[Puisi] Tentang Rumah Adat Yang Terbakar - Congkasae.com

Hoos ata werud

29 August, 2018

[Puisi] Tentang Rumah Adat Yang Terbakar



 ***Oleh Agus Thuru***

Atap alang-alang boleh musnah
Dilalap kobaran api
Tapi roh leluhur tetap hidup
Menjiwa  pada seluruh jiwa
Anak cucu keturunannya

Puing-puing bangunan Sa'o Ngaza *)  
Menggores luka di kedalaman hati
Tapi tidak untuk meluluhkan hasrat
Karena  jiwa dan raga anak keturunan
Masih kuat untuk kembali tegak berdiri

Ngadhu )  dan bhaga) boleh  dilahap api
Lebur pada debu tanah leluhur
Tapi namanya tetap  kuat tertanam
Dalam  aliran  darah para pewarisnya
Esok di saatnya  dibangun kembali

Batu-batu magis  di kuburan leluhur
Pada ture*) mesbah persembahan
Dan  tiang batu  bermakna nama besar
Akan tetap  ada di kampung  kesuburan
Menyongkong jiwa  untuk  bangkit.

Jiwa-jiwa tulus masih dilahirkan
Untuk menyusun kembali
Batu-batu yang berserakan
Menyulam kembali bilah-bilah kayu
Menjadi  rumah  bersemayam leluhur

Ritual-ritual  akan tetap berakar
Di tengah cucuran keringat pengabdian
Kekuatan anak cucu suku keturunan
Akan mendirikan  tiang yang kokoh
Dan leluhur  merangkul  dengan cinta

Kampung  kita
Leluhur kita
Jiwa kita
Kehidupan kita
Selamanya  tak akan termusnahkan

Denpasar, 29 Agustus 2018
Mengenang Terbakarnya Kampung Maghilewa (1990), Kampung  Watu
( 2016 ) dan Kampung Gurusina.*) Mohon  kebaikan  dari mosalaki DR.  Vian Watu untuk mejelaskan artinya. Terima kasih mosalaki.
Agus Thuru
Agus Thuru merupakan wartawan senior kelahiran Ngada, Flores, NTT. Saat ini menetap di Denpasar.


No comments:

Post a Comment