Ritus Teing Hang Wura Ceki Latang Sekolah - Congkasae.com

News Update

04 May, 2020

Ritus Teing Hang Wura Ceki Latang Sekolah

***Oleh Avelinus R Okom S.P***
Sesajian untuk leluhur dalam bahasa manggarai ialah ( teing hang wura ceki), teing hang merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh  masyarakat manggarai dalam melakukan hal apapupun.

Termasuk saat ada yang berlayar ke batas dan berlabuh ke pulau untuk mengenyam pendidikan ke suatu daerah atau Pulau.

Sejatinya teing hang ialah  ritus adat orang Manggarai berupa pemberian sesajian kepada roh leluhur dengan ucapan syukur sembari memohon keberhasilan dan perlindungan juga keselamatan kepada  roh leluhur.

Teing hang sekolah biasanya menggunakan manuk wulu bakok (ayam berbulu putih)lalu mengapa menggunakan ayam berbulu putih?

Karena orang Manggarai percaya bahwa  ayam berbulu putih itu ayam bersih nan suci, seiringan dengan itu ada harapan semoga anak yang ingin mengenyan pendidikan tersebut akan tetap bersih keras mengejar impiannya dan sucikan diri dalam tindakan anarkis dan asusila.

Sesajian kepada leluhur bukanlah hal yang menyembah berhala, perihal pemberian sesajian kepada leluhur bukanlah hal yang baru bagi orang Manggarai.

bahkan untuk seluruh dunia pasti melakukan hal seupa, hanya saja cara melaksanakan serta langkah-langkah pemberianya yang berbeda.

 Bagi orang Manggrai ritus teing hang bukan hanya di prakatekan untuk hal adat istiadat saja untuk keagamaan juga terdapat disana.

 Hal initerbukti dalam  bahasa adat (Go,et) dalam ritus teing hang yang berbunyi seperti ini:

"io……. Ite ngasang wura agu ceki ata pang be le, one ite lami condod tombo, pedeng sangged rewen"

"kudut ite nganceng keng agu mori dedek, tombo agu mori wowo, pinga agu mori di,a, kudut cai les keng cai sinas kinda de ngasang anak dite, puung leso hoo nang one bangku sekolah,"

"porong deu agu tadang koes sangged copel agu calang, sangged nentum agu langor sai, paka lalong bakok du lakon agu lalong rombeng koe du kolen, paka toto molor koe golon,agu toto ijazahn koe kole tanan"

Kalimat bahasa adat (go,et) diatas mengandung arti bahwa juru bicara dari anak yang pergi mengenyan pendidkian tersebut memohon kepada roh lelulur agar leluhur yang menjadi penyambung lidah dari anak tersebut kepada Tuhan dengan harapan akan keselamatan dan keberhasilan saat ia hendak kembali ke tanah kelahirannya.

Acara teing hang sebenarnya tidak untuk menyembah sang roh leluhur tapi menghargai mereka sebagai penyambung lidah kepada Tuhan selain kita sendiri yang mengucpakannya.

 Penghormatan kepada orang yang telah meninggal atau yang kerap kita sebut sebagai leluhur.

Sesajian makanan berupa nuru manuk bakok (daging ayam bulu putih) dan minuman air bening biasa kadang Tuak untuk roh-roh orang mati sebenarnya itu hanya simbol kerinduan dan cinta.

 Ritus teing hang sama sekali tidak bertolak belakang dengan gereja atau bagi bakti Kristen karena sebenarnya ritus adat teing merupakan cara memuliakan nama Tuhan secara adat istiadat orang Manggarai.

Ritus teing hang tidak hanya dilakukan pada saat ada yang mau pergi mengenyan pendidikan tapi juga dilakukan saat acara penti, ako woja weru, hang rani, beti weki, kando nipi da,at dan banyak lagi hal lain yang tidak bisa disebut satu persatu.

 Ritus teing hang sekolah disaksikan oleh semua keluarga, semua keluarga yang ikut pun harus papi mu,u (memohon rahmat Tuhan melalui roh leluhur) seusai bicara ia mengeluarkan sespeser uang dari sakunya namanya seng cama laing atau jenjing. (tidak memaksa) paling penting ialah papi mu,u.

Seusai sekolah anak tersebut kembali ke tanah kelahiran dan keluarganya pada saat yang sama ia juga akan di sambut oleh ritus teing hang, ritus ini namnaya teing hang syukuran ayam digunakan ialah bukan lagi ayam berbuluh putih (manuk wulu bakok) melainkan manuk wulu rombeng (ayam berbulu lurik) di kaitkan erat dengan go,et awal ia pergi mengenyan pendidikan yaitu: ; Lalong bu lakom, lalong rombeng koe du kolem.

Penulis merupakan pemerhati budaya Manggarai saat ini menetap di Malang Jawa Timur.

No comments:

Post a Comment