Kota Ruteng yang Selalu Ngangenin - Congkasae.com

News Update

09 September, 2016

Kota Ruteng yang Selalu Ngangenin

Gereja Katedral Lama
Sebuah pemandangan indah berupa bukit-bukit kecil yang di apiti oleh air laut terpampang didepan mata  semua penumpang dalam pesawat tampaknya sibuk menyaksikan suguhan keindahan alam Labuan bajo dari balik jendela pesawat. 


Jam menunjukan angka 14:00 ketika pesawat yang saya tumpangi hendak mendarat di Bandar udara Komodo di Labuan bajo flores NTT. 

"Akhirnya sampai juga," gumamku dalam hati setelah kami turun dari pesawat dan melewati proses dalam bandara saya pun keluar sebuah mobil Toyota Avanza putih telah terparkir di depan pjntu keluar gedung bandara. 

Sapaan hangat sang supir taksipun seolah menyambut kedatangan setiap tamu yang datang. Inilah flores dengan segala keunikan dan kekhasanya. 

Setelah beberapa menit menunggu di depan Bandara Labuan bajo, mobil Avanza putih yang saya tumpangipun melaju menuju Ruteng. 


Sebuah kota kecil yang merupakan ibu kota kabupaten Manggarai Tengah. Untuk sampai ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, dari Labuan Bajo saya harus menjelajahi perjalanan darat selama 3 jam di medan ekstrim Trans Flores Labuan Bajo-Ruteng Februari silam. 
Bus kayu merupakan alat transportasi bagi masyarakat Manggarai terutama yg di pedesaan

Yang saya maksud dengan medan ekstrim adalah jalanan berkelok-kelok bak ular berjalan. Kontur jalan yang menanjak menikung tajam lalu menurun mengocok isi perut berulang kali, untung tak sampai keluar saat berada di dalam mobil.setelah hampir 3 jam perjalanan sebuah Gapura besar bertuliskan  “Selamat Datang di Kota Ruteng” menyambut kami. 

Cuaca sore itu cukup cerah, awan-awan putih seperti kapas menghias langit Ruteng yang memerah. Jarum jam menunjuk angka 17.00 Wita. Udara sejuk pun langsung terasa di kulit seolah menceritakan kepada saya inilah kekhasan kota Ruteng, kota yang identik dengan kata dingin.

 Hal ini terjadi karena letak Kota Ruteng yang berada di dataran tinggi 1.200 meter di atas permukaan laut, tepatnya di kaki Gunung Anak Ranaka. 

Perbukitan hijau yang mengepung ibu kota Manggarai tengah ini, membuatnya memiliki suhu lebih dingin dibanding kota-kota lain di Flores. Saya pun telah menyiapkan jaket dan sweater tebal untuk membungkus badan saya saat malam tiba di mana suhu bisa mencapai 8 derajat Celsius. 

Setelah sampai di Rumah kakak saya yang berada di Karot Ruteng saya memilih untuk mengelilingi kota Ruteng dengan menggunakan angkutan Kota. 
Sekelompok anak-anak sedang memikul kayu bakar

Meskipun agak sedikit capek dan kakak saya menyarankan untuk istirahat dulu tapi saya tetap semangat. Saya ingin melihat-lihat kondisi terbaru kota Ruteng Pasalnya, ini adalah kota tempat saya menuntut ilmu beberapa Tahun silam. 

Baru kali ini saya kembali menginjakan kaki di kota yang sebagian besar masa kecil ku di habiskan di Kota ini. 

Dentuman musik yang sangat keras terdengar dari sebuah angkutan umum dalam kota yang sering di sebut Oto bemo oleh masyarakat di sana. Seorang kondektur yang masih berusia remaja dan ada sebagian juga masih duduk di bangku sekolah Dasar bergelantungan di pintu masuk oto bemo.

Sekali-sekali meneriakan kata “kota-kota” ada juga yang meneriakan “kumba-kumba”, “carep-carep” seolah menceriterakan tempat tujuan mereka beroperasi. 

Sesampainya di pusat kota dengan oto bemo, saya langsung menyaksikan daerah pertokoan yang dulunya sewaktu saya masih sekolah, sangat ramai dengan pedagang kaki Lima yang berjualan di depan pertokoan sekarang ini sudah sepi dan tertata rapi. Satu kemajuan yang saya lihat dari tata kelola perkotaan di Manggarai tengah. 

Rupanya pedagang kaki lima yang dulunya berdagang di sekitar pertokoan sudah di Relokasikan ke pasar Ruteng dan ini sangat bagus. 

Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat saya teringat akan kota dingin Ruteng dan sampai sekarang itu masih tertanam kuat dalam memori ingatan saya, diantaranya sebagai berikut;

Kota Hujan
julukan ini diberikan karena Ruteng sangat tinggi cura hujanya. Saya saksinya. Saat berkunjung 3 hari di kota ini, hampir setiap hari merasakan sejuk bahkan dinginnya udara saat hujan mengguyur kota ini.

 Ketika matahari mulai meninggi, langit yang awalnya berwarna biru mulai terlihat putih dan perlahan menjadi gelap menandakan hujan segera turun Biasanya sebelum hujan, angin akan bertiup cukup kencang.

Kota seribu biara
Selain memiliki hawa dingin dan sejuk, Ruteng juga memiliki banyak biara, sebuah rumah pertapaan bagi para biarawan dan biarawati Katolik atau yang sering disebut suster.

Gereja Katedral Ruteng di halaman Gereja ini uskup Van Beekum di kuburkan
Sepanjang perjalanan di sisi kanan dan kiri, banyak sekali bangunan Biara. Hanya berjarak sekitar 50 hingga 100 meter lagi-lagi saya menjumpai biara dari berbagai kongregasi religius.

Saking banyaknya, banyak orang menjuluki kota ini dengan “Kota Seribu Biara”. Jumlahnya memang tak sampai seribu, namun untuk sebuah kota kecil yang hanya memiliki luas wilayah 7.136,4 km² .

Berdiri lebih dari 52 komunitas biarawan/biarawati dari bermacam kongregrasi religius berbagai negara di belahan dunia . Karena itu, julukan “Kota Seribu Biara” rasanya sangat pas untuk Kota Ruteng.
Berdasarkan catatan sejarah, Bangsa Portugis memang pernah menancapkan kekuasaannya di kota ini. Menguasai hasil bumi seperti kopi, cengkeh, vanili, kakao, kemiri dan hasil bumi lainnya terutama beras. Karenanya penduduk Pulau Flores pada umumnya dan Ruteng khususnya, 90 persen masyarakatnya beragama Katolik.

Tak hanya bangunan biara, bangunan gereja pun banyak dijumpai disini. Tak heran pula jika Ruteng juga dijuluki sebagai “Kota Seribu Gereja”. Gereja Santo Yoseph atau yang disebut Kathedral Lama adalah bangunan yang termegah di zamannya.

Terlihat dari model arsitektur tua yang kental bergaya Eropa, dengan atap runcing menjulang. Begitu pula dengan bangunan Gereja Kathedral yang baru, pun tetap mempertahankan sentuhan arsitektur Eropa.

Sebagai ibu kota Kabupaten Manggarai Tengah, menjadikan kota Ruteng sebagai pusat perekonomian. Berbagai prasarana penggerak ekonomi seperti kantor pemerintahan, kompleks bisnis, pasar, rumah sakit, sekolah negeri dan sebagainya dibangun oleh pemerintah kota.

Namun beberapa sekolah swasta seperti sekolah tinggi, SMA, SMP hingga SD di Ruteng banyak didirikan oleh komunitas biara Komunitas religius di Kota Ruteng, tak hanya fokus pada bidang pendidikan, kegiatan sosial dan kesehatan saja, beberapa komunitas biara mencoba mengembangkan sayap dengan berbisnis hotel dan penginapan.

Ruteng yang saat ini telah dikenal sebagai “kota seribu gereja”, “kota di atas awan” semakin menampakkan kecantikannya, sehingga mampu menarik wisatawan di luar Flores untuk datang.
Kota Asal Kompiang
kompiang ruteng
Ya kota Ruteng merupakan asal muasalnya makanan khas Manggarai yang sering di sebut kompiang. Dan salah satu toko roti yang terkenal yang merupakan pembuat kompiang yang asli adalah toko roti Kuda terbang. Ada juga sainganya yang berada di jalan Raya Ruteng-Reo yakni toko Ria.

Jika kalian berkunjung ke kota ini rasanya belum lengkap jika belum mencicipi kompiang yakni sejenis roti bakar yang di campur dengan wijen dan berbentuk bulat.

Rasanya yang agak sedikit manis dan sedikit keras. Ok guys itulah beberapa keunikan yang dapat ditemui di kota dingin Ruteng, sebuah kota yang selalu memanggil aku pulang dan selalu ngangenin.


penulis: alumnus SMP N 1 Ruteng dan SMA N 1 Ruteng sekarang sedang menempuh studi pendidikan matematika di IKIP PGRI BALI 

BACA JUGA

1.Riwayat hidup Wilhelmus Van Bekkum SVD uskup Ruteng pertama

2. Sejarah Masa Adven Dalam Gereja Katolik

3.Kuliah sambil kerja itu menyenangkan atau menyengsarakan sich???

4.Kuliah di Bali? Ini Beberapa Hal Unik Yang Akan di Alami.

5.Sejarah Beo Mbata Manus Manggarai Timur




No comments:

Post a Comment