Sistem Perkawinan Tungku dan Potret Kehidupan Orang Manggarai Masa Kini - Congkasae.com

Hoos ata werud

21 January, 2019

Sistem Perkawinan Tungku dan Potret Kehidupan Orang Manggarai Masa Kini

Foto Ilustrasi (Flores Muda)

***Oleh Antonius Rahu***

Menikah merupakan salah satu hal yang pasti dilakukan oleh setiap orang awam. Karena menikah merupakan salah satu cara mempertahankan populasi, termasuk keturunan dan klen.

Karenanya memilih pasangan hidup menjadi poin penting sebelum memutuskan untuk menikah, sehingga keturunan yang didapatkan berkualitas terutama dari sisi bibit, bebet dan bobotnya.

Di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur Bicara tentang  bibit, bebet dan bobot  rupanya tidak hanya berhenti di tiga aspek itu.

Ada satu tambahan variabel dalam menentukan pilihan hidup atau Jodoh, yakni tentang kemampuan mempertahankan harta dan kekayaan dalam suatu keluarga.
Tradisi sompo molas dalam adat Manggarai Barat (Foto Rikard_Djegadut via Picksky)

Bagi orang Manggarai zaman dahulu, mempertahankan kekayaan agar tidak sampai jatuh ke tangan orang lain merupakan salah satu aspek yang paling penting sebelum memutuskan menikah dengan seseorang.

Pada artikel ini akan diuraikan mengapa dan bagaimana sejarahnya sampai adanya sistem perkawinan Tungku dalam adat Manggarai.

Tiga Sistem Perkawinan Orang Manggarai

Secara umum terdapat tiga sistem perkawinan dalam adat dan budaya Manggarai, ketiga sistem perkawinan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu.

Sistem ini pula yang senantiasa menjadi acuan bagi setiap orang Manggarai dalam menentukan pasangan hidupnya.

Tiga sistem perkawinan itu meliputi sistem perkawinan Cangkang, sistem perkawinan Cako dan sistem perkawinan Tungku.

Sistem perkawinan Cangkang mengacu pada sistem perkawinan yang terjadi antar suku (dua suku yang berbeda).

Sistem perkawinan semacam ini sering juga disebut laki pe,ang atau wai pe,ang (menikah dengan orang di luar suku). Sistem pernikahan semacam ini yang lazim ditemukan di seluruh belahan bumi.

Sistem perkawinan Cako mengacu pada sistem perkawinan yang terjadi dalam rumpun suku sendiri, biasanya masih terdapat hubungan kekerabatan dalam keluarganya.
Molas Manggarai sedang menari (Foto Manggaraian Coulture Via Picksky)

Namun masih bisa ditolerir misalnya sistem perkawinan antara anak laki-laki dari keturunan adik serta anak perempuan dari keturunan kakak. Tapi bukan adik kakak kandung, mungkin masih memiliki hubungan satu kakek atau nenek.

Sistem perkawinan tungku atau yang sering disebut dengan istilah crosscousin unilateral, merupakan salah satu bentuk perkawinan yang terjadi antara anak laki-laki dari saudari perempuan dengan anak perempuan dari saudara laki-laki.

Perkawinan semacam ini merupakan salah satu bentuk perkawinan yang diduga menjadi penyebab meningkatnya populasi orang Manggarai yang menderita penyakit genetik. Hal tersebut terjadi akibat dari kesamaan genetika yang terdapat dalam dua mempelai, karena masih berasal dari keturunan yang sama.

Tungku, Harta dan Penyakit Genetika yang Mengintai

Orang Manggarai zaman dahulu sangat berhati-hati dalam menentukan jodoh bagi buah hati mereka, apa lagi jika posisi keluarga sudah mapan secara finansial (Ata Bora), maka menetukan jodoh bagi sang anak selain memperhatikan tiga aspek bibit, bebet dan bobot, perlu juga dipertimbangkan bagaimana nasib harta dan kekayaan dalam keluarga kelak.

Jika menerapkan sistem perkawinan Cangkang atau Cako, maka kemungkinan besar harta dan kekayaan dalam keluarga akan berpindah ke tangan orang lain (ata peang mai).

Karena dua sistem perkawinan tersebut tidak memperbolehkan kedua mempelai calon pengantin berasal dari keluarga yang sama (satu ayah dan ibu).
Kain Songke sering dipakai dalam upacara adat Manggarai (Foto Manggarai Coulture via Picksky)

Akibatnya orang mulai berpikir, tentang sistem perkawinan baru yang memberlakukan dua orang mempelai berasal dari keturunan yang sama (satu ayah dan ibu).

Dari sanalah lahirnya sistem perkawinan tungku, yakni sistem perkawinan dimana mempelai perempuan berasal dari anak saudara laki-laki, sementara mempelai laki-laki berasal dari saudari perempuan.

Saudara laki-laki dan perempuan ini masih berasal dari satu rahim yang sama, yakni ayah dan ibu yang sama.

Tujuan utamanya hanya satu, yakni untuk mempertahankan harta kekayaan dalam keluarga. Hal tersebut dilegalkan pada masa itu, karena orang Manggarai masa itu belum mengenal dunia medis sehingga tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan kelak.

Sehingga tidaklah mengherankan jika populasi orang Manggarai yang menderita penyakit genetika pada masa itu meningkat drastis.

Orang-orang yang lahir dengan kondisi cacat mental dan fisik serta bayi yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat meningkat drastis.

Hal tersebut dianggap malapetaka dari sang Jari Agu Dedek (Tuhan), karena dianggap pernah melakukan kesalahan seperti tidak melakukan penti, teing hang empo, dan lain sebagainya.

Orang Manggarai pada masa itu belum mengenal agama, mereka masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme (Kepercayaan kepada roh atau benda).

Mereka tidak mengetahui jika biang utama dari penyakit genetika yang dialami adalah datang dari sistem perkawinan tungku yang dijalankan demi mempertahankan harta dalam keluarga.

Akibatnya populasi orang dengan cacat mental dan fisik pada masa itu boleh dibilang meningkat tajam. Tak ada satupun orang yang bisa menghentikan laju perkembangan penyakit genetika yang terjadi pada masa itu.

Agama dan Misionaris yang Menyelamatkan

Pada tahun 1876 masuklah agama ke kawasan Flores bagian barat khususnya wilayah Manggarai Raya saat ini.

Pada masa itu pengaruh penjajahan Belanda dan Portugis kian melebar ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Flores bagian barat.

Di balik prajurit-prajurit Portugis rupanya disusupi oleh misionaris yang datang hendak menyebarkan agama ke daerah jajahan.

Akibatnya daerah jajahan Portugis (Flores dan sebagian pulau Timor khususnya Timor Leste) menjadi daerah dengan pusat perkembangan agama Katolik paling pesat.
Gereja Katedral Ruteng jadi bukti sejarah masuknya agama Katolik di Manggarai

Orang-orang yang tidak memiliki agama dibaptis orang Manggarai menyebutnya dengan istilah (wae Serani atau Serani, mungkin berasal dari kata Nasrani saya juga tidak tahu).

Alhasil gereja-gerja mulai didirikan, sistem pertanian yang tadinya hanya mengenal dua musim yakni musim ka,eng bo dan musim cekeng kini berubah drastis.

Tadinya orang Manggarai hanya mengenal sistem pertanian ladang kini sudah mulai mengenal sawah, dan tanaman-tanaman lainnya.

Salah satu perubahan paling fundamental dalam kehidupan orang Manggarai masa itu adalah adanya sistem pendidikan, sistem perkawinan Poligami dan tungku akhirnya diubah secara besar-besaran.

Semenjak saat itu, gereja mulai melarang keras adanya poligami dalam masyarakat, selain itu gereja juga melarang adanya sistem perkawinan tungku.

Alasannya tunggal yakni menghentikan laju penyakit genetika yang sedang berkembang pada masa itu. Hingga kini gereja masih melarang sistem perkawinan tungku, dengan menerapkan aturan denda bagi mempelai yang melanggar.

Kehadiran misionaris dan agama, benar-benar menjadi terang bagi orang Manggarai pada masa itu, alhasil, laju penyakit genetika bisa dikendalikan.

Populasi Orang-orang yang lahir cacat bisa dikurangi, orang Manggarai bisa hidup secara normal layaknya orang-orang lainnya.

Tungku Masa Kini, Masih Relevankah?

Bicara tentang tungku di era milenial rupanya masih belum ada habis-habisnya. Baru-baru ini penulis juga mengalami sendiri apa yang diuraikan dalam tulisan ini.

Hubungan yang kami bangun selama hampir setahun lebih harus jedah, karena Moni, sang kekasih hati itu pergi meninggalkan saya, alasannya hanya satu, yakni Moni lebih memilih pria tungku nya ketimbang saya.

Nyesek memang rasanya, tapi sudahlah lupakan Moni dan pacar barunya si genok tungku itu, mari kita bahas dulu ini barang sampai habis hahahaha.

Bicara tungku di era milenial ini seharusnya sudah bukan lagi menjadi bahan trending topik, mengingat populasi orang-orang yang terdidik dalam hal ini sarjana sudah kian banyak.

Seharusnya aspek tingkat  pendidikan yang diraih harus berbanding lurus dengan tingkat pemahaman adat dan budayanya. meski saya harus mengakui bahwa hal itu tidak diajarkan di bangku kuliah.

Apalagi dalam pelajaran Muatan Lokal yang diajarkan di sekolah-sekolah. Seharusnya sekolah menjadi medium paling tepat serta menjadi ujung tombak dalam menanamkan nilai-nilai adat dan budaya ini.

Akan tetapi, hal itu rupanya belum dilakukan oleh pemerintah saat ini, akibatnya orang masih beranggapan bahwa tungku merupakan budaya warisan nenek moyang yang mutlak dilaksanakan serta dijaga kelestariannya.

Meski adanya ancaman penyakit genetika yang sedang mengintai, dan gereja dengan lantang menolak sistem perkawinan ini, tapi nyatanya? hmmmmmm......itu masih tetap dijalankan, seperti yang dilakukan Moni.

Sebagian isi tulisan ini dibuat berdasarkan data dari nenek Alm Rosalia Ja'ung saksi pertama saat masuknya agama Katolik di Manggarai.

Penulis merupakan Bloger, mantan Jurnalis dan pengajar, saat ini menetap di Denpasar Bali, Tulisan-tulisannya sering terbit di beberapa media daring lokal di Flores maupun di tingkat Nasional.

Baca juga:

1. SONGKE DAN IDENTITAS ORANG MANGGARAI

2.BELIS DI MANGGARAI BENTUK PENGHARGAAN TERHADAP PEREMPUAN ATAU HUMAN TRAFFICKIN?

3. MOLAS MANGGARAI DAN BEDAK VIVA NOMOR LIMA

4.ORANG MANGGARAI DAN PRINSIP HIDUP YANG DIANUTNYA

No comments:

Post a Comment