manggarai ini pak.

Congkasae: Tidak takut dengan ancaman longsor seperti yang sudah-sudah?

MA: mau bagaimana lagi, pak kami ini dilema di satu sisi mau pindah tapi di sisi lain kami tidak punya tempat yang cocok untuk bangun rumah, terpaksa ya di sini saja.

congkasae: Tapi ini bahaya yang sudah kelihatan, ketika buka pintu dapur langsung ketemu Jurang terjal sedalam ratusan meter ini horor bagi saya.

MA: Mau bagaimana lagi inilah kampung kami, sudah diwariskan sejak nenek moyang kami dulu, mau pindah juga pindah kemana? terpaksa bertahan disini.
Di lokasi ini dulu puluhan orang tertimbun Longsor namun kini sudah dibangun pemukiman penduduk Gapong, Foto Antonius Rahu/Congkasae.com

Congkasae: Bagaimana perasaannya kalau hujan malam-malam?

MA: itu kondisi yang paling tidak aman, kalau hujan malam kami tidak tidur, kami hanya berdoa semoga hujan cepat redah dan jika hujan lebih dari jam sepuluh ke atas kami semua mengungsi ke tempat yang lebih aman biasanya di Mbaru Gendang di atas.

Congkasae: Ini ibarat telur di ujung tanduk, sangat tidak nyaman.

MA: Benar sekali.

Congkasae: Apakah ada solusi yang ditawarkan pemerintah seperti relokasi?

MA: Dulu pemerintah sudah sempat tawarkan untuk relokasi seperti itu, tapi karena jauh dari lokasi ini makanya banyak yang kurang setuju, kalau kami pindah bagaimana nasib kebun serta tanaman yang kami sudah rawat?

Congkasae: Wah terima kasih waktunya Opa semoga sehat-sehat dan Tuhan senantiasa melindungi Opa.

MA: Amin terim kasih sudah berkunjung kemari.

Pelajaran Berharga dari Longsor Gapong
Selain MA, ada ratusan warga Gapong yang juga memiliki perasaan tidak nyaman, manakalah hujan mengguyur wilayah itu dalam kurun waktu yang cukup lama.

Salah satunya AB, Pria yang memiliki lima orang anak ini membagikan kisahnya ketika congkasae.com mendatangi kediamannya.

"Jadi beginilah kondisi rumah kami di Gapong," kata AB, yang sedang mengurusi pakan ternak di belakang rumahnya.

AB mengaku telah puluhan tahun berdomisili di Gapong, meski dihantui rasa takut dan was-was jika hujan lebat mengguyur wilayah itu terutama di malam hari.

"Yang paling kami takuti itu jika malam hari hujan, ae itu kami tidak bisa tidur nyenyak sudah pak,"katanya kepada Congkasae.com Antonius Rahu.

Ia berujar, Longsor Gapong 13 tahun silam di samping tragedi kemanusiaan terbesar juga sebagai peringatan dari alam.
Nama-nama Korban Longsor Gapong kini ditempatkan di monumen Gapong yang terletak di kampung Gapong, Foto Antonius Rahu/Congkasae.com

"Memang woko pintar bail itet manusia hoo toe manga di'an kole pak (kalau manusia ini terlalu pintar juga tidak baik),"kata pria 48 tahun itu.

"Danong lite poco hitu eta mai ata ngai di'an kin, haju mese keta kanang hitu etan (dulu wilayah hutan yang jadi Longsor itu ditumbuhi pepohonan besar-besar,"tambahnya sembari mengiris makanan babi.

Namun pada beberapa tahun silam, warga sepakat untuk menebang hutan yang berlokasi dekat dengan kuburan umum kampung Gapong.

"Alasannya waktu itu untuk membersihkan area kuburan yang diganti dengan tanaman kopi Unggul itu memang tanah umum,"katanya.

Alhasil AB berujar, hutan itu pun dibabat habis, digantikan tanaman holtikultura kopi, Naas nya tanaman kopi milik warga Gapong itu belum berbuah, ketika tragedi Longsor tahun 2007 silam.

"Kopinya kami tidak pernah kecap hingga sekarang, malah kami dapat imbas dari dosa kami semua di masa lalu,"ucapnya.

"Hoo de ndekok dite taung ( ini dosanya kami semua),"sembari menunjuk ke arah longsor yang menewaskan 29 orang pada 2007 silam.

AB berpesan kepada semua orang untuk tidak membabat hutan secara liar, apa lagi jika itu berlokasi dekat dengan kampung.

"Cukup kami sudah yang begini, jangan sampai ada lagi Gapong-gapong yang kedua dan ke tiga di Manggarai ini,"katanya dengan nada menyesal.

Pantauan Congkasae.com saat ini lokasi yang disebut pernah dibabat untuk ditanami kopi itu memang sudah ditumbuhi pepohonan yang ternyata merupakan program pemerintah bersama aparat TNI.

Meski tragedi longsor Gapong sudah terjadi 13 tahun silam, namun ada pelajaran yang berharga yang kita dapatkan dari peristiwa ini.
Lokasi kampung Gapong dipotret dari pertigaan Jalur Ruteng Reo, Foto Antonius Rahu/Congkasae.com

Pelajaran tentang menjaga dan melestarikan alam, tentang mengurangi kerakusan akan kekayaan alam di Manggarai di tengah maraknya perambahan hutan secara liar, serta kegiatan penambangan yang tidak terukur.

Manggarai harus tetap asri, harus tetap cantik harus tetap Molas secantik Molas Manggarai demi anak cucu kita.

Penulis: Antonius Rahu

Note: Tulisan ini hasil investigasi secara langsung, dilarang mengcopy paste sebagian atau seluruh isi tulisan ini tanpa ijin penulis.

No comments:

Post a Comment