Sayap Sayap Patah - Congkasae.com

News Update

27 May, 2020

Sayap Sayap Patah


***Oleh Cen Rian***

Sayup-sayup kudengar sendiri rintihan pilu sayap-sayap patah. Parah! Sayapku patah semua, semaunya saja sakit tak kuduga, menjalar seluruh raga, menjamah sekujur badan.

 

Bukan main sayatan sekujur tubuhku membelah kemesraan yang terbaris akibat sayap-sayapku patah. Kenapa bisa melemahkan otak? Jalan pikiranku pun menjadi  buntu. Dangkal! Tidak berarah! Aku ingin mati saja rasanya!

 

Bagaimana melepasnya?”

“Ah, Tuhan, susah sekali aku melepasnya!”

 

Tangan-kaki terbelenggu. Melangkah, ah, jangankan itu, merangkak pun perlu seribu tahun lagi! Mestinya aku riang dalam hariku yang sibuk bertarung dengan kerasnya perjuangan.

 

Mestinya, astaga, ... aku kalap dalam putaran waktu yang menyayat.

“Balada makin meruncing,” katanya.

“Parafrasekan saja,” kataku kaku.

 

Ia menghela nafas berat nan panjang. Aku menanti jawabannya dengan perasaan yang tidak menentu, sementara rindu memburuku, untuk memiliki seutuhnya tanpa perlu dihambati garis keturunan yang memanjang.

 

“Tidak semudah itu, ini bukan dunia sastra yang penuh khayalan belaka tanpa makna dan arti!”

“Adat, silsilah tak mudah ditentang seperti karya sastra picisan!” lanjutnya.

 

“Semuanya bisa dikalahkan cinta! Tidak ada yang mustahil dalam cinta!” kataku tanpa ragu.

 

“Mustahil dengkulmu! Cinta itu bukan Tuhan, yang tak bisa dikalahkan!” suaranya meninggi, wajah mungil cantiknya tertutup.

 

“Tuhan menciptakan cinta, mustahil Ia meniadakan ciptaan-Nya!” kataku semangat, derai air mata tetap saja tak bisa kubendung lagi.

 

“Ya betul, ibarat manusia ciptaan-Nya, yang tak akan bianasa, seperti yang tercatat dalam Kitab Suci. Namun, Tuhan meniadakannya, lewat silsilah,” katanya lagi, derai-deari air mata membuncah di ujung pelupuknya.

 

Aku tertunduk pilu. Memandangnya ngilu dalam kelesuan. Runcing-runcing problema silsilah kian tajam, mulai merobek urat-urat kaki, tulang-tulang dan sebentar lagi aku melumpuh.

 

Itu belumlah cukup, otakku mulai pecah, pikiranku mulai kalah, sempurnalah sudah kesakitanku yang kian memarah.

***

Udara terasa panas. Aku mengendarai sepeda bututku menerjang siang yang beringas. Aku berhenti sejenak, ponselku bergetar. Sempat  aku mengumpat, sebab aku biasa dapat SMS tak jelas.

 

+Main ke kos!

Aku tersenyum. Malu-malu terbawa situasi.

“Dasar!” gumamku.

 

Aku bergegas pergi. Imajinasiku mulai nakal. Ini manusiawi, ketika detak jantung tidak beraturan. Sempat tidak kuketahui, ah, aku tidak ambil pusing.

Aku mendatanginya, perempuan yang, astaga, senyumnya tidak bisa disamakan dengan apa saja. Ini cinta? Aku sendiripun skeptis tentang jawabannya!

 

Aku terus menyusuri jalan berdebu Kota Malang. Senyum masih menggumpal di bibirku. Senyum yang aku tak tahu bagaimana memastikannya.

 

Degupan jantung semakin tak karuan. Bayangkan saja, perempuan ini seniorku. Memang jalan hidup tak bisa ditebak. Ia tidak asing di mataku. Sudah lama waktuku berputar di dekatnya, sejak SD.

 

Hatiku masih buta kala itu. Tepatnya, benih-benih cinta belum ada sampai kami SMA. Setidaknya kalau Tuhan menghadirkannya ke dunia ini untuk jodohko, harusnya pertemukan aku dengannya sejak dulu! Ah, hidup memang penuh misteri, otak tak cukup besar untuk memprediksi.

 

Dia, perempuan ini, senyumnya susah diterka. Ia hanya tersipu menyapaku hari ini, tidak berkata apa-apa, seperti obrolan ringan biasa orang jatuh dalam penjara cinta.

 

Malu-malu, aku terhanyut dalam rekah bibirnya yang, wah! Cinta? Ah, tidak. Jatuh hati pun tidak! Pada dasarnya, senyumannya menenggelamkan duniaku.

***

 

Aku membunuh rinduku! Ya aku membunuhnya. Otakku dipenuhi senyumnya, imajinasiku hanya senyummnya. Hanya saja, aku menimpali, sebab pikiranku sempit mendefenisikan yang terjadi.

 

Aku kikuk ketika pelukannya merapat. Lagi-lagi, jantungku berdentum tidak normal. Sempat aku menyalahkan situasi,”Kenapa harus bertemunya sore ini?” desisku.

 

Mau bagaimana lagi, bisa jadi ini awal cerita meski sekarang sempat jadi misteri.

 

Sepanjang pertemuan organisasi kedaerahan ini, aku habiskan waktu merenung. Sebab pompa jantungku masih tidak stabil. Lebih parah lagi, aku menatapnya tanpa kusengaja.

 

Yah, aku dan dia sama, sama-sama dari luar Jawa. Bertemu dan menyatu dalam organisasi daerah. Aku makin hilang kendali, sebab pintu pikiranku kalang kabut dibuatnya.

 

Senyumnya itu, ah, dasar, itu berhasil membuatku paham. Tepatnya, aku mencoba menerka yang terjadi!

 

“Ayo!” bujuknya. Aku bingung, “Apa ini?” gumamku.

 

“Foto-foto,” kata yang lainnya. Entah mengapa, aku yang dulunya suka pasang wajah di depan kamera, tiba-tiba malu. “Kenapa ini?” tanyaku dalam hat yang bingung. “Mungkinkah karenanya?” Aku menjadi linglung!

 

Waktu beranjak santai, ketika hatiku masih berkutat dengan situasi. Aku mencuri pandang saat ia asyik bercenkrama dengan temannya. Astaga, aku jadi lupa diri.

 

Aku duduk menikmati kopi dalam kamarku yang sumpek. Aku tersenyum sendiri, menatap tas kecil bermotif NTT yang kuminta saat itu. Sengaja aku menggantungnya di dekat tempat tidur agar bisa kutatap kapan saja.

 

“Teng ... ,” ponselku bergetar.

 

Aku senyum sendiri. Ia mengirimku emoji love via whatsapp. Tentu aku membalas. Aku kegirangan sampai-sampai tersipu sendiri.  

 

Aku bingung sendiri, kangenku membuncah beberapa hari ini. Dia ke Borobudur, kegiatan dari kampus. Ada yang hilang, saat yang mengisi waktuku hilang dari pandangan. Ponselku bergetar lagi, ada pesan masuk. Aku makin rindu jadinya.

Kapan ke Borobudur?

 

Tulisan tangan di atas sebuah kertas, difotonya untuk dikirim kepadaku.

“Aku rindu,” gumamku.

Rindu bak ombak yang menderas, menghantam karang.

 

Tak sempat aku berpikir lagi tentang apakah ini cinta atau bukan. Pada intinya, aku menikmati waktu, menghabiskan waktu untuk chatt dengannya. Masih belum ada kata cinta.

 

Ah, itu tidak penting! Bukankah cinta itu kenyamanan? Hingga sampailah pada hari ini, ketika kami saling menaikkan foto di status whatssapp.

 

Ada kebanggaan tersendiri dengan mengesampingkan ciutan yang berbau iri. Kenapa juga harus ditanggapi? Toh aku dari hari ke hari semakin terhindar dari sepi.

 

+ Bagaimana ini? Semua orang mempertanyakan status kita?

- Ah, biasa saja! Bilang saja kita jadian

+Heeeee boleh-boleh!

***

 

“Ini ... , ah!” ia menghela nafas. Aku bisa tahu, sesaknya kian besar.

 

“Aku cinta kamu. Aku, astaga, bagaimana aku menjelaskannya?” kataku.

 

Ia terpaku, memandangku yang kaku dengan wajah memelas.

 

“Sudahi saja, Alfian!” katanya.

 

“Bagaimana dengan cinta kita?” tanyaku.

 

Ia terdiam, menatapku tajam dengan bola mata sayu. Aku larut dalam keheningan yang tiba-tiba, tidak kuduga, begini jadinya.

 

“Aku sayang kamu. Aku bahagia denganmu meski baru kemarin kita saling mencurah rindu!”

 

“Kalau kamu bahagia, kenapa pula kita harus berhenti?”

 

“Karena kita sedarah, Al. Kamu masih belum paham?”

 

“Aku paham! Tapi, kau telah mencuri! Kau pencuri!” teriakku.

 

“Ya aku pencuri, pencuri hatimu, rindumu dan sayangmu! Bahkan aku tak mau bertobat! Tapi mau bagaimana lagi?”

 

Aku mematung. Silsilah membutakan rindu yang turun bersama hujan.

 

“Aku cinta kamu,” kataku.

 

Ia diam. Ia memandangku sayu dan berlalu.


Penulis tinggal di Manggarai Barat Flores

No comments:

Post a Comment