Pepo Re’a, Ritual Tolak Bala Orang Rongga Manggarai Timur - Congkasae.com

Hoos ata werud

14 March, 2020

Pepo Re’a, Ritual Tolak Bala Orang Rongga Manggarai Timur

Ritual ini dihelar oleh teua adat masing-masing suku, Foto Marselino Ando/Congkasae.com

[Congkasae.com/Sosial Budaya] Melahirkan anak dengan selamat dan sehat secara fisik tentunya jadi dambaan setiap calon ayah dan ibu. Pasalnya, anak merupakan citra dari orang tua yang nantinya akan menjadi penerus dan kebanggaan keluarga.

Namun begitu pilu hati calon Ayah dan Ibu ketika mereka harus menerima kenyataan pahit karena calon bayi meninggal dalam kandungan.

Sebagai umat yang beriman, tentunya kita mengamini bahawa semua insiden ini merupakan kehendak Maha Kuasa yang menciptakan langit, bumi dan segalah isinya.

Orang Rongga di Kisol, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur juga mempunyai persepsi yang sama kalau semua kejadian ini merupakan rencana sang Khalik.

Akan tetapi, mereka memiliki cara tersendiri agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan ketika si Ibu mengandung yang kedua kalinya.

Namanya Pepo Re'a yakni sebuah ritual tolak bala, terkait kejadian pahit sebelumnya agar tidak terjadi lagi di masa depan.

Seperti biasanya, acara sesakral ini harus dilakukan dalam rumah adat, warga sekitar menyebutnya dengan istilah Sa'o.

Ritual ini tidak sembarangan digelar, hanya  tetua adat dari suku yang bersangkutan saja yang boleh memimpin ritual adat ini.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahawa setiap ritual harus dilakukan melalui sebuah sarana dan mengorbankan hewan yang diyakini sebagai perantara ke Embu Nusi (roh leluhur).

Ritual Pepo Re'a ini bisa dilaksanakan pada siang hari, asalkan kedua unsur keluarga dan yang terpenting seperti orang tua dari calon Ayah dan Ibu hadir.

Pasalnya, pada acara puncaknya setelah penyembelihan Manu Sepang (ayam jantan berukuran sedang), masing-masing orang tua mengoles punggung kaki bagian kanan anaknya dengan darah ayam.

Pengolesan darah ayam pada kaki diyakini sebagai bentuk pemutusan terhadap kejadian sebelumnya, sembari berharab mereka dikaruniai anak yang sehat.

Konon, berdasarkan cerita para sesepuh tradisi ini sudah dilakukan oleh nenek moyang orang Rongga di Kisol sebelum mereka mengenal dan menerima agama.

Di era moderen seperti sekarang ini, kendati melalui ritual ini mereka memohon kepada Embu Nusi (roh leluhur), namun mereka tidak menampik kalau terwujudnya semua harapan yang baik itu berkat campur tangan dan restu yang Maha Kuasa.

Uniknya hampir  semua tetua adat di masing-masing Sa'o (rumah adat) memiliki kemampuan untuk melakukan ritual ini.

Jika usia sudah benar-benar senja, mereka akan menurunkan dengan cara mengajarkan ritual ini pada orang yang tepat sebagai bentuk regenerasi.

Penulis: Marselino Ando
Editor: Antonius Rahu

No comments:

Post a Comment