Pilkada Manggarai: Kamelus Deno Telan Pil Pahit, Heri Nabit Terpilih Sebagai Bupati - Congkasae.com

News Update

18 Desember, 2020

Pilkada Manggarai: Kamelus Deno Telan Pil Pahit, Heri Nabit Terpilih Sebagai Bupati



Oleh  Alvitus Minggu

Sebagaimana kita ketahui, Masyarakat Indonesia baru saja selesai mengikuti pelaksanaan hajatan demokrasi melalui pemilihan kepala daerah serentak, yaitu pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota.

 

Pemilihan tersebut tepatnya dilasanakan  pada tanggal 9 Desember 2020 yang lalu. Total daerah yang melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak  tahun 2020 sebanyak 270 daerah. Dengan rincian, 9 provinsi dan 224 kabupaten dan 37 kota.

 

Sembilan diantaranya, pemilihan bupati/walikota dan wakil bupati/walikota, Nusa Tenggara Timur (NTT),  yaitu Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Ngada, Manggarai, Sumba Timur, Sumba Barat, Manggarai Barat, Sabu Raijua dan Malaka.

 

Dalam kajian ini, penulis berfokus pada Pilkada Manggarai yang mengikutsertakan dua pasangan calon yaitu pasangan calon nomor urut 1 Dr Deno Kamelus, SH,MH – Drs.Victor Madur                   dan pasangan calon nomor urut 2  Herybertus Geradus Laju Nabit, SE, MA – Heribertus Ngabut.

 

Berdasarkan Hitung Suara Pemilihan Bupati/Walikota Dan Wakil Bupati/Walikota yang dilansir KPU versi 18 Desember 2020,  pilkada Manggarai dimenangkan paslon nomor urut 2 Herybertus Geradus Laju Nabit, SE, MA – Heribertus Ngabut SH dengan, persentase suara : 60,7%.

 

Total suara : 103.570.  Sedangkan paslon nomor urut 1 Dr Deno Kamelus, SH,MH – Drs Victor Madur dengan persentase suara : 39,3%. Total suara : 67.139 (https://pilkada2020.kpu.go.id/#/pkwkk/tungsura/53).

 

Pasangan ini  merupakan calon yang masih menjabat bupati dan wakil bupati serta mantan wakil Bupati selama 2 periode di era pemerintahan Christian Rotok.

 

Pasangan tersebut merupakan pasangan ideal  yang cukup menyenangkan bagi masyarakat Manggarai.

 

Hal ini menunjukan selama kepemimpinan Christian Rotok- Kamelus Deno kondisi sosial masyarakat Manggarai relatif kondusif dan jauh dari ketegangan sosial serta luput dari berita miring yang menjurus menyudutkan kepemimpinan Kristian Rotok – Kamelus Deno.  

 

Hal itu, patut kita apresiasi dan jujur kita mengatakan bahwa perubahan demi perubahan sosial yang terjadi di Manggarai pada dasarnya tidak terlepas dari kontribusi besar dari kepemimpinan Christian Rotok - Kamelus Deno.

 

Kita juga tidak mungkin menutup mata, terkait kemajuan pembangunan infrastruktur yang tengah berkembang pesat di Manggarai merupakan hasil kerja sama yang baik antara Christian Rotok dan Kamelus Deno yang sama-sama mantan bupati Manggarai.

 

Kebersamaan politik yang dibangun Christian Rotok dan Kamelus deno selama  2 periode menjadi bupati dan wakil bupati telah memberi dampak positif bagi perkembangan pembangunan di Manggarai.

 

Situasi demikian menjadi kredit poin dan menjadi modal sosial bagi kepentingan politik Kamelus Deno sehingga menjadi terangsang untuk maju sebagai calon bupati periode 2015 dan akhirnya berhasil terpilih menjadi bupati periode 2015-2020.

 

Terpilihnya Kamelus Deno menjadi Bupati Manggarai, selain ia seorang akademisi juga memiliki kepribadian yang baik dan berintelek. Selain itu, ada faktor kedekatan dengan mantan bupati Christian Rotok yang juga ikut ambil bagian berkontribusi baik langsung maupun tidak langsung memenangkan Kamelus Deno dalam pertarungan pilkada periode 2015.

 

Berkaca dari hal tersebut, Christian Rotok dan Kamelus Deno bisa dibilang sebagai simbol perubahan di Manggarai. Akhirnya membuat kedua tokoh itu selalu dikenang oleh masyarakat Manggarai bahkan selalu merindukan model kepemimpinan seperti Christian Rotok dan Kamelus Deno yang sukses dalam mengelola tata kelola pemerintahan daerah selama 2 periode,

ditambah dengan 1 periode masa kepemimpinan Kamelus Deno.

 

Petahana Menguasai Struktur Politik Daerah

Namun, yang menjadi pertanyaan publik adalah mengapa Kamelus Deno kalah telak dalam pertarungan pilkada periode  2020?

 

Padahal kalau kita merujuk data pilkada pada tahun 2005 incumbent lebih unggul dalam konteks pilkada dengan memanfaatkan akses sebagai incumbent, sehingga mereka dapat terpilih kembali. 538 calon kepala dan calon wakil kepala daerah dalam pilkada serentak 2015, 278 orang merupakan mantan gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota.

 

Selanjutnya kepala daerah petahana ini memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan calon lainya.

 

Seperti kemudahan dalam memobilisasi Aparatur Sipil Negara (ASN), bisa menggunakan fasilitas negara untuk berkampanye dan menggunakan BANSOS dengan memberikan santunan atas nama daerah.

 

Petahana memiliki kemampuan yang dicirikan pada kekuatan modal sehingga tidak heran ada sejumlah pasangan petahana tampak mendapatkan perolehan suara terbanyak bahkan di sejumlah daerah mereka menang telak.

 

Seperti pasangan calon walikota dan wakil wali kota Surabaya Tri Rismahaharini-Wisnu Sakti Surya dan di Banyuwangi, pasangan mantan bupati Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widyatmoko yang memperoleh suara 88,78%.

 

Demikian pun pada daerah-daerah lain, petahana unggul dalam pilkada serentak yaitu di Kabupaten Gersik, Kediri, Indramayu, Kutai Kertanegara dan Kabupaten Karawang (Minggu,2020 : 99)

 

 

Selain itu, data yang pernah dirilis oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengungkapkan, sebanyak 70 persen pemenang pilkada serentak 2015 kembali diraih oleh pasangan calon petahana, berasarkan hasil hitung cepat terhadap 21 daerah pada hari pencoblosan 9 Desember 2015.

 

Petahana yang menang pilkada hampir rata, baik di tingkat pemilihan gubernur, bupati dan walikota.

 

Sementara sisanya dimenangkan calon dari kalangan artis maupun politsi. Kemenangan petahana selama memimpin sering dipersepsikan berhasil puas dan sudah populer.

 

Sisi lain, calon petahana dianggap menguasai dan mampu menjangkau semua segmen pemilih di masyarakat, mampu menggerakan tokoh informal maupun formal termasuk birokrasi serta siap secara kekuatan finansial (Minggu, 2020 : 100)

 

Kemenangan petahana dalam setiap mengikuti pertarungan pemilihan kepala daerah sesungguhnya ditopang oleh kekuatan, berwujud menguasai struktur politik daerah mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN), pengusaha, partai politik, LSM, PERS, Tokoh Masyarakat, tokoh adat, pemuka Agama, kelompok intelektual dan pegiat-pegiat sosial lain.

 

Di era pilkada langsung, petahana selalu menjadi calon favorit kelompok-kelompok elit politik di daerah, karena memiliki sumber modal yang memadai sehingga sangat memungkinkan memenangkan pertarungan pilkada.

 

Tumpuan utama kemenangan petahana adalah terletak pada dukungan kekuatan oligark dan oligarki.

 

Hal tersebut sering didefinisikan merupakan kekuatan yang berbasis finansial yang cukup memadai serta sebagai bentuk pemerintahan di mana kekuasaan politik berada di tangan minoritas elit.

 

Dua komponen inilah merupakan kekuatan dasar bagi calon petahana (Minggu, 2020 : 105). Bagi Robert Michels siapa saja yang berbicara oligarki, ia berbicara organisasi.

 

Sebaliknya, siapa saja yang berbicara organisasi, ia berbicara oligarki, karena konsep ini pada umumnya ada di setiap level organisasi.

 

Bagi Michels, kondisi ini menyebabkan oligarki menggantikan demokrasi sebagai sifat dasar organisasi (Minggu, 2020 : 97). Keunggulan lain, petahana model kampanyenya lebih mengarah pada realisme. Sedangkan non petahana lebih mengarah pada idealisme.

 

 Mengapa Deno Kalah Telak di Pilkada 2020?

Situasi demikian, terbantahkan oleh situasi pilkada Manggarai. Pasalnya pasangan calon petahana nomor urut 1 Dr Deno Kamelus, SH,MH – Drs.Victor Madur berhasil dikalahkan oleh pasangan calon nomo urut 2 Herybertus Geradus Laju Nabit, SE, MA – Heribertus Ngabut     dalam pilkada Manggarai pada tanggal 9 Desember lalu.

 

Kekalahan Deno-Madur sebagai akumulasi berbagai persoalan. Pertama, kelompok oposisi selalu memainkan peran membangun narasi-narasi secara terstruktur dan masif melalui media sosial yang menjurus mendiskreditkan tentang kepemimpinan Deno-Madur pada periode 2015.

 

Anggapan tersebut, Seolah-olah gagal mengelola tata kelola pemerintahan daerah. Kedua, timbul rasa kekecewaan pribadi oleh pihak-pihak  tertentu terhadap Kamelus Deno akibat tidak terpenuhi janji-janji politik pada pilkada periode sebelumnya.

 

Ketiga, timbul rasa kejenuhan masyarakat Manggarai terhadap Kamelus Deno sebagai akibat terlalu lama berkuasa.

 

Bayangkan mantan wakil bupati selama 2 periode di era Christian Rotok, kemudian 1 periode menjabat sebagai bupati sehingga praktis Kamelus Deno 15 tahun pernah berkuasa di Manggarai. Keempat, Masyarakat Manggarai mempunyai kecenderungan kerinduan memunculkan tokoh baru sebagai calon alternatif dengan harapan bisa menghadirkan perubahan baru yang jauh lebih baik dari kepemimpinan Deno-Madur.

 

Kelima, ia telah lalai dalam memelihara basisis-basisis politik yang selama ini menjadi kantong-kantong suara dan berkontribusi memenangkan Deno-Madur sebagai bupati dan wakil bupati pada periode pertama.

 

Keenam, posisi mantan bupati Christian Rotok lebih memilih oposisi dengan Kamelus deno kemudian bergabung dengan gerbong Heri-heri.

 

Apa lagi keduanya sempat terlibat dalam perseteruan yang saling menyindir serta saling menyerang satu sama lain pada saat melakukan kampanye.

 

Perseteruan tersebut, membuat mengundang perhatian banyak orang, bahkan hal itu menjadi komuditas politik bagi kelompok oposisi sebagai senjata untuk menyerang pasangan calon Deno-Madur.

 

Terutama datang dari kelompok-kelompok yang masih loyal dengan mantan bupati Kristian Rotok. Anggapan tersebut, menjadi opini publik yang semakin terbentuk dan liar  sehingga cukup sulit untuk mengantisipasi oleh pasangan calon Deno-Madur.

 

Akibatnya  membuat Kamelus Deno menelan pahit akibat kalah dalam pertarungan pilkada Manggarai dan Herybertus Nabit terpilih sebagai bupati.

 

Kekalahan pasangan calon Deno-Madur dalam pilkada Manggarai tidak semata-mata karena timbul kelemahan dalam dirinya akan tetapi pengalaman itu menunjukan bahwa masyarakat Manggarai sudah semakin sadar dalam hidup berdemokrasi serta masyarakat semakin kalkulatif dan otonom dalam menentukan pilihan politik.

 

Tanpa ada intervensi dari pihak manapun. Beda pilihan politik merupakan sah secara konsep demokrasi. Demikian halnya pilkada Manggarai, mayoritas pemilih pilihan politiknya lebih condong memilih pasanngan calon nomor urut 2 Heri-heri merupakan pilihan rasional (rational choice).

 

Harapan kedepan, pemimpin politik yang terpilih di Manggarai mampu menghadirkan perubahan baru di tengah masyarakat Manggarai serta keluar dari pakem ketertinggalan dalam berbagai lini kehidupan, yaitu faktor ekonomi, politik, hukum dan sosial budaya.

 

Merangkul yang kalah dan memberi apresiasi yang menang. Sebab pemimpin politik bukan milik pribadi/kelompok melainkan milik semua orang dengan tujuan menghindari anasir-anasir yang cenderung kontradiksi dengan substansi demokrasi.

 

Tetap mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi/golongan. Mengedepankan konsep pemimpin yang memiliki nilai rasa tanggung jawab dan  transparansi dalam mengelola tata kelola pemerintahan daerah.

 

Alvitus Minggu, S.I.P, M.Si

Dosen Fisip program studi Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar