Tentang Wuat Wa'i - Congkasae.com

News Update

close
MAU CETAK UNDANGAN, Cetak FOTO, UNTUK PERNIKAHAN ANDA?
Ke TONY PRINTING saja, Hubungi kami di 082 342 994 060

2 Jun 2021

Tentang Wuat Wa'i

Rangkaian acara pada saat acara wuat wa,i/Foto Dokpri Marcello Abur

***Oleh P. Marcello Abur SDV***

Lewat lalong bakok dan tuak itulah kita mengungkapkan kerinduan orang tua akan keberhasilan anak. Agar si anak bisa kembali membawa “tagi rangga agu teteng tu’un “èmas te’e”, Marcello Abur.

Tampak beberapa rumah berbaris apik di pinggir jalan penuh bebatuan yang terlepas sana-sini. Kampung ini, sungguh menghadirkan sejuta inspirasi bagi penulis terutama akan solidaritas yang tinggi dari para penghuninya. 


Menjelang awal tahun ajaran baru dalam sekolah (biasanya bulan Juni sampai Agustus), sering terdengar decak-dentum musik di rumah-rumah warga, mengiring kepergian sang anak dalam menapak cinta dan menjejal cita-citanya. 


Kampung Nonggu, Desa Bèka Lando, Kecamatan Kota Komba utara, Manggarai Timur, masih, sedang dan terus terlintas dalam ingatan. 


Tempat yang berlimpah madu dan susu ini masih memelihara rapi kebiasaan indah nan luar biasa. Wuat wa'i namanya. 


Wuat (bahasa manus, salah satu dialek Manggarai Timur) yang berarti urap, berkat , sedangkan wa’i berarti kaki.  



Jadi, Wuat wa’i secara etimologi berarti pengurapan kaki atau pemberkatan kaki. Dalam arti sekarang wuat wa’i berarti upacara atau acara pemberian berkat kepada orang yang hendak bepergian jauh/melangkah jauh atau membekali seseorang dengan berkat atau nasihat sebelum ia berangkat untuk melakukan misi dan tugas serta pekerjaan tertentu. 


Hal  ini lebih  menonjol digunakan sebelum seseorang memulai pendidikan, yakni berhubungan dengan perbekalan anak sebelum bersekolah. 


Biasanya acara ini dilakukan pada saat si anak melanjutkan studi di SLTP, SLTA  maupun di bangku kuliah. 


Wuat wa’i bukan diutamakan perbekalan untuk pengurapan kaki secara hurufiah tetapi lebih dari itu, dibuat doa dan permohanan kepada Mori Kraeng ata bate zari agu dēdēk (Tuhan penyelenggara kehidupan) untuk menuntun langkah kaki sang anak di bangku sekolah. 


Berkat yang diberikan kepada orang yang hendak bepergian adalah langkah awal dari misi yang orang tua embankan kepada si anak. 


Karena itu, si anak bukan hanya memenuhi keinginannya sendiri tetapi lebih dari itu, ia mengembankan misi yang dipercayakan orang tua kepadanya. Tentu yang diinginkan dalam hal ini adalah keberhasilah anak.


Ada satu bagian penting yang merupakan inti acara tersebut yakni keer. Keer adalah permohonan, berupa ungkapan hati berisi kerinduan manusia akan dampingan Tuhan untuk anak yang hendak bepergian. 


Keer ini diucapkan dengan instrumen lalong bakok (ayam jantan putih) dan sebotol tuak. Lalong (jantan) adalah lambang keberanian. 


Bakok artinya putih, yang melambangkan terang pada anak yang hendak bepergian. Sedangkan tuak adalah instrumen yang dipakai warga setempat dalam setiap ritus adat yang merupakan simbol dan relasi persaudaraan pada setiap orang yang hadir dalam acara tersebut. 


Lewat lalong bakok dan tuak itulah kita mengungkapkan kerinduan orang tua akan keberhasilan anak. Agar si anak bisa kembali membawa “tagi rangga agu teteng tu’un “èmas te’e”.


Acara wuat wa’i ini bukanlah hal yang baru tetapi sudah berlangsung sejak terbentuknya kampung Nonggu dan sekitarnya. 


Betapa tidak, acara wuat wa’i ini sangat membantu si anak dalam mengatasi kesulitan finansialnya di bangku sekolah. 


Acara ini bukanlah hal yang mutlak dijalankan tetapi merupakan salah satu wujud solidaritas dan dukungan warga kampung akan misi yang akan dijalankan si anak.

 

Mudah-mudahan wuat wa’i tetap dan terus dilestarikan sepanjang hayat, dan sekiranya anak, adik, weta to'o kita, bisa "molor to’o agu lomes kole" sebab mereka akan membawa pulang "tagi rangga agu teteng emas te’e".


**

Rangga tagi dalam dialek Manus berarti tanduk rusa. Berarti seperti orang tua dahulu berusaha mencari dan memburu rusa demikian sekarang seorang anak mencari  ilmu. 


Dan biasanya mendapat rusa itulah hewan yang didambakan pemburu. Karena selain mendapat dagingnya, tanduknya pun berfungsi menggantungkan pakaian. 


Mendapat rusa berarti ia berhasil dalam berburu. Jadi harapan orang tua adalah keberhasilan bagi anak setelah menempuh studinya. 


Anaknya mesti pulang dengan sebuah keberhasilan. Tagi rangga adalah simbol keberhasilan anak dalam sekolah. Karena dalam rangga atau tanduk itulah ia menggantungkan seluruh hidupnya.


Emas te’e artinya emas murni tanpa ada campuran dengan yang lain. Seperti dalam kompetisi olahraga seseorang ingin merebut emas sebagai keberhasilan yang tertinggi dalam usaha. 


Jadi, harapannya seseorang akan kembali dengan keberhasilan yang tinggi tanpa manipulasi apapun dalam persekolahan atau perkuliahan. Anak pulang sebagai pemenang. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar