Masikah Budaya Dodo Dilakukan Orang Manggarai Dewasa Ini? - Congkasae.com

News Update

close
MAU CETAK UNDANGAN UNTUK PERNIKAHAN ANDA?
Kami hadir di RUTENG memberikan pelayanan terbaik, Hubungi kami di 082 342 994 060

09 Januari, 2021

Masikah Budaya Dodo Dilakukan Orang Manggarai Dewasa Ini?

 

Yohanes Hadi Setiawan, Foto Docpri

Oleh Yohanes Hadi Setiawan

Budaya emi lime merupakan sebuah budaya yang dimana masyarakat Manggarai harus terlebih dahulu ikut terlibat dalam mengerjakan pekerjaan orang lain agar suatu saat orang lain itu ikut terlibat dalam pekerjaannya.

[Congkasae.com/Sosbud] Manggarai dahulu dikenal dengan sebutan sebuah daerah yang tingkat solidaritas masyarakat sangatlah tinggi.

 

Solidaritas sudah ada sejak manusia pertama datang di wilayah yang dikenal sebutan tanah nuca lale itu.

 

Berbicara tentang kerukunan, Manggarai mungkin menjadi sebuah daerah yang sangatlah eksis dalam mempertahankan kebudayaan.

 

Kebudayaan yang beragam ada di setiap sendi kehidupan. Sejak lahir, manusia Manggarai sudah diikat kebudayaan.

 

Kebudayaan tersebut terus tumbuh seiring berjalannya usia manusia itu sampai pada tahap kematian.

 

Kebudayaan dan solidaritas di Manggarai terlihat sejalan dalam sendi kehidupan masyarakatnya, bahkan dalam pribahasa Manggarai mengatakan "nai ca angit, tuka ca leleng", yang mau mengartikan bahwa dalam menjalankan kehidupan mesti bersatu.

 

Bukan hanya dalam sektor kebudayaan, dalam hal bercocok tanam juga terlihat tingkat antusias masyarakat Manggarai jelas ada.

 

Ketika berbicara tentang kebudayaan dan solidaritas dalam kehidupan Manggarai itu tidak terlepas dari tradisi nenek moyang orang Manggarai.

 

Kebudayaan tersebut diciptakan oleh nenek moyang orang Manggarai guna mempermudah dalam melaksanakan pekerjaanya.

 

 

Sebut saja istilah dodo yang menggambarkan bagaimana gotong royong dalam menjalankan pekerjaan sudah ditanamkan oleh nenek moyang orang Manggarai sejak zaman dulu.

 

Oleh karena tingkat gotong royong yang sangat tinggi itu, maka orang Manggarai dituntut untuk tidak tinggal diam dalam melakukan pekerjaan satu sama lain atau dalam istialah Manggarainya emi lime(ambil tangan).

 

Budaya emi lime merupakan sebuah budaya yang dimana masyarakat Manggarai harus terlebih dahulu ikut terlibat dalam mengerjakan pekerjaan orang lain agar suatu saat orang lain itu ikut terlibat dalam pekerjaannya.

 

Tradisi tersebut sudah berlangsung lama dan bahkan sampai sekarang masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat skala kecil.

 

Kebudayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang tersebut merupakan harta kekayaan yang mesti dijaga dengan baik oleh masyarakat Manggarai agar kebudayaan masih eksis dalam lini kehidupan.

 

Seiring berjalannya waktu dan kemajuan teknologi yang sudah merambah dengat cepat dalam realita kehidupan orang Manggarai, maka perlahan kebudayaan tersebut hampir tidak dilaksanakan bahkan bisa disebut hampir punah.

 

Teknologi yang telah berpacu laju dalam semua sektor merupakan penyebab utama dalam menyumbang hilangnya kebudayaan tersebut.

 

Bukan hanya itu, tingkat kerukunan antara golongan atau keturunan masyarakat sudah mulai tidak nampak juga menjadi faktor dalam menghalangi tingkat lanjutan dalam mempertahankan kebudayaan tersebut.

 

Banyak faktor yang sangat turut berpengaruh dalam upaya penghilangan kebudayaan tersebut dan faktor-faktor tersebut tanpa disadari terus dijalankan dan dilakoni oleh masyarakat Manggarai dewasa ini.

 

Selain faktor eksternal, faktor internal juga menjadi salah satu pemicu dalam upaya penghilangan kebudayaan tersebut.

 

Yohanes Hadi Setiawan merupakan Penulis buku " Lukisan Aksara"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar