Ketika Rejeki Warga Benteng Redo Manggarai Juga Ikut Dipatok Corona - Congkasae.com

News Update

28 May, 2020

Ketika Rejeki Warga Benteng Redo Manggarai Juga Ikut Dipatok Corona


[Congkasae.com/Lejong] Siang itu cuaca di wilayah perbatasan Manggarai cukup berbeda dari hari-hari sebelumnya, kabut tebal yang disertai guyuran hujan cukup lebat seolah menyambut kedatangan saya ke desa persiapan Benteng Redo, kecamatan Lelak, kabupaten Manggarai.

 

Sebelum memasuki posko covid-19 milik pemkab Manggarai di tapal batas Manggarai dan Manggarai Barat, saya tiba-tiba menghentikan laju kendaraan yang bergerak dari arah Labuan Bajo dan berhenti tepat di depan lapak jualan milik warga sekitar.

 

Sapaan hangat penuh keakraban seorang ibu dari dalam lapak langsung menyambut kedatangan saya,"Mari anak berteduh dulu,"kata salah seorang ibu usia 40 an tahun.

 

Saya pun masuk ke dalam lapak yang berukuran 3 x 4 meter itu, di bagian depan lapak itu tampak dipajang sayuran segar, seperti pucuk dan buah labu, sayur Sawi dan masih banyak lagi.

 

Di dalam lapak tampak sekelompok ibu-ibu tengah menganyam keranjang dari pelepah bambu, sementara dua pria berusia sekitar 30 an tahun juga tampak asik berbincang-bincang sembari menunggu hujan redah.

 

"Gara-gara corona ini, akhirnya kita punya rejeki juga terhalang semua,"kata salah seorang ibu memulai percakapan kami.

 

"Itu sudah mama, bukan hanya kita di sini yang merasakan begini tapi hampir di seluruh dunia,"timpalku.

 

Ibu ini mengeluh soal pendapatannya yang semakin hari semakin berkurang, semenjak wabah corona itu terdeteksi di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

 

Menekuni profesi sebagai penjual sayuran di pinggir jalan trans Flores rupanya sudah dilakukan mama Sebina sejak tiga tahun lalu.

 

"Awalnya lapak ini miliki seorang pedagang bakso, namun karena ia mengeluh sepih akhirnya lapak ini ditinggalnya dan pindah ke sebelah gunung itu,"kisa mama Sebina.

 

Melihat banyaknya sayuran segar di kampungnya mama Sebina mulai memutar otak, ia lantas memanfaatkan lapak milik penjual bakso itu untuk berjualan sayur yang dipetik langsung dari kebunnya.

 

"Saya coba hari pertama jualan pucuk labu, dan ternyata laku semua dibeli oleh orang yang hendak ke Labuan Bajo,"katanya.

 

Sejak saat itu, semangatnya mulai tumbuh, lapak bakso yang tadinya sepih pengunjung rupanya jadi berkat tersendiri bagi mama Sebina.

 

Ia lantas mengajak ibu-ibu rumah tangga lain yang kesehariannya hanya menghabiskan waktu dengan mencari kutu untuk memanfaatkan lapak jualan itu.

 

"Sejak saat itu, kami mulai jualan bersama di lapak ini sampai sekarang,"tambahnya.

 

Jual Sayur untuk Kuliahkan Anak


Mama Sebina mengatakan dari hasil jualan sayur di lapak yang berjarak sekitar 900 meter dari posko Weri itu ia dan ibu-ibu lainnya bisa membawa pulang uang 500 ribu dalam sehari.

 

"Itu kalau ramainya, kami sampai kehabisan stok sayur, biasanya sampai ada kendaraan travel yang berhenti khsus untuk membeli sayur di sini,"kisah ibu lain yang juga menjual sayur dalam lapak tersebut.

 

Ia mengaku dari hasil jualan sayur di lapak tersebut, pihaknya sampai bisa menyekolahkan anak setingkat perguruan tinggi.

 

"Anak saya sekarang sudah kuliah di Bali, biaya kuliah salah satunya bersumber dari hasil penjualan sayur ini,"terangnya.

 

Dari hasil penjualan sayur itu juga digunakan untuk menambal kebutuhan rumah tangga, "jika hanya mengandalkan penghasilan suami saja tidak cukup,"tambahnya.

 

Ia memiliki kebun sendiri yang jaraknya cukup dekat dengan lapak jualannya, kondisi alam Manggarai yang subur di atas ketinggian rupanya menjadi berkat tersendiri bagi mama Sebina dan warga Benteng Redo lainnya.


Terutama yang memilih menghabiskan waktu dengan berkebun dan menjadi penjual di pinggir jalur trans Flores.


Kala Rejeki Juga Dipatok Corona


Namun masa-masa kejayaan tersebut rupanya mulai berubah, semenjak pemerintah memberlakukan sejumlah aturan kepada para pelaku perjalanan antara Manggarai dan Manggarai Barat.


Hal itu juga rupanya berimbas pada frekuensi orang bepergian, khususnya yang melintasi jalur trans Flores di wilayah perbatasan Manggarai dan Manggarai Barat.


Penanggung jawab lapangan posko covid-19 di Weri Pateng, desa persiapan Benteng Redo Leonardus Levynal mengatakan dalam babarapa pekan belakangan terjadi penurunan volume kendaraan yang melintasi daerah perbatasan.


"Ini merupakan kabar yang sangat baik, sekaligus menunjukan bahwa masyarakat mematuhi protokol kesehatan dan anjuran pemerintah untuk tinggal di rumah,"kata Leonard kepada Congkasae.com di posko covid di Weri Pateng.


Sayangnya hal itu rupanya menjadi kabar buruk bagi orang-orang seperti mama Sebina yang menanti pundi-pundi rupiah dari jumlah orang yang melintasi jalur trans Flores.


"Sekarang kami punya rejeki dipatok corona semua, sehari itu syukur-syukur kalau ada yang beli kami punya sayur,"keluh Margareta ibu lain yang juga menjual sayuran di lapak yang sama.


Ia mengaku terpaksa tetap memanen sayur miliknya karena memang musim panennya telah tiba.


"Jika kami tidak panen sayurnya akan mubazir, percuma kami kerja, kalaupun dipanen tidak ada pembeli begini juga sama saja,"keluhnya sambil menganyam keranjang.


Menyikapi kondisi itu, ibu dua orang anak ini mengaku tidak patah arang dalam berusaha, ia tetap menjual sayuran segarnya di lapak sayur seperti biasa

 Setiap hari mama Margareta selalu berdoa semoga ada saja yang mau singgah dan membeli sayuran segar miliknya, biar asap dapur tetap mengepul dan lubang kebutuhan dalam rumah tangganya bisa ditambal.

"Namun rupanya Tuhan belum mendengar doa saya, buktinya sampai sekarang corona ini masih ada,"katanya.


Ia mengaku tidak takut dengan ancaman wabah corona yang dibawah pelaku perjalanan, sesuatu yang disebutnya sudah diatur sang pencipta.

"Kalau soal mati hidup itu Tuhan yang atur, kalau soal kampung tengah itu kita sendiri yang ataur dan tidak ada kompromi,"katanya sembari tertawa.

Mengisi Waktu dengan Menganyam Keranjang

Mama Margareta dan mama Sebina mengaku sepih pembeli dalam beberapa pekan terakhir, namun keduanya sepakat untuk mengisi waktu senggang mereka dengan kegiatan yang bermanfaat.


Menganyam keranjang yang dalam bahasa Manggarai disebut rojok Roto menjadi pilihan tepat bagi keduanya untuk mengusir sepih di lapak dagangannya.


"Daripada sepih begini kita tidak ada kegiatan yang ada nanti kita mengantuk, makanya kami anyam keranjang ini,"kata mama Sebina.


Kendati demikian keduanya membantah jika hasil kerjaninan tangannya akan dijual,"tidak untuk dijual ini untuk keperluan pribadi,"kata mama Sebina.


"Kami di kampung Benteng ini rata-rata petani Kopi dan Cengkeh jadi jika musim panen tiba kami bisa gunakan keranjang ini untuk memetik hasil,"kata mama Margareta menjelaskan.


Keduanya berharap wabah corona ini akan segera berakhir, sehingga pundi-pundi rupiah kembali mengalir dari lapak dagangannya.


Tak terasa hampir dua jam saya mengahbiskan waktu bersama mama Margareta dan Sebina di lapak itu, saya melihat ke luar lapak hujan yang tadinya turun dengan derasnya kini telah pergi menyisahkan jejak becek di halaman depan lapak.


Sayapun berpamitan pulang ke Labuan Bajo, hawa dingin yang mencubit kulit saya dan sedang  menyelimuti kampung Benteng Redo seolah juga ikut mengantar perjalanan saya ke Labuan Bajo.


Penulis: Antonius Rahu

No comments:

Post a Comment