Ritual Senggu Nipi, Cara Buang Sial Ala Suku Rongga Matim - Congkasae.com

Hoos ata werud

06 March, 2020

Ritual Senggu Nipi, Cara Buang Sial Ala Suku Rongga Matim

Medium Perantara Ritual Senggu Nipi, Foto Marselino Ando/Congkasae.com

[Congkasae.com/Sosial Budaya] Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan,pendengaran,pikiran, perasaan atau indra lainnya dalam tidur. Mimpi bisa membuat kita merasa senang, sedih atau takut. Dan itu mungkin akan tampak membingungkan  atau sangat rasional.

Bagi sebagian, orang mimpi merupakan bunga tidur yang dihasilkan dari pikiran kita sebelumnya dan tidak akan terjadi di dunia nyata.

Misalkan sebelum tidur kita menghayal ketemu mantan kemungkinan besar itu akan terbawah kedalam alam bawah sadar kita, maka terjadilah mimpi.

Namun ada juga orang-orang yang percaya, bahawa petunjuk-petunjuk dalam mimpi akan terjadi dalam kehidupan kita, terutama mimpi-mimpi yang seram dan menakutkan.

Seperti yang diyakini oleh orang Rongga di Kisol, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Mereka meyakini bahawa mimpi-mimpi yang menakutkan akan bener-benar terjadi dan berdampak pada kehidupannya nanti.

Salah satu contoh, jika kita bermimpi jatuh dari sepeda motor, orang Rongga Kisol menerjemahkan itu sebagai nasib sial yang sedang menghampirinya.

Mereka memiliki keyakinan seperti ini bertolak dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang sudah diwarisi oleh nenek moyang orang Rongga Kisol.

Layaknya sakit yang memiliki obat sebagai penyembuh, orang Rongga juga memiliki solusi untuk kasus yang satu ini.

Salah satu solusi agar mimpi buruk itu tidak sampai terjadi di dunia nyata adalah melakukan ritual Senggu Nipi yang dilakukan sebagai ritual tolak bala.

Bagi orang Rongga, ritual ini dilakukan manakala ada orang yang bermimpi buruk maka sang pemimpi harus cepat memberitahukan hal itu pada tua adat setempat untuk melakukan ritual ini.

Tahapan-Tahapan Ritual
Layaknya ritual pada umumnya, Senggu Nipi juga memiliki tujuan yang jelas dan penting untuk dilakukan.

Ritual ini dilakukan untuk menangkal pengaruh roh-roh jahat yang kelak akan terjadi pada orang yang bermimpi.

Senngu Nipi lebih menitik beratkan pada tolak bala, dan diyakini menjadi penangkal pengaruh hal-hal buruk yang bakalan terjadi.

Untuk melakukan ritual ini, ada 4 tahap yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan penghayatan.

Tunu Manu (bakar ayam)
Ritual ini diawali dengan kegiatan kumpul bersama semua anggota keluarga dalam 1 suku.

Jam kumpulnya pun tidak sembarangan yakni pada pukul 18:00 petang acara ini dilanjutkan dengan kegiatan bakar lilin di kuburan keluarga.

Tepat pada pukul 19.00 malam semua anggota keluarga berkumpul dalam rumah adat dan mengikuti ritual tunu manu (bakar ayam) yang dipimpin oleh tetua adat.

Jenis ayam yang digunakan pun tidak sembarang ayam, hanya   Manu Sepang (ayam jantan warna merah yang berukuran sedang) yang bisa digunakan untuk ritual ini.

Setelah ayam disembeli dan dibakar, tahap selanjutnya adalah Ngilo Ura Manu (melihat usus ayam).

Ngilo Ura Manu ini hanya bisa dilakukan oleh tetua adat, adapun tujuannya hanya untuk memastikan kalau leluhur menyetujui ritual tersebut.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan cara melihat  jari-jari kaki ayam yang telah dibakar.

Jika jari-jarinya lurus dan terbuka, itu bisa diartikan leluhur merestui ritual ini. Begitu pulah sebaliknya, jika kaki ayam terkatup itu tandanya leluhur tidak merestui ritual ini.

Senggu Nipi
Tepat pukul 22.00 masuklah pada acara inti yaitu, Senggu Nipi (menyinggung/berbicara tentang mimpi buruk).

Ada sarana yang disiapkan dan dijadikan sebagai perantara dalam ritual ini yakni berupa tempurung kelapa, abu dapur, telur ayam kampung 1 butir dan Ua Mboro (sejenis daun pandan).

Setelah bahan-bahan tersebut disiapkan abu dapur dimasukan dalam tempurung kelapa, lalu bagian atasnya diletakkan telur ayam kampung dan Ua Mboro.

Ketika semua anggota keluarga yang hadir telah duduk melingkar, sarana ini digilir ke arah kanan dan setiap orang yang hadir wajib meludahi medium  tempurung yang sudah dilengkapi sarana tadi.

Tetapi ada yang berbeda, ketika sampai pada giliran orang yang mengalami mimpi buruk, ia harus menceritakan mimpinya pada sarana tadi dengan cara berbisik.

Nawu (menghantar)
Tahapan selanjutnya adalah Nawu atau menghantar mimpi buruk itu. Pada tahapan ini tetua adat yang ditemani oleh seorang laki-laki akan pergi menghantar sarana tadi ke Laza Sangga (persimpangan jalan) bisa juga di kali terdekat dengan berjalan kaki dan membawa sebilah parang.

Setelah sarananya dibuang, tetua adat akan menggaris tanah berbentuk horizontal sepanjang 1 meter dengan menggunakan parang.

Hal ini dilakukan  agar penghuni roh jahat yang ada di kali atau di Laza Sangga (jalan pertigaan) tidak mengikuti mereka ke rumah.

Sesampainya di rumah, mereka tidak diperkenankan untuk langsung masuk kedalam rumah.

Mereka harus membasuh muka, tangan dan kaki terlebih dahulu dengan menggunakan air yang sudah disiapkan oleh anggota keluarga.

Tunu manu (bakar ayam)
Ketika mereka sudah sampai di rumah, maka ritual selanjutnya adalah Tunu Manu alias bakar ayam.

Ini jadi tahapan yang terakhir dan harus ditutupi dengan bakar ayam juga.

Bedanya jika tahap pertama tadi tujuannya untuk menyampaikan dan meminta restu dari leluhur, tetapi Tunu Manu (bakar ayam) yang terakhir ini memiliki tujuan untuk berterima kasih kepada leluhur karena ritual ini sudah berjalan lancar.

Ayam yang disiapkan juga haruslah ayam yang berwarna merah atau yang disebut Manu Sepang namun pada tahapan akhir ini tidak lagi melakukan Ngilo Ura Manu (lihat usus ayam).

Uniknya kendati kita berada pada era moderen dengan perkembangan  teknologi yang semakin canggih, namun ritual ini masih terus dilakukan oleh orang Rongga.

Penulis: Marselino Ando
Editor: Antonius Rahu

No comments:

Post a Comment