Penulis: Laurensia Jedarut
Pernahkah kamu sedang duduk di sebuah acara keluarga lalu mendengar percakapan yang dimulai dengan kalimat, "Ngapain sekolah tinggi-tinggi, nanti ujung-ujungnya ke dapur juga"?
Atau mungkin saat ada seorang perempuan pulang malam karena urusan pekerjaan, komentar yang muncul bukan rasa khawatir akan keselamatannya, melainkan pertanyaan sinis tentang mengapa seorang perempuan "keluyuran" di jam yang tidak wajar.
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sangat biasa di telinga kita, bahkan sering dianggap sebagai nasihat atau norma kesopanan yang lumrah.
Namun, jika kita mau sedikit berhenti dan merenung, di balik kewajaran itu sebenarnya ada sebuah sistem tua yang masih sangat kokoh berdiri di tengah masyarakat modern kita, yaitu budaya patriarki.
Secara teori, patriarki sering dijelaskan sebagai sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari politik hingga urusan rumah tangga.
Namun, jika kita menggunakan bahasa sehari-hari, patriarki sebenarnya lebih seperti "aturan tak tertulis" yang mendikte bagaimana kita harus bersikap hanya berdasarkan jenis kelamin sejak kita lahir.
Ia bekerja secara halus, masuk ke dalam pori-pori kebiasaan, dan seringkali kita amini sebagai sebuah kebenaran mutlak tanpa pernah kita pertanyakan lagi.
Masalahnya, meskipun dunia sudah berubah dengan sangat cepat, kacamata yang digunakan masyarakat untuk menilai peran gender seringkali masih menggunakan kacamata usang dari puluhan tahun yang lalu.
Salah satu bukti paling nyata bahwa patriarki masih sangat eksis adalah adanya standar ganda yang melelahkan bagi semua pihak.
Mari kita lihat contoh sederhana di dunia kerja yang sering kita temui.
Ketika seorang laki-laki bekerja lembur sampai larut malam, masyarakat cenderung melabelinya sebagai "ayah yang bertanggung jawab" atau "pekerja keras" yang sedang berjuang demi masa depan keluarga.
Namun, ketika seorang ibu melakukan hal yang sama, narasi yang muncul seringkali berubah menjadi nada penghakiman.
Muncul bisikan-bisikan seperti, "Kasihan anaknya ditinggal terus," atau "Memangnya suaminya tidak sanggup kasih makan sampai dia harus kerja seperti itu?"
Beban moral ini sangat tidak adil karena memaksa perempuan untuk selalu bisa menjadi "superwoman" yang sempurna di kantor sekaligus sempurna di dapur, sementara laki-laki seringkali dimaklumi jika mereka "buta" akan urusan domestik.
Namun, penting bagi kita untuk menyadari bahwa patriarki tidak hanya merugikan perempuan; laki-laki juga seringkali menjadi korban tanpa mereka sadari.
Sejak kecil, anak laki-laki sering dididik dengan doktrin "laki-laki tidak boleh cengeng" atau "laki-laki harus kuat".
Mereka dilarang menunjukkan emosi karena dianggap sebagai tanda kelemahan atau dianggap "seperti perempuan".
Akibatnya, banyak laki-laki dewasa yang kesulitan untuk mengekspresikan emosi mereka secara sehat.
Mereka memendam stres, tekanan mental, dan kesedihan di balik topeng maskulinitas yang keras.
Inilah yang sering disebut sebagai toxic masculinity, di mana patriarki memaksa laki-laki untuk menjadi pilar baja yang tidak boleh retak sedikit pun, padahal sebagai manusia, mereka juga butuh ruang untuk merasa rapuh dan butuh dukungan emosional tanpa takut dihakimi.
Ketimpangan ini juga sangat terasa di dalam rumah, terutama dalam pembagian tugas domestik.
Kita sering mendengar seorang suami dengan bangga berkata bahwa dia telah "membantu" istrinya mencuci piring atau menjaga anak.
Sekilas, kalimat ini terdengar sangat progresif dan manis.
Namun, jika kita bedah lebih dalam, penggunaan kata "membantu" secara tidak langsung menegaskan bahwa urusan cuci piring dan mengasuh anak adalah tanggung jawab mutlak milik istri, dan suami hanyalah seorang relawan yang sedang berbaik hati.
Padahal, dalam sebuah kemitraan yang adil, urusan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama. Karena kedua belah pihak tinggal di rumah yang sama, menggunakan piring yang sama, dan memiliki tujuan yang sama dalam membesarkan anak, sudah sepatutnya kata "membantu" diganti dengan "berbagi tugas".
Di era digital saat ini, patriarki tidak menghilang, melainkan berpindah tempat ke layar ponsel kita.
Lihat saja bagaimana interaksi di kolom komentar media sosial seringkali menunjukkan wajah patriarki yang sangat jelas.
Jika seorang publik figur perempuan mengunggah foto dengan pakaian yang dianggap sedikit terbuka, kolom komentarnya akan segera dipenuhi dengan ceramah moral, hujatan, hingga pelecehan verbal.
Sebaliknya, jika laki-laki melakukan hal serupa, responsnya cenderung lebih santai atau bahkan dianggap sebagai bentuk kebebasan berekspresi.
Fenomena ini diperparah dengan perilaku mansplaining, di mana laki-laki cenderung menjelaskan sesuatu kepada perempuan dengan nada merendahkan, seolah-olah perempuan tersebut tidak memiliki pengetahuan yang cukup, bahkan jika si perempuan sebenarnya adalah seorang ahli di bidang tersebut.
Lalu, mengapa budaya ini begitu sulit untuk dihilangkan meski kita sudah berada di abad ke-21? Jawabannya terletak pada bagaimana budaya ini diturunkan melalui pola asuh dan pendidikan sejak dini.
Tanpa sadar, banyak orang tua yang masih membedakan mainan anak berdasarkan gender, atau memberikan tugas rumah tangga hanya kepada anak perempuan sementara anak laki-laki dibebaskan bermain.
Pujian yang diberikan pun seringkali berpola; anak perempuan dipuji karena "cantik dan penurut", sementara anak laki-laki dipuji karena "pintar dan berani".
Pola-pola kecil inilah yang kemudian membentuk pondasi berpikir saat mereka dewasa, yang pada akhirnya melanggengkan struktur patriarki di masyarakat luas.
Menghapus budaya patriarki bukanlah sebuah upaya untuk membuat perempuan berkuasa atas laki-laki, atau sebuah gerakan untuk memusuhi kaum adam.
Justru sebaliknya, gerakan ini adalah tentang kemanusiaan dan keadilan bagi semua orang.
Ini adalah tentang memberikan hak kepada setiap individu untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus terbelenggu oleh label gender yang sempit.
Kita ingin membangun sebuah dunia di mana seorang perempuan bisa mengejar karier setinggi mungkin tanpa harus dihantui rasa bersalah, dan di mana seorang laki-laki bisa menunjukkan kasih sayang serta kerentanannya tanpa harus merasa kehilangan harga diri sebagai lelaki.
Harapan kita ke depan adalah lahirnya sebuah masyarakat yang lebih "luwes" dan tidak lagi kaku dalam memandang peran manusia.
Kita mendambakan masa depan di mana anak perempuan kita bisa bercita-cita menjadi astronot tanpa ada yang meragukan fisiknya, dan anak laki-laki kita bisa menjadi perawat atau seniman tanpa ada yang meragukan kejantanannya.
Harapannya adalah tidak ada lagi perempuan yang merasa bersalah saat harus bekerja, dan tidak ada lagi laki-laki yang merasa gagal hanya karena mereka ingin menangis.
Kita ingin membangun dunia di mana kesuksesan seseorang diukur dari kapasitas dan integritasnya, bukan dari seberapa patuh mereka pada aturan gender peninggalan masa lalu yang sudah tidak relevan.
Sebagai penutup, kita harus mulai menyadari bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil di lingkungan terdekat kita.
Kita bisa mulai dengan mengubah cara kita berkomunikasi, berhenti memberikan standar ganda pada teman atau rekan kerja, dan mulai membiasakan diri untuk berbagi tanggung jawab secara adil di dalam rumah.
Budaya patriarki mungkin masih ada dan terasa sangat nyata hari ini, namun ia bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah.
Ia adalah konstruksi sosial yang bisa kita bongkar bersama-sama untuk digantikan dengan budaya yang lebih menghargai, lebih setara, dan lebih memanusiakan satu sama lain. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati baru bisa tercapai ketika tidak ada lagi pihak yang merasa tertekan oleh ekspektasi gender yang tidak masuk akal.






