- -->
  • Jelajahi

    Copyright © Congkasae.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Legenda Danau Sano Nggoang dari Ulah Sibuta dan Lumpuh Hingga Kutukan Empo Taek

    Penulis: Antonius Rahu | Editor:Tim Redaksi
    11 Maret, 2026, 11:17 WIB Last Updated 2026-03-11T04:21:18Z
    Post ADS 1
    Post ADS 1
    Legenda Danau Sano Nggoang dari Ulah Sibuta dan Lumpuh Hingga Kutukan Empo Taek

    Danau Sano Nggoang merupakan danau vulkanik terdalam di dunia kedalamanya mencapai  90 meter di atas puncak pegunungan Sano Nggoang.

     [Congkasae.com/Sosial Budaya] Keberadaan danau Sano Nggoang yang terletak di desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Flores masih menyisahkan tanda tanya besar terutama soal kapan terbentuknya danau kawah tersebut dan bagaiamana proses terbentuknya danau itu.


    Meski demikian keberadaan danau itu telah lama dijadikan sebuah legenda yang diwariskan para leluhur masyarakat Sano Nggoang.


    Legenda itu diwariskan dari nenek moyang warga lokal sekitar secara lisan dan hingga kini masih dipercaya masyarakat.


    Konon dahulu kala di tempat itu dibangun pemukiman warga, pada suatu hari ketika warga lain sudah turun ke kebun di kampung hanya menyisahkan dua orang warga yang rumahnya berdampingan.


    Keduanya merupakan warga yang memiliki keterbatasan fisik dan hanya berdiam diri di kampung ketika warga lain bekerja.


    kedua orang itu menderita sakit sejak lahir yang satu menderita buta alias  orang buta dan yang lainnya menderita lumpuh alias si lumpuh.


    Suasana kampung hari itu sangat sepih anak-anak yang hari-harinya ribut di pelataran kampung tak terlihat sementara hari mulai siang.


    Perut si lumpuh mulai keroncong lantaran belum makan sejak pagi, hal itulah yang memaksanya untuk beranjak dari tempat tidur menuju tungku perapian untuk melakukan aktivitas masak untuk makan siang.


    Meski demikian si lumpuh baru menyadari jika api yang ia nyalakan sejak pagi rupanya telah padam. Ia segera mencari batu api yang dipakai untuk menyalakan api namun batu api itu tidak ada.


    Hal tersebut memaksanya untuk meminta bantuan kepada tetangga rumahnya yakni si buta untuk membawakannya api.


    "Oe lawa ba koe aku api gau itu ra (Si buta tolong bawakan saya api),"teriak si lumpuh dari dapurnya.


    Mendengar hal itu si buta menyahut dari rumahnya,"Bo api gaku ra, maik sui ban laku api hitu, toe manga ata koe, (saya memang memiliki api akan tetapi saya tidak bisa membawakannya untukmu karena tak ada anak kecil yang bisa disuruh),"sahut si buta.


    "Oe darat nggitun bo ko?" sahut si lumpuh.


    "Asa eme nggoo ge aku pongo one iko de Lawe mempos api ho,o eme poli hitu tong benta ngasang de lawe kudu ba api latang hau? (Bagaimana jika saya mengikatkan api di ekor anjingku Lawe lalu engkau harus memanggil namannya agar Lawe yang mengantarkannya untuk engkau?"sahut si buta.


    Adapun Lawe merupakan anjing peliharaan si buta yang hari itu kebetulan berada di rumah si buta dan tak turun ke kebun.


    "Oe darat diam me nggitu ra (baiklah kalau begitu),"sahut si lumpuh.


    Si buta pun mulai mengambil sebatang kayu api yang masih menyisahkan bara api di salah satu ujungnya lalu kayu itu diikatkan pada ekor anjing peliharaan yang bernama Lawe.



    "Polig laku pongon mempos api one iko de Lawe, benta laun ga,( aku telah mengikatkan api di ekor si Lawe silahkan engkau memanggil nama Lawe),"sahut si buta.


    Mendengar hal itu si lumpuh mulai memanggil nama anjing Lawe agar ia mengantarkan api bagi si lumpuh.


    Mendengar namanya dipanggil dari rumah si lumpuh, anjing atupun bangkit berdiri dan berlari ke rumah si lumpuh.


    Meski demikian kayu api yang diikatkan pada bagian ekor si Lawe membuatnya tak nyaman dalam mengibaskan ekornya.


    Alhasil api itu mulai membakar akor si Lawe hingga menimbulkan nyala api, akibatnya Lawe bukan lagi berlari ke rumah si lumpuh melainkan berlari di pelataran kampung sembari berusaha melepaskan api dari ekornya.


    Melihat hal itu si lumpuh tertawa terbahak-bahak lantaran tak kuat menahan lucu.


    "Darat ape tawa gau itu ra? (apa yang engkau tertawakan?),"tanya si buta dari dalam rumahnya.


    "Oe muntung ikon hia Laweg ra toe ma molorn ga (ekornya Lawe telah terbakar api sembari pontang panting lari meminta pertolongan),"sahut si lumpuh dari pintu rumahnya.


    Mendengar hal itu, si buta dan si lumpuh tertawa terbahak-bahak lantaran hal lucu yang dilakukan anjing perliharaan mereka sendiri.


    Di tengah keduanya yang sedang terpingkal-pingkal lantaran lelucon yang diciptakan tiba-tiba muncul lah empo Taek dan menanyakan hal lelucon apa yang telah terjadi.


    "Darat....ape tawa gemi itu ra?( hal apakah yang telah memicu kalian hingga tertawa terpingkal-pingkal?),"tanya emp Taek.


    "Oe empo acu Lawe gaku ata muntung ikon hio laun,(anjing peliharaan saya yang ekornya telah hangus terbakar),"sahut si buta.


    "Oe.....daratna......a wleng meu ape ngoengs? ghang tokar ko ghang leme? (apa yang kalian inginkan mau makan nasi yang keras atau mau nasi bubur?,"sahut empo Taek.


    "Ami ngoeng ghang leme ta empo(kami menginginkan makan bubur empo),"sahut si buta dan si lumpuh.


    Mendengar jawaban keduanya, empo Taek langsung menancapkan tongkatnya ke tanah, seketika itu juga keluarlah air panas dari dalam tanah.


    Air panas itu semakin membesar hingga akhirnya mulai menenggelamkan perkampungan si buta dan si lumpuh.


    Sementara empo Taek menghilang dari lokasi itu, adapun air itu semakin membesar dan menenggelamkan si buta dan si lumpuh hingga terbentuklah sebuah danau besar yang dinamakan Sano Nggoang.


    Hingga kini danau Sano Nggoang itu menjadi danau vulkanik terdalam di dunia, kedalamannya diperkirakan mencapai 90 meter.


    Selain itu tokoh adat Wae Sano Maksimus Taman mengatakan masyarakat sekitar meyakini bahwa di dasar danau itu terdapat seekor ular raksasa yang bertugas untuk menjaga danau Sano Nggoang.


    "Ada ular besar yang ada di dalam danau ini ular itu pada malam hari kepalanya akan muncul di permukaan air,"ujar Maksimus Taman.


    Ia mengatakan dalam mitologi kuno yang berkembang dalam lingkungan masyarakat sekitar danau itu, ular raksasa itu akan muncul ke permukaan air pada malam hari dengan kondisi mata yang menyala-nyala bagaikan api.


    "Mitosnya begitu tapi kami sendiri tak pernah menyaksikan hal itu,"ujarnya.


    Ia berkesimpulan penamaan danau itu diambil dari mitologi ular si penjaga danau dengan mata menyala-nyala bagaikan api di permukaan air.


    "Berdasarkan mitologi itu sehingga kami menduga nama danau ini diambil dari ular dengan mata menyala-nyala makanya namanya danau Sano Nggoang,"ujar Maksimus Taman.


    Menurut warga sekitar danau hingga kini danau itu tak memberikan penghidupan apa-apa.


    Tak ada satupun ikan dan katak yang bisa bertahan di dalam kawasan danau itu lantaran tingginya kandungan racun sulfur dan belerang yang menyengat di kawasan itu.


    "Dulu di danau ini pernah dilepas liarkan ikan oleh seorang misionaris Jerman pater Erwin Smuth SVD, tapi ikan-ikan itu mati semua,"kata tokoh masyarakat Wae Sano Servatius Senaman.


    Selain itu pada musim penghujan terutama di bulan Februari dari kawasan danau ini terdengar bunyi letupan menyerupai meriam.


    "Jika terdengar  bunyi letupan maka air ini akan mengeluarkan racun, orang-orang akan menderita sakit,"ujarnya.


    Selain itu aliran air yang mengandung racun itu akan masuk ke danau besar dan menyebabkan matinya tumbuhan air yang tumbuh di pinggir danau itu.


    "Jadi danau ini hampir dipastikan tak dapat memberikan penghidupan apa-apa,"tambahnya.


    Tokoh masyarakat lain atas nama Maksimus Taman mengatakan danau ini terdapat dua danau kecil yang mengeluarkan air hangat dan air panas.


    Danau kecil yang satunya seringkali digunakan warga untuk mandi terutama bagi orang yang menderita penyakit kulit seperti kudis, kurap panu.


    "Nah mereka mandi di kolam kecil yang airnya hangat untuk penyembuhan penyakit,"kata Maksimus.


    Sementara mata air yang satunya lagi bernama wae bobok di mata air ini akan mengeluarkan air mendidih dengan suhu mendekati 130 derajat.


    "Di mata air ini orang biasanya merendam pandan untuk menganyam topi atau tikar, bisa juga dipakai untuk merebus telur,"katanya.


    Meski demikian sebelum menggunkan mata air wae Bobok untuk merendam pandan atau memasak telur harus dilakukan ritual khusus.


    Ritual itu berupa sahutan atau sapaan singkat ketika hendak memasuki area mata air wae Bobok.


    Ia mengatakan ritualnya sangat mudah yakni setiap orang harus menyapa Empo Taek dengan sapaan khas masyarakat setempat.


    "Uuuuuu......empo mame hang ko? kurang lebih begitu sapaannya,"kata Maksimus Taman.


    Sapaan itu menurut Taman, bertujuan agar suhu di mata air Wae Bobok meningkat drastis,"biar mata airnya akan mendidih sehingga cepat matang,"katanya.


    BACA JUGA

    Legenda Terbentuknya Danau Rana Mese, Bermula dari Perang


    Sejarah Danau Ranaka, Dulunya Jadi Tempat Pemandian Bidadari


    Rana Tonjong, Surga Tersembunyi di Sambirampas Manggarai Timur

    Komentar

    Tampilkan

    Bersama Menjaga Warisan Kita

    Dukung Congkasae agar terus hidup dan tumbuh sebagai suara budaya Manggarai.

    Kenapa Kami Butuh Dukungan?

    Congkasae.com hidup dari semangat dan cinta pada budaya. Tapi kami juga perlu dana untuk membayar penulis lokal, mengembangkan situs, dan mendokumentasikan cerita-cerita budaya kita.

    Donasi Sekali atau Rutin

    Atau transfer langsung:

    • BRI 472001001453537 (a.n. Congkasae)
    QRIS

    Pasang Iklan atau Kerja Sama

    Kami membuka kerja sama dengan UMKM, NGO, sekolah, atau pemerintah daerah untuk iklan, pelatihan, dan proyek kolaboratif.

    Kontak Kami Langsung

    Kata Mereka

    "Saya senang bisa mendukung media yang memperjuangkan akar budaya Manggarai." – Julius, diaspora di Jakarta
    "Congkasae adalah media yang dekat dengan hati kami di Manggarai." – Frans, guru di Ruteng