Jomblo: Pilihan, Keputusan dan Keberpihakan Tuhan - Congkasae.com

News Update

08 May, 2020

Jomblo: Pilihan, Keputusan dan Keberpihakan Tuhan


**Catatan Alves Ramli**

Lika liku  kisah cinta dalam ranah kalangan muda sungguh tak dapat terhitung rasanya. Mulai dari kisah cinta yang penuh drama apalagi dengan bumingnya DRAKOR (Drama Korea) sampai pada kisah cinta yang bernuansa romansa yah sampai pada romansa tak terbatas .

Namun diantara kaum muda yang tengah keasmaraan cinta tersebut, ada juga orang yang tengah mencari cinta hendaklah kita namai mereka dan termasuk saya ialah jomblo.


Sang jomblo  identik dengan keadaaan tanpa pasangan lebih jelasnya adalah sesorang yang tak mempunyai pacar.


Kerap kali identitas sebagai jomblo akan menjadi acuan seseorang untuk mengejek bahkan akan dianggap sama eksistensinya, karena tak pernah terlihat menepi di sisi pasangannya.


Namun secara personal jomblo bagi saya ialah pilihan dan keputusan, karena untuk tetap jomblo saya telah memikirkan dan memutuskan terlebih dahulu, demi terciptanya sebongkah kenikmatan masa-masa sendiri dimana yang diprioritaskan ialah potensi.


Kesedihan memang selalu dicitrakan pada keadaan tanpa pasangan. Semakin diperkaya kesedihannya oleh adanya media social.


Status yang menyindir para jomblopun datang sili berganti. Namun para jomblo terkadang diciutkan dengan status status curhatan kocak soal keadaan tanpa pasangan yang bisa membuat orang tertawa namun sedih nan kasihan.


Jadi Jomblopun harus totalitas, yah totalitas adalah kualitas. Jadikan waktu kesendirian itu untuk memperbaiki, berbenah dan mencari jalan untuk menemukan jati diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.


Setidaknya mengetahui bahwa hidup berpasangan tak semudah membalikan telapak tangan. Selain itu, bagi saya keadaan tanpa pasangan atau yang identik disebut jomblo adalah Strong Man.


Karena mampu mepertahankan nilai-nilai kepribadian sebagaimana dapat dikatakan sebagai subjek yang mandiri dalam setiap alur kehidupan ini. Jadi jomblo berarti tak rela mempersilahkan diri sebagai objek kehidupan.                                                                   

Kelebihan hidup menjomblo kini kurasakan kenikmatanya yang berlimpah ruah, yang krusial terjadi dalam liku hidupku ialah tak pernah merasakan kebebasanku dipenjarakan oleh kata-kata yang seolah mampu membuatku  tergoda yang tentunya kita semua tahu namanya ialah CINTA.


Pada dasarnya, duniaku adalah duniaku bukan dunia orang lain. Aku tak pernah menyukai bakso malvinas yang ada kata mesra dicampur sambal tomat.


Eh….artinya duniaku tak mau diatur oleh orang lain, kemana-mana diatur, mau berbuat apa-apa diatur. Ah,,,bosan emang gue robot yang selalu dikontrol oleh remote.


Perihal terpenting dalam mempertahankan keadaan tanpa pasangan atau jomblo adalah mempertimbangkan eksistensi Tuhan sebagai penyelenggara kehidupan.


Yang jomblo paling dominan mengingat Tuhan dalam semua situasi. Sedangkan yang pacaran akan lebih memprioitaskan Tuhan ketika dirundung pilu misalnya saat sakit hati atau karena sering tersakiti bahkan kadang menyalahkan Tuhan.


Tuhan eee kenapa saya punya nasib jadi seperti ini? Ada yang sampai bilang seandainya Tuhan punya Whatsapp saya mau video call dia agar Tuhan tanda dia punya muka supaya kelak masuk neraka.


Jadi mau jomblo atau apapun aku tak pernah sendiri, aku masih punya Tuhan yang selalu menemaniku dari natalitas hingga mortalitasku.


Jadi tak perlu risau yah teman teman sejawat  yang masih jomblo ingat kita semua adalah manusia yang telah lolos diseleksi untuk selalu memegang teguh pada pendirian, mengelola dunia kita sendiri, pengekangan tidak pernah terjadi, tidak ada kuasa lain yang terjadi kecuali kuasa Tuhan.


Keberpihakan Tuhan. Dalam hening sepi ku termenung selain karena aku sendiri yang menjadikan jomblo ialah pilihan dan keputusan, namun ku tahu Tuhan pasti tengah bekerja untuk berpihak padaku.


Ia mungkin tak mau ku lebih banyak berpikir untuk membahagiakan anak orang ketimbang diri sendiri, karena tak pernah kita tau kapan anak orang itu akan berbalik arah atau bahkan Mundur Tanpa Berita (MUNTABER).


Lalu meninggalkan luka bagiku, seiring dengan pepatah kuno yang tak pernah musnah dari ingatan manusia.


Pepatah kuno itu adalah sebelum janur kunng melengkung masih bisa ditikung. Perkara jodoh tidak akan lebih dekat walau sudah berpacaran lama-lama sebaliknya jodoh tidak akan menjadi sangat jauh walau masih jomblo.


Akhir kata segalanya adalah pilihan hidup terpenting tidak menghakimi pilihan menjadi penderitaan dan luka yang membekas.


Penulis merupakan anak muda kelahiran Manggarai Timur saat ini menetap di Malang.

No comments:

Post a Comment