SOPPAN Matim Siap Beri Pendampingan Kepada A, Korban Asal Rana Mbata - Congkasae.com

News Update

close
Dukung kami dalam menyajikan karya yang Independen dan berkualitas
Donasi bisa dikirim ke No Rek BRI 4720-01-001-453-53-7, Hubungi kami di 082 342 994 060

 


7 Jan 2022

SOPPAN Matim Siap Beri Pendampingan Kepada A, Korban Asal Rana Mbata



 (Congkasae.com/Kereba) Kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan Riski terhadap A warga desa Rana Mbata, kecamatan Kota Komba Utara, kabupaten Manggarai Timur rupanya mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak. 


Ketua lembaga Solidaritas perjuangan perempuan advokasi korban kekerasan (SOPPAN),  Maria G. S Ratna bahkan menyebut kasus yang dialami A merupakan kejahatan luar biasa. 


Untuk itu lembaganya mengaku siap membantu pandampingan kepada keluarga korban, apabilah diperluhkan. 


"Kami siap bantu beri pendampingan," kata Maria yang dihubungi Jumat (7/1) pagi. 


Maria mengatakan untuk tahap awal pihaknya akan melakukan pengecekkan laporan yang masuk ke Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Manggarai Timur. 


"Nanti hari senin saya cek dulu laporannya di PPA Polres Matim, " tambah Maria. 


Dorongan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum juga diutarakan dosen serta praktisi hukum Universitas Katolik Indonesia St Paulus Ruteng Laurentius Ni. 


Menurut Laurentius, apa yang dilakukan pelaku merupakan sebuah pelanggaran hukum yang tidak bisa ditolerir. 


"Karena itu harus dibawah ke rana hukum biar ada efek jera terhadap pelaku, " kata Laurentius Ni. 


Dalam wawancara dengan media ini Rabu (5/1) malam A mengatakan jika ia terpaksa menuruti apa yang dilakukan Riski meski sebenarnya dia tidak menghendaki hal itu.


A yang berbicara kepada Congkasae.com mengatakan jika dirinya merasa takut karena Riski yang merupakan terduga pelaku dalam kasus ini melakukan pengancaman terhadap dirinya.


"Kalau tidak buat begitu kau saya bunuh,"kata A menirukan perkataan Riski saat kejadian dalam wawancara dengan media ini Rabu malam di Leda Desa Rana Mbata, Kecamatan Kota Komba Utara kabupaten Manggarai Timur.


Kendati demikian A tidak menjawab pertanyaan media ini terkait detail peristiwa pada malam tahun baru itu.


Ia terlihat sesekali menundukkan kepalanya ketika media ini mencoba mengajukan pertanyaan yang sama hingga beberapa kali.


A hanya menjawab beberapa pertanyaan terkait bibirnya yang membengkak yang disebut A akibat ditonjok pelaku Riski.


"Waktu itu ada yang lewat, saya mau teriak (hendak meminta tolong) tapi dia (Riski) tonjok saya punya mulut,"kata A kepada media ini.


Korban ODGJ

Lidvina Jehunut yang merupakan ibu dari korban mengatakan jika puteri mereka memang terlahir dengan kondisi keterbelakangan mental.


" Dia memang tidak sehat (mengalami keterbelakangan mental),"kata Lidvina Jehunut menjawab pertanyaan media ini Selasa malam.


Lidvina juga mengatakan jika selama ini Puteri mereka dikenal sebagai periang, namun pasca kejadian itu A terlihat murung.


"Dia sering mengeluh sakit pada bagian perut,"kata Lidvina.


Hal serupa juga diakui A sendiri, kepada media ini ia mengatakan kerap mengalami sakit ketika hendak buang air kecil.


"Rasanya sakit sekali ketika hendak buang air kecil,"kata A Selasa malam.


Ia mengatakan hal itu dialaminya semenjak kejadian malam pergantian tahun (1/1) hingga saat ini.


Penulis: Tonny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar