Satar Mata, Lumbung Padi yang Dilupakan Pemkab Manggarai Timur - Congkasae.com

News Update

18 December, 2018

Satar Mata, Lumbung Padi yang Dilupakan Pemkab Manggarai Timur


[Congkasae.com/Kreba] Satar Mata merupakan salah satu daerah penghasil padi yang cukup besar di desa Gunung Baru, kecamatan kota komba kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT.

Letaknya yang berdekatan dengan Wae Mokel menjadikan wilayah ini sangat cocok untuk dijadikan lahan persawahan.

Total ada puluhan hektar sawah yang membentang luas di perkampungan ini, dalam sekali masa panen, para petani bisa menghasilkan berton-ton gabah.

Sayangnya lumbung padi itu rupanya tidak pernah mendapatkan perhatian serius dari pemerintah kabupaten Manggarai Timur.

Buktinya, akses masuk ke wilayah ini hingga kini masih sangat sulit, untuk bisa sampai ke kampung ini harus melewati perjalanan selama dua hingga tiga jam.

Hal tersebut diakui oleh salah seorang warga kampung yang sempat diwawancarai congkasae.com. Menurut sumber ini, hingga kini akses masuk ke Satar Mata masih sangat sulit.

"Kita harus jalan kaki, melewati kebun kopi tidak ada jalan setapak seperti di desa lainnya,"ucap sumber yang enggan mempublikasikan identitasnya ini Senin (17/12) di Satar Mata.

Ia juga menambahkan hal yang paling sulit adalah jika musim hujan tiba, mereka harus menyebrangi Wae Mokel tanpa jembatan permanen.
Kali wae Mokel belum ada jembatan permanen

"Jadi kalau datang musim hujan seperti ini, kami harus berhati-hati menyebrangi kali Wae Mokel, apalagi kalau debit air meningkat kami tidak bisa menyebrang sudah,"katanya.

Bukan hanya itu, di musim hujan seperti ini warga Satar Mata juga harus bertaruh nyawa melewati jalanan sempit yang sangat licin.

"Belum lagi kita harus pikul ini beras atau padi jadi kami sengsara sekali,"tambahnya.

Ia juga menambahkan, jika musim kemarau tiba, warga Satar Mata sering menjual hasil panen mereka ke pasar Aimere kabupaten Ngada.

Hal tersebut terjadi karena warga kesulitan untuk membawa hasil bumi mereka ke Borong.

"kita mau bawah ke Borong ini hasil bumi tidak bisa, karena akses keluar ke jalur provinsi itu belum dibuka, masa kita harus pikul ini beras berton-ton melewati kali Wae Mokel, tidak hanya itu kita juga harus jalan kaki dua hingga tiga jam baru sampe di kampung watu Rajong. di sana baru kita bisa muat di oto (Kendaraan, red),"katanya.

Sementara jika mereka menjual hasil bumi ke Pasar Aimere, lanjut sumber ini, mereka hanya menunggu di depan rumah.
Hamparan sawah yang membentang luas

"Karena jalur Satar Mata menuju pasar Aimere itu sudah dibuka dua tahun lalu, jadi biasanya oto itu akan masuk kampung setiap hari Jumat,"katanya.

Untuk itu, pihaknya meminta pemerintah kabupaten Manggarai Timur untuk segera membuka akses masuk ke Satar Mata sehingga warga Satar Mata tidak lagi menjual hasil bumi mereka ke kabupaten tetangga.

"Jika akses ini dibuka kami bisa bawa ini beras di Borong, kami tidak perlu lagi menjualnya ke kabupeten sebelah,"harapnya.

Sementara itu hingga kini kepala desa Gunung Baru belum berhasil dikonfirmasi terkait hal ini.***

No comments:

Post a Comment