Kerap Disoroti, Mengapa Jembatan Wae Musur Tak Kunjung Dibangun? - Congkasae.com

News Update

08 Januari, 2021

Kerap Disoroti, Mengapa Jembatan Wae Musur Tak Kunjung Dibangun?

Kendaraan tampak berusaha menyebrangi sungai Wae Musur akibat ketiadaan jembatan penghubung, Foto Herman Jemompar


[Congkasae.com/Kereba] Memasuki awal tahun 2021 publik di Manggarai kembali disuguhi kabar miris perihal potret jenazah warga yang terpaksa digotong menyebrangi sungai Wae Musur.


Tepatnya pada Kamis (7/1) kemarin, warga Nanga Lanang menggotong petih jenazah Rikardus Gama yang meninggal dunia di rumah sakit St Rafael Cancar.


Jenazah Rikardus terpaksa harus digotong warga karena kendaraan pengangkut jenazah tidak bisa menyebrangi sungai Wae Musur akibat derasnya aliran sungai itu.


"Kalau angkat jenazah melewati kali seperti ini bagi kami sudah biasa, kalau tidak lewat kali mau lewat mana lagi,"kata Lois sealah seorang warga yang ikut menggotong jenazah Rikardus Kamis kemarin.


Ia menambahkan di musim hujan seperti ini warga beberapa desa di seberang sungai Wae Musur kerap mengalami kendala seperti kesulitan menyebrangi sungai itu jika ingin bepergian ke Borong atau ke Ruteng.


Menurutnya masalah utama warga ini sudah disampaikan kepada otoritas terkait, namun hingga kini pihaknya tak kunjung mendapatkan jawaban pasti.


Ia berharap pemerintah kabupaten Manggarai Timur segera membangun jembatan penghubung di lokasi itu, sehingga status daerah terisolir yang disematkan pada beberapa desa di  seberang sungai Wae Musur bisa diatasi.


Hal penting lain, adalah warga tak perlu lagi menggotong warga yang sakit apabilah hendak berobat ke rumah sakit, termasuk menggotong petih Jenazah di lokasi.


Mengapa Tak Kunjung Dibangun Jembatan?

warga tampak menggotong kendaraan roda dua akibat derasnya aliran sungai, Foto Herman Jemompar


Kehadiran jembatan penghubung di sungai Wae Musur kerap menjadi sorotan publik, hal itu terjadi akibat berulangnya kasus jenazah atau orang sakit yang harus digotong jika melewati sungai itu terutama di musim hujan.


Kehadiran jembatan itu rupanya sempat dijawab pemerintah kabupaten Manggarai Timur dengan membangun cross way di lokasi.


Namun terdapat kendala yang hingga kini masih mengganjal yakni terkait permintaan pembebasan lahan yang diajukan pemilik lahan di sekitar lokasi dibangunnya cross way itu.


"Daerah sebelah kali Wae Musur itu jadi ikon wilayah terisolasi, padahal pemerintah sudah berupaya maksimal [Dengan membangun cross way],"kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kabupaten Manggarai Timur, Yohanes Marto.


Kendati demikian, menurut Yos, keinginan pemerintah untuk membuka daerah terisolasi itu terganjal oleh permintaan warga untuk mengganti rugi lahan mereka.


"Kendalanya masyarakat pemilik lahan minta ganti rugi,"tambah Yos Marto.


Pendekatan ke Warga Terkesan Lamban

Warga Nanga Lanang tampak menggotong Jenazah melewati sungai Wae Musur, Foto Tribun Kupang


Terkait hal itu, camat Rana Mese Maria Anjelina Teme mengakui jika pihaknya telah beberapa kali melakukan pendekatan kepada warga pemilik lahan yang meminta ganti rugi.


Namun Camat Maria mengatakan jika masyarakat pemilik lahan terpola akan adanya biaya pembebasan lahan yang menurut Maria tidak ada dalam aturan.


"Padahal dalam aturannya tidak ada ganti ruginya,"kata camat Rana Mese Maria Anjelina Teme.


Alhasil pembangunan jembatan penghubung di sungai Wae Musur terhenti, masalah itu lantas dibiarkan begitu saja hingga saat ini.


Sementara warga sebelah sungai Wae Musur terperangkap dalam situasi dengan menyandang status wilayah terisolir akibat ketiadaan jembatan di sungai Wae Musur.


Penulis: Tonny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar