Makna Simbolik Mbaru Gendang dalam Budaya Manggarai - Congkasae.com

News Update

close
MAU CETAK UNDANGAN, Cetak FOTO, UNTUK PERNIKAHAN ANDA?
Ke TONY PRINTING saja, Hubungi kami di 082 342 994 060

 


2 Okt 2021

Makna Simbolik Mbaru Gendang dalam Budaya Manggarai

 


***Oleh Sirilus Yekrianus***

[Congkasae.comSosbud]Salah satu unsur yang menonjol dalam estetika kehidupan orang Manggarai adalah Mbaru Gendang. 


Menurut asal-usul kata, mbaru gendang berasal dari dua kata yaitu mbaru (rumah) dan gendang (alat musik tradisional) yang terbuat dari kayu dan kulit Kambing, (Maribeth Erb, 1999: 103). Mbaru gendang memiliki keindahan bentuk. 


Hal ini dilihat dari bentuknya yang kerucut dan menjadi kohesi kehidupan sosial dan religius masyarakat Manggarai. Dikatakan demikian karena di rumah adat inilah kehidupan sosial-religius ditata sedemikian rupa sehingga membentuk unit sosial yang solid, harmonis dan tangguh. 


Yang menjadi kepala dalam mbaru gendang adalah tua gendang. Perlu disinggung juga, dalam rumah gendang tersimpan beberapa alat musik seperti gendang, gong, dan tambur. 


Di samping itu tersimpan alat-alat permainan Caci seperti, nggiling (perisai penangkis yang berbentuk bulat), larik (cambuk), dan agang (busur penangkis). Untuk mengenal lebih dalam mengenai mbaru gendang, pertama-tama saya akan mengulas tiga konstruksi dasar mbaru gendang. 


Berangkat dari situ, saya akan memperlihatkan makan simbolik mbaru gendang. Melihat makna di balik simbol-simbol dalam mbaru gendang, saya pada bagian selanjutnya mengulas mengenai mbaru gendang sebagai simbol presentasional dan mbaru gendang sebagai simbol legitimasi kekuasaan.

Kecemerlang Bentuk dan Struktur Mbaru Gendang

Pada bagian sebelumnya sudah disinggung bahwa mbaru gendang berbentuk kerucut. Karena bentuknya yang demikian, maka orang Manggarai sering menyebutnya mbaru niang dan beratap ijuk (wunut-rimang). 


Dari struktur keindahan atau kecemerlang mbaru gendang memiliki tiga konstruksi dasar yaitu ngaung (kolong rumah), riwok (bagian tengah), dan lobo (atap). 


Ketiga unsur ini memiliki nilai simbolis yang sarat makna karena berkaitan erat dengan nilai hidup orang Manggarai. Saya melihat bahwa ketiga konstruksi dasar ini memiliki konsep estetis-kosmogis yang akan diuraikan lebih lanjut dalam tiga bagian berikut ini. 


Pertama, Ngaung. Ngaung (kolong rumah) adalah bagian sebelah bawah dari mbaru gendang. Ngaung dalam mbaru gendang melambangkan dunia bawah, dunia penuh dengan kegelapan, dunia orang mati. Orang Manggarai meyakini, setan atau roh-roh halus yang hendak mengganggu kehidupan manusia, datang dan tinggal di bawah kolong rumah sebelum mengganggu manusia. 


Orang Manggarai sering mengatakan “jaga poti wa ngaung” (awas setan di kolong rumah). Hal ini menunjukan bahwa setan tidak jauh dari kehidupan manusia, setan tinggal di bawah ruang kehidupan manusia.


Kedua, Riwok. Riwok (ruang tengah) adalah dunia terang, tempat manusia tinggal. Segala urusan yang berhubungan dengan adat dan musyawarah di dalam sebuah kampung terjadi di dalam rumah gendang. Riwok menjadi tempat berlangsungnya kegiatan tersebut. 


Perkumpulan ini sering diungkapkan dalam go’et (syair), “neki weki manga ranga, kudut bantang cama pa’ang olo ngaung musi” (penghuni kampung berkumpul bersama untuk melaksanakan musyawarah). 


Ungkapan ini menggambar sekaligus mengungkapkan etika hidup orang Manggarai yang menjunjung tinggi nilai persaudaran dan kebersamaan. 


Dalam kegiatan musyawarah tu’a gendang (orang tua yang memiliki kewibawaan dan kebijaksanaan) memimpin pertemuan tersebut. 


Tu’a gendang duduk di tengah (di Siri bongkok) dan warga masyarakat duduk mengelilingi, melingkar (lonto leok) tu’a gendang tersebut. Duduk melingkar (lonto leok) melambangkan persatuan dan adanya dialog dalam kegiatan musyawarah. 


Singkatnya ruang tengah menjadi tempat yang penting untuk melakukan musyawarah dan pengambilan keputusan.


Ketiga, Atap. Tidak kala pentingnya kita mengenal bagian atap rumah gendang. Pada bagian atap yang berbentuk krucut terdapat tiga logo yaitu periuk persembahan, tanduk kerbau (rangga Kaba/dongkong), dan atap ijuk (wunut/rimang) yang dianyam dengan sangat teliti dan berbentuk bulat. 


Mari kita lihat satu-persatu pembahasannya; periuk persembahan merupakan simbol keyakinan sekaligus penghormatan dan penyembahan kepada Tuhan yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya (Anton Bagul Dagur, 1996: 8). 


Tanduk Kerbau (rangga kaba/dongkong), merupakan lambang etos kerja yang tinggi; dan juga melambangkan kekuatan, keperkasaan. Sedangkan ijuk (wunut/rimang) yang berbentuk bulat melambangkan kesatuan dalam ketaatan orang manggarai.



Makna Simbolik Mbaru Gendang

Kita telah melihat sekilas mengenai tiga konstruksi dasar mbaru gendang. Dan pada bagian ini akan diulas secara mendalam mengenai tata ruang dalam konsep mbaru gendang. Tata ruang dalam mbaru gendang ini memiliki makna simbolik yang perlu disingkapkan. Memang bahwa beberapa bagian telah diuraikan secara singkat pada bagian sebelumnya. 


Pertama, Siri bongkok (tiang tengah). Siri bongkok merupan tiang tengah atau tiang pokok dalam rumah gendang. Salah satu ciri khas rumah gendang adalah adanya siri bongkok. 


Pada siri bongkok ini tergantung gendang dan gong yang seringkali dipakai dalam upacara adat. Siri bongkok mempunyai nilai sakral bagi kehidupan orang Manggarai. 


Siri bongkok yang kuat dan tegak lurus ini melambangkan relasi yang kuat antara manusia (orang Manggarai) dengan Sang Pencipta dan tiang tegak lurus juga menggambarkan kelurusan dan keterarahan hati orang Manggarai kepada Sang Pencipta. 


Siri bongkok diterima secara istimewa yang dalam bahasa adatnya adalah “roko molas poco” (mengambil gadis cantik dari hutan). Istilah “roko molas poco” diartikan sebagai mengambil kayu terbaik dari hutan yang dijadikan tiang utama dalam sebuah mbaru gendang. 


Maka, siri bongkok juga diyakini sebagai ibu pembawa kesuburan dan kemakmuran (Pius Pandor, 2013: 198).


Kedua, Rangga Kaba/Dongkong (Tanduk Kerbau). Kerbau bagi orang Manggarai merupakan lambang kekuatan, daya juang dan etos kerja yang tinggi. 


Pada hubungan dengan mbaru gendang biasanya dipasang rangga kaba/dongkong (tanduk kerbau). Rangga kaba/dongkong ini ditempelkan pada bagian kiri-kanan gambar wajah manusia yang diletakan pada bagian ujung atas siri bongkok mbaru gendang. 


Hal ini menunjukan bahwa kehidupan orang Manggarai selalu tertuju dan terarah kepada Sang Pencipta yaitu Mori Kraeng (Tuhan). Tanduk kerbau yang dipasang pada gambar wajah manusia menyimbolkan bahwa orang Manggarai memiliki kekuatan dan daya juang dalam menjalankan kehidupan dan dalam menghadapi segala persoalan hidup satu beo (satu kampung). 


Ketiga, Wuwung (atap). Wuwung atau atap ini terbuat dari ijuk (wunut/rimang) yang diikat menjadi satu dalam bentuk melingkar. 


Hal ini melambangkan model kesatuan yang kuat dalam tata kehidupan orang Manggarai. Model kesatuan ini menjiwai seluruh kegiatan sosial dalam setiap mbaru gendang. 


Model kesatuan ini ditandai dengan munculnya go’et-go’et (syair) misalnya, nai ca anggit, tuka ca leleng (seia sekata, satu hati satu aksi). Atau dalam ungkapan muku ca pu’u neka woleng curup-teu ca ambo neka woleng lako; ipung ca tiwu neka woleng inggut-nakeng ca wae neka woleng kaeng (pisang serumpun jangan beda bicara-tebu serumpun jangan beda jalan; ikan satu kolam jangan tinggal terpisah-ikan seair jangan tinggal berlainan). Bahasa kiasan ini mengungkapkan betapa dalamnya nilai persatuan orang Manggarai. 


Keempat, Molang (Kamar). Kamar dalam mbaru gendang berbeda dengan kamar rumah biasa. Kamar tidur dalam mbaru gendang dibuat sesuai dengan banyaknya keluarga yang berhak untuk mendiami mbaru gendang. 


Biasanya keluarga yang mendiami mbaru gendang adalah keluarga yang memiliki status sosial sesuai dengan garis keturunannya. Keluarga yang menempati molang (kamar) dalam mbaru gendang ini perwakilan dari panga (cabang) suku dari suatu desa. 


Biasanya keluarga yang dipilih untuk menempati kamar dalam rumah adat ini dipilih dari setiap keluarga panga yang bersangutan (Pius Pandor, ibid., 200).


 Setiap kilo (keluarga) yang mendiami kamar dalam mbaru gendang memiliki hak atas kamar yang diempati, tetapi tidak berhak mencampuri urusan kilo (keluarga) yang lain. Singkatnya kamar adalah ruang privasi dari satu kilo (keluarga).  


Kelima, Sapo (tungku api). Di dalam mbaru gendang hanya memiliki satu sapo (tungku api). Dari beberapa kilo (keluarga) yang mendiami mbaru gendang hanya menggunakan satu tungku yang sama. Tungku api ini berada di tengah-tengah. 


Hal ini menunjukan bahwa ada suatu ikatan persaudaraan yang sangat akrab. Satu tungku api ini menunjukan bahwa keharmonisan dan kebersamaan di mulai dari dalam rumah kemudian baru keluar. Hal ini tidak mengindikasikan bahwa tidak adanya konflik.


 Konflik itu tetap ada tetapi proses penyelesainnya dilakukan secara bersama-sama dari setiap keluarga yang mendiami mbaru gendang. 


Kelima ruang simbolik yang telah diuraikan di atas, sangat jelas menampilkan bentuk hidup mbaru gendang yang kaya dengan simbol-simbol yang tidak hanya mengandung nilai estetis tapi juga memiliki sarat makna. 


Mbaru Gendang sebagai Simbol Presentasional

Mbaru gendang sebagai simbol presentasional harus dipahami bahwa ia bukan sekedar mbaru gendang sebagai mbaru gendang atau mbaru gendang sebagai in se per se tetapi terdapat makna dan nilai yang lebih luas. 


Artinya di balik simbol presentasional terdapat makna yang mengungkapkan bagaimana hidup orang Manggarai dalam keselarasannnya dengan kosmos, dengan sesama dan dengan Tuhan. 


Hal ini diungkapkan lewat simbol-simbol yang telah diuraikan dalam bagaian kedua tadi. Lebih lanjut simbol presentasional mbaru gendang tidak hanya menunjukan dan menghadirkan esetetika orang Manggarai tetapi juga mengungkapkan dimensi-dimensi lain misalnya tata tertip (etika), pola relasi dengan sesama, dan pola relasi dengan Tuhan.

 

Mbaru Gendang sebagai Simbol Legitimasi Kekuasaan 

Mbaru gendang tidak sekedar mengungkapkan kereativitas orang Manggarai, tidak hanya menunjukan nilai seni, tidak hanya sekedar menunjukan pola relasi orang manggarai dengan alam, sesama dan Tuhan, tetapi juga merupakan simbol legitimasi kekuasaan. 


Dikatakan demikian karena dalam mbaru gendang terdapat beberapa unit-unit keluarga yang dikepalai oleh tua gendang. Tua gendang biasanya memiliki kualitas hidup yang patut diandalkan, dicontohi, terutama dalam hal moralitas dan kebijaksanaan praktis. 


Berkaitan dengan moralitas biasanya tua gendang memiliki sikap rendah hati, adil, dan menjadi juru damai. 


Sementara berkaitan dengan kebijaksanaan praktis, tua gendang biasanya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dalam masyarakat, dapat dipercaya, memiliki integritas, dan menjunjung tinggi persatuan. Perlu diketahui bahwa legitimisai kekuasaan dalam hal ini bukan dalam arti politik tapi dalam arti moral. Ia memiliki tanggung jawab khusus sebagai pelestari dan perwaris kebudayaan. 


Daftar Rujukan 

Erb, Maribeth. The Manggaraians: A Guide to Tradiotional Lifestyles. Slangor: Time Subang Press, 1999. 

Dagur. Anton Bagul. Kebudayaan Manggarai sebagai salah satu Khasanah Nasional, Surabaya: Ubhahara Press, 1996.

Pandor, Pius. Dimensi Simbolik Seni Rupa Mbaru Gendang Dalam Terang Estetika Susanne K. Langer, dalam Antonius Denny Firmanto & ADi Saptowidodo, IMAN DAN SENI RELIGIUS, Seri Filsafat Teologi Widya Sasana Vol. 24 No. Seri 23, Malang: STFT Widya Sasana 2013.


Sirilus Yekrianus dilahirkan di Manggarai Flores pada 9 September 1996. Saat ini menetap di Malang, Jawa Timur dan sedang menjalankan studi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Uskup Ruteng Positif Covid