Belajar Ketulusan pada Wihelmus Dam, Sang Guru Sejati dari Satar Mata Manggarai Timur - Congkasae.com

News Update

08 May, 2020

Belajar Ketulusan pada Wihelmus Dam, Sang Guru Sejati dari Satar Mata Manggarai Timur


[Congkasae.com/Lejong] “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”  pasti kita semua sudah mengetahui bahwa istilah itu diperuntukan bagi seorang Guru.


Ya.. benar, berprofesi sebagai seorang guru bukanlah hal yang mudah karenanya menjadi seorang guru dapat dikategorikan sebagai pekerjaan yang mulia.


“ mencerdaskan kehidupan bangsa , penerang dalam kegelapan” demikianlah sederet istilah untuk seorang Guru.


Bagaimana tidak, Dokter, perawat, pilot, direktur, Anggota Dewan, presiden, bahkan ilmuwan yang hampir setiap waktu berinovasi itu adalah buah dari profesi guru.


Menjadi seorang Guru memang tidaklah berbeda seperti seorang petani yang senantiasa membuang duri dan mencabut rumput yang tumbuh di celah- celah tanamanya seperti kata Hamid All gazali.


Menguras tenaga karena Berjalan kaki hingga ribuan meter, bertaruhkan nyawa karena harus mengarungi derasnya arus sungai Wae Mokel demi mendidik siswa agar bisa melanjudkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.


Itulah yang dilakukan oleh Wihelmus Dam seorang Guru di SDI Satar Mata, Kecamatan Kota Komba Kab, Manggarai Timur, Flores NTT.


Pak Willy, itulah sapaan akrab yang kerapkali disebutkan oleh anak-anak didiknya. Bagi muridnya pak Willy ini adalah sosok yang baik dan humoris, sehingga para siswa tidak pernah jenuh mengikuti pelajaran yang dibawakannya.


Bapak dari empat orang anak ini kabarnya sudah sejak tahun 2002 silam, mengemban tugas di Satar Mata.


Mulai dari status sekolah itu yang masih TRK (Tambah Ruangan Kelas) hingga saat ini Sekolah Dasar Satar Mata yang sudah menyandang setatus Sekolah Dasar Negeri.


Pada tahun 2002, saya ditugaskan ke sini (Satar Mata). Sebelumnya saya tinggal di Wakung Desa Mokel  sekarang Desa Mokel morid kecamatan Kota komba,”katanya kepada Congkasae.com baru-baru ini.


Wily juga mengisahkan kondisi awal sekolah tersebut ketika ia datang pertama kalinya dengan kondisi yang gedung yang memprihatinkan hanya terdapat 1 unit gedung dan isinya 2 ruangan kelas yang reot.


Jumlah muridnyapun kala itu dapat dihitung dengan jari tangan. Sebagian dari mereka sudah berusia remaja dan ada bebrapa yang pantasnya berada di bangku SMA dan kuliah,”tambahnya.


Melihat situasi yang semakin parah akibat jumlah murid yang tidak mencapai kuota, Wily dan teman-teman seprofesinya mengaku sempat putus harapan.


Namun berkat usaha dan kerja keras, Guru dan orang tua murid, puji Tuhan sekolah ini dapat bertahan dalam kondisi kritis,”kisahnya.


Kabar baiknya menurut Wily saat ini kapasitas gedung yang disediakan tidak lagi cukup menampung jumlah murid yang bertambah banyak.


“Atas persetujuan beberapa pihak, gedung kapela akhirnya digunakan untuk ruangan kelas,“katanya.


Satar Mata adalah salah satu daerah terisolir yang jauh dari akses jalan raya apa lagi fasilitas listrik.


Untuk bisa sampai ke Satar Mata, kita  harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 km dari kampung Galong desa Watu Pari dan harus menyebrangi derasnya arus sungai Wae Mokel.


Selain itu, tempatnya yang jauh dari keramaian menyebabkan banyak Guru mudah yang terkadang berpikir dua kali untuk mengabdi di sana.


Di musim penghujan, untuk bisa ke sana, bukanlah perkara gampang, kita harus bertaruh nyawa dengan derasnya arus sungai Wae Mokel.


Namun uniknya kondisi tersebut tidak sedikitpun menyiutkan nyali Wihelmus Dam meski kerap mendapatkan desakan dari keluarganya termasuk anak keduanya Gonzales Dam yang selalu meminta sang ayah untuk segera pindah tugas.


“Awalnya tidak nyaman, bahkan kerapkali meminta bapak  untuk pindah tugas. Namun Beliau tetap bersikuku,”kata Gonzales Dam anak keduanya.


Alhasil kedua puteranya menyelesaikan sekolah dasarnya di Satar Mata dan saat ini sudah menyelesaikan pendidikan S1di salah satu kampus ternama Di Bali.


Berkat perjuangan dan kegigihanya, beliau diangkat menjadi kepalah sekolah beberapa bulan yang lalu.


Tugas yang disebutnya sangat mulia jika ada kegiatan dinas di Borong atau di tempat lain pria berusia 53 tahun ini, harus berjalan kaki dan menempuh jarak yang cukup jauh, melewati aliran sungai yang deras.


Walaupun terkadang langkahnya tertaih-tatih, namun karena tekad yang kuat dan demi mengemban tugas dan tanggung jawab ia tetap semangat manjalankannya.

Baginya menempuh pendidikan menjadi seroang guru lebih mudah jika dibandingkan menjadi seorang guru itu sendiri.


Penulis: Kristo sapang

Editor: Antonius Rahu

 

 


No comments:

Post a Comment