- -->
  • Jelajahi

    Copyright © Congkasae.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Mata Air Keruh Usai Gempa, Warga Desa Rana Mbata Kesulitan Akses Air Minum Bersih

    Penulis: Antonius Rahu | Editor:Tim Redaksi
    16 Agustus, 2026, 19:47 WIB Last Updated 2026-08-16T13:14:17Z
    Post ADS 1
    Post ADS 1
    Mata Air Keruh Usai Gempa, Warga Desa Rana Mbata Kesulitan Akses Air Minum Bersih
    Kondisi mata air minum Wae Sior usai dihantam gempa

    Warga desa Rana Mbata, kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur mulai merasa kesulitan dalam memperoleh air minum bersih usai 3 mata air utama di desa itu keruh usai dihantam gempa.

     [Congkasae.com/Kereba] Warga desa Rana Mbata, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur mulai merasa kesulitan dalam memperoleh air minum bersih usai 3 mata air utama yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga tampak keruh dan mengandung lumpur.


    Lian Ndarung salah seorang warga desa Rana Mbata mengatakan kondisi mata air Wae Sele, Wae Nu'ang dan Wae Waka Wu'an termasuk Wae Mokel mulai kelihatan keruh semenjak gempa dahsyat mengguncang pulau Flores pada Sabtu 25 Agustus 2026 kemarin.


    "Sejak kemarin kondisi airnya mulai keruh dan tak layak untuk konsumsi,"katanya Minggu 16 Agustus 2026 petang.


    Meski dalam kondisi keruh ia terpaksa tetap mengambil mata air tersebut lantaran tak ada sumber mata air lain yang lebih layak untuk dikonsumsi.


    "Ini untuk keperluan MCK, jadi bukan untuk diminum,"katanya.


    Keluhan serupa juga mulai dirasakan warga lain yang mengaku mulai kesulitan dalam memperoleh air minum bersih semenjak 3 sumber utama mata air di desa tersebut mengeluarkan air keruh yang tak layak dikonsumsi.

    Kondisi air minum di desa Rana Mbata yang memburuk usai dihantam gempa


    "Dari kemarin setelah gempa itu orang hanya datang untuk menimba tapi setelah melihat airnya kotor jadi banyak yang memilih pulang tanpa membawa air,"kata Rofina seorang warga desa Rana Mbata.


    Sementara itu kepala desa Rana Mbata Yohanes Bosko Kurniawan mengatakan secara keseluruhan terdapat hampir 1.000 orang warga desa Rana Mbata yang merasa kesulitan memperoleh air minum bersih.


    "Warga yang terdampak kesulitan air minum bersih itu sejauh ini hanya di Mbata, sementara di dusun Nonggu dan Watu Rajong sejauh ini masih aman,"katanya.


    Ia mengatakan terdapat perbedaan kualitas air sejak gempa melanda wilayah desa itu pada hari Sabtu kemarin.


    "Awalnya memang keruh tapi tingkat kekeruhannya masih belum terlalu parah, memasuki hari kedua hari ini, tiga mata air ini sangat keruh sekali dan cendrung berlumpur,"katanya.


    Kekhawatiran warga akan sulitnya memperoleh air minum bersih diperparah dengan intensitas kegempaan yang tak pernah surut sejak Sabtu kemarin.


    Berdasarkan data Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kupang, total gempa bumi susulan (aftershocks) pasca gempa utama bermaknitudo 7,7 SR di wilayah Flores, NTT, tercatat sebanyak 731 kejadian hingga Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB.


    Tingginya intensitas kegempaan yang terus mengguncang pulau Flores yang juga ikut dirasakan warga desa Rana Mbata dikhawatirkan akan memperpanjang tingkat kekeruhan air di 3 mata air utama di desa itu.


    Hal tersebut ikut dirasakan oleh Lian Ndarung yang mengaku khawatir dengan kualitas air minum bersih di desanya.


    "Kalau kondisi seperti ini berkepanjangan maka kami tidak tahu mau cari air minum ke mana, karena semua mata air di sekitar desa ini sudah keruh termasuk Wae Mokel,"katanya.


    Di sisi lain kepala desa Rana Mbata Yohanes Bosko Kurniawan memastikan keluhan air minum bersih yang dialami warga desanya sudah disampaikan ke pemerintah kabupaten Manggarai Timur.


    "Keluhan ini sudah kami sampaikan ke kabupaten melalui bapak bupati,"katanya.


    Meski demikian ia mengaku akan segera melakukan rapat internal yang melibatkan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Rana Mbata untuk membahas langkah antisipatif yang perlu diambil untuk merespons keluhan warga.


    Intensitas gempa yang cukup kuat mengakibatkan kerusakan cukup parah sejumlah bangunan sekolah dan gereja di desa Rana Mbata.


    Kepala desa Rana Mbata Yohanes Bosko Kurniawan mengatakan sedikitnya 22 rumah dilaporkan rusak akibat gempa pada Sabtu kemarin.


    "Di desa Rana Mbata ada 22 rumah yang rusak, ditambah satu kapela stasi yang retak, dua gedung SD juga ikut terdampak kerusakan yakni SDI Nonggu dan Watu Rajong," katanya.


    Gempa bermaknitudo 7,7 SR mengguncang pulau Flores pada Sabtu 15 Agustus 2026 pagi menimbulkan kerusakan rumah termasuk korban jiwa yang kian bertambah.


    Berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) memasuki hari kedua sedikitnya 53 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa pada Sabtu kemarin.


    Sementara itu gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam rapat koordinasi penanggulangan bencana di aula kantor bupati Manggarai Barat mengatakan memasuki hari kedua mayoritas warga masih enggan kembali ke rumah lantaran masih merasa trauma.


    "Hari ini masih banyak warga yang ketakutan dan memilih untuk tidur di luar rumah, antisipasi gempa susulan yang terus terjadi. Dan wilayah Flores bagian utara itu yang terdampak serius,” kata Melki dalam rapat tersebut.


    Kata Penyintas Gempa Flores

    Seorang penyintas gempa dan tsunami Flores tahun 1992, Markus Meka mengaku gempa yang melanda pulau Flores tahun 2026 ini cukup berbeda dengan tahun 1992.


    "Dari sisi kerusakan bangunan dan fasilitas umum, gempa tahun ini menimbulkan kerusakan sangat parah di hampir seluruh wilayah pulau Flores,"katanya.

    Markus Meka penyintas gempa Flores
    Markus Meka penyintas gempa Flores tahun 1992


    Ia mengatakan gempa dan tsunami Flores tahun 1992 memang cukup keras dirasakan di Manggarai namun tak menimbulkan kerusakan parah di kabupaten Manggarai.


    "Paling kerusakannya hanya di wilayah Maumere dan Ende tempat yang paling dekat dengan pusat gempa kala itu,"ujarnya.


    Selain itu ia menyoroti frekuensi kegempaan yang terjadi usai gempa utama yang dinilai berbeda dengan gempa tahun ini.


    "Kalau tahun 1992 gempanya hanya terjadi sekali saja, setelah itu tidak ada lagi gempa susulan seperti sekarang ini, kemudian tidak sampe merusak kualitas air tanah seperti tahun ini,"katanya.


    BACA JUGA 

    Gempa Flores Kerusakan dan Korban Jiwa Terus Bertambah, Warga Masih Trauma


    Flores Diguncang Gempa Dahsyat Warga Berhamburan Sejumlah Rumah Ambruk


    Gempa dan Tsunami Flores 1992, Tragedi Kemanusiaan Terbesar di Pulau Flores

    Komentar

    Tampilkan

    Bersama Menjaga Warisan Kita

    Dukung Congkasae agar terus hidup dan tumbuh sebagai suara budaya Manggarai.

    Kenapa Kami Butuh Dukungan?

    Congkasae.com hidup dari semangat dan cinta pada budaya. Tapi kami juga perlu dana untuk membayar penulis lokal, mengembangkan situs, dan mendokumentasikan cerita-cerita budaya kita.

    Donasi Sekali atau Rutin

    Atau transfer langsung:

    • BRI 472001001453537 (a.n. Congkasae)
    QRIS

    Pasang Iklan atau Kerja Sama

    Kami membuka kerja sama dengan UMKM, NGO, sekolah, atau pemerintah daerah untuk iklan, pelatihan, dan proyek kolaboratif.

    Kontak Kami Langsung

    Kata Mereka

    "Saya senang bisa mendukung media yang memperjuangkan akar budaya Manggarai." – Julius, diaspora di Jakarta
    "Congkasae adalah media yang dekat dengan hati kami di Manggarai." – Frans, guru di Ruteng