Semuanya Berawal dari Pesan Whatsapp - Congkasae.com

News Update

03 March, 2020

Semuanya Berawal dari Pesan Whatsapp


Nama saya pedro, saya berasal dari Kabupaten Manggarai Timur. Saya diwisuda pada tahun 2017 dari salah satu universitas di kota kupang.

Dua bulan setelah diwisuda, saya mulai meniti karir sebagai wartawan di salah satu media online di Manggarai Timur.

Sebagai seorang jurnalis tentunya kesibukan saya lumayan padat. Saya menulis berita-berita aktual yang dapat menambah wawasan, agar mampu mengubah langgam berpikir masyrakat.

Sore itu seusai mengirim berita, sambil ngopi dan facebookan, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Peng.... pesan masuk melalui aplikasi pesan instan WA dari nomor baru dengan  gambar profil bunga mawar merah.

"Nana Pedro, Bagaimana kabar?" demikian isi pesan WA tersebut.

Hati saya berdebar kencang seakan-akan kenal dengan sosok misterius yang datang melalui pesan Wa, saya pun menjawab dan balik bertanya.

"Kabar baik nu... Apa kamu Yuliana yang pernah menjadi sejarah dalam hidup saya 4 tahun yang lalu?"tanya saya.

"He..he...he.. ia benar nana," demikian isi balasannya.

"He...he...he.. dari mana kamu dapat nomor saya nu? Padahal sudah 4 tahun kita hilang kabar,"kembali saya bertanya dengan penuh penasaran.

"Emm... , itu rahasiah saya nana. Ternyata saya bisa dapat no Wa kamu," jawabnnya lagi .

Yuliana memang mantan saya dulu. Ia berasal dari Ruteng, ibukota dari sebuah kabupaten yang terkenal dengan dileg "e" nya yang kental serta Kompiang Longa nya yang mendunia namanya kabupaten Manggarai.

Memang sudah empat tahunan kami menjalin hubungan asmara hal itu kami lakukan  waktu masih sama-sama kuliah di Kota Kupang dulu.

Semakin hari hubungan kami semakin serius kami sudah mulai bercerita seputar pekerjaan dan kenangan masa lalu, salah satunya tentang topik anak Babinya mama yang musim kawin kali ini berjumlah 12 ekor.

Setelah itu kami putuskan untuk ketemu di salah satu kedai kopi di kota Ruteng. Seperti biasanya kami salaman sebagai tanda persahabatan, lalu duduk menikmati kopi khas Manggarai di sore hari yang dingin.

Hampir 30 menit kami duduk membisu. Rupanya ketika ketemu langsung kami sama-sama gugup, kendati dulu pernah menjalin kasih. Namun saya tidak bisa menafikan kalau hati ini masi sama seperti 4 tahun yang lalu.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan langsung pada sasaaran.

"Nu Yuliana, kamu masih sama seperti 4 tahun yang lalu. Saya tidak bisa menafikan kalau rasa ini kembali bertumbuh. Apa enu juga punya rasa yang sama?, " tanya saya.

"Nana Pedro, untuk apa saya susah-susah cari nomor WA kamu kalau rasa ini tidak seperti empat tahun lalu?" ujranya.

"Saya tidak menjawab, tetapi nana bisa simpulkan sendiri isi hati saya,"ungkap enu Yuliana dengan mata berkaca-kaca.

Karena masih sama-sama single, akhirnya kami sepakat untuk menjalin hubungan spesial seperti 4 tahun lalu.

Penulis: Marselino Ando

No comments:

Post a Comment