- -->
  • Jelajahi

    Copyright © Congkasae.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Komodo Dan Manusia Ternyata Saudara Kembar

    25 Januari, 2017, 25 Januari WIB Last Updated 2018-01-17T15:30:56Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


     
    legenda asal usul komodo
    Mungkin anda tahu dengan yang namanya Komodo? “KOMODO = Konem Molas Do Kin Ronan” ooopppss.....bukan itu maksudnya hahahaha.....


    Iya hewan langkah yang menjadi kebanggaan masyarakat Manggarai Barat khususnya dan NTT umumnya ini, hanya hidup di pulau Komodo. 

    Sebuah pulau yang saat ini sudah menjadi Taman Nasional kebanggaan Indonesia serta sudah ditetapkan menjadi salah satu situs keajaiban dunia yang di tetapkan oleh UNESCO.

    Secara administratif, pulau Komodo termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. 

    Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
     
    pulau Rinca termasuk dalam kawasan TNK
    Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. 

    Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. 

    Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo. Komodo terbukti sebagai kanibal, ia memakan sesama komodo. 

    Terkadang bayi Komodo yang baru lahir harus menyelamatkan dirinya sebelum dimakan oleh ibunya. Komodo yang luka pun harus berhati-hati terhadap komodo yang lain sebelum dia menjadi santapan lezat.

    Penduduk sekitar percaya dengan legenda Putri Naga Komodo. Inilah legenda masyarakat mengenai Putri Naga Komodo.

    Legenda Putri Naga Komodo
    pada zaman dahulu, menurut dongeng masyarakat di Pulau Komodo, ada seorang putri cantik, orang memanggilnya Putri Naga Komodo. 

    Putri cantik ini menikah dengan seorang pria yang bernama Majo. buah pernikahanya  melahirkan sepasang bayi kembar (seorang manusia dan seekor kadal yang kemudian disebut komodo). 

    Bayi laki-laki dinamainya Si Gerong dan dibesarkan di lingkungan manusia, sedangkan bayi komodo diberi nama Ora yang selanjutnya hidup di dalam hutan.
     
    Bandara Komodo Labuan Bajo
    Tahun berlalu, si Gerongpun bertambah dewasa. Suatu ketika, Si Gerong berangkat berburu rusa ke hutan, namun pada saat dia akan mengambil rusa buruannya itu tiba – tiba seekor kadal raksasa menyergap dan memakan binatang hasil buruan Si Gerong. 

    melihat kadal raksasa tersebut, Si Gerong pun akhirnya mencoba untuk mengusir kadal tersebut, namun sia–sia. 

    Kadal itu tetap berdiri tegak diatas bangkai rusa tersebut dan mengancam Si Gerong dengan gigi-gigi tajamnya.

    Si Gerong memutuskan untuk memanah kadal raksasa itu, namun tiba –tiba muncul seorang wanita bersinar, yakni Putri Naga yang merupakan ibunda Si Gerong dan Ora (komodo).

    Dengan lembut Putri Naga memisahkan Si Gerong dengan kadal itu dan berkata: “Jangan bunuh binatang ini, dia adalah saudara perempuanmu Ora. Aku melahirkan kalian berdua. Anggaplah kalian sama karena kalian adalah saudara kembar”.

    Sejak saat itu, masyarakat di Pulau Komodo memperlakukan komodo dengan baik. Komodo bebas berkeliaran di dalam hutan dengan memangsa babi hutan, rusa serta binatang hutan lainnya. 

    Bagi komodo yang sudah tidak bisa mencari mangsa sendiri, mereka diberi makan oleh manusia.”

    Berdasarkan legenda tersebut diduga benar bahwa ada kedekatan antara Varanus Komodo dengan warga sekitar Taman Nasional Komodo hal tersebut dibuktikan dengan adanya warga yang tetap mendiami pulau kecil yang dibilang ekstrim tersebut.

    Dikatakan ekstrim karena komodo yang dikenal sebagai predator yang paling berbahaya, termasuk manusia. Apalagi jika tercium darah segar, namun sampai saat ini masyarakat sekitar masih tetap bertahan di pulau kecil nan indah tersebut.

    Komodo bahkan berkeliaran dibawah kolong rumah penduduk ini merupakan bukti kedekatan kedua spesies berbeda yang dilahirkan dari rahim yang sama tersebut.

    Penulis: Antonius Rahu, pemerhati adat dan Budaya Manggarai.
    Sumber Legenda: Baliho di TNK diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Inggris

    Baca Juga






    Komentar

    Tampilkan


     

     


    Terkini