Dirumahkan Karena Covid-19, Sedih atau Malah Senang? - Congkasae.com

News Update

14 April, 2020

Dirumahkan Karena Covid-19, Sedih atau Malah Senang?


***Oleh Adriana P. Sarana***

Begitu banyak perasaan yang berkecamuk dengan maraknya penyebaran virus mematikan bernama Covid-19 ini, sedikit senang, banyak sedihnya tapi yang paling dominan adalah perasaan cemas dan takut.

Liburan Paskah yang sudah menjadi tradisi di negeri kita tercinta ini yang lumrahnya hanya seminggu saja, rupanya tidak berlaku untuk tahun ini.

Pasalnya tahun ini institusi pendidikan sudah mulai meliburkan peserta didiknya jauh-jauh hari sebelum pekan suci itu tiba.

Meski sebenarnya kurang tepat jika dikatakan libur melainkan 'belajar dari rumah' yah beda-beda tipislah dengan liburan hehehe.

Tentang istilah belajar dari rumah inilah yang menjadi pro-kontra yang dialami dunia pendidikan akhir akhir ini.

Hal ini terjadi bukan tanpa alasan semenjak pemerintah melalui Menteri Pendidikan mengeluarkan instruksi bahwa proses pembelajaran di tanah air dilakukan secara 'online' alias pembelajaran daring, sementara di saat bersamaan kesiapan sarana infrastruktur penunjang pembelajaran daring yang dibilang masih minim.

Walaupun diberikan pula pilihan belajar 'off line'. Untuk pilihan pertama,jelas jelas menimbulkan kendala yang besar bagi peserta didik kami dalam hal ini siswa SMA yang selama masa dirumahkan ini mereka lebih memilih pulang ke kampung mereka masing masing.

Apalagi letak geografis kampung mereka sebagian besar berada jauh dari zona aman alias tidak memiliki jaringan internet dan fasilitas listrik.

Karena berbicara internet tidak terlepas dari listrik, pasalnya kita tahu, tidak ada IT dalam hal ini HP android tanpa listrik.

Variabel lain yang tidak kalah penting adalah tidak semua peserta didik kami berasal dari latar belakang ekonomi kelas menengah ke atas.

Tak jarang ponsel pintar alias HP saja sebagai sarana penunjang proses pembelajaran daring  itu mereka tidak punya.

Bercermin dari kondisi itu, makanya jika diberi pilihan terbaik sebagai peserta didik kami para guru sebenarnya lebih cenderung memilih pembelajaran off line, proses belajar mengajar di kelas ketimbang pembelajaran daring.

Namun sayangnya kami tengah mempersiapkan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran daring itu, ketika  instruksi Pemerintah dikeluarkan bahwa semua harus dirumahkan karena tamu tak diundang bernama Covid-19 itu sudah menyebar pesat.

Alhasil sebagai pendidik tidak banyak hal yang dapat kami lakukan selain meneruskan instruksi Pemerintah.

Instruksi untuk belajar dari rumah saja dulu, jaga jarak, jauhi kerumunan, hindari keluar rumah kalau tidak ada keperluan yang mendesak, dan jaga kebersihan terutama mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin.

Sebuah pertanyaan yang masih menggantung saat ini adalah apakah siswa kami yang selama kurang lebih 60 hari ini  dirumahkan, benar-benar belajar?

Atau malah mereka benar benar merasa bebas karena lepas dari kontrol kami para gurunya?

Ah entahlah..tapi kalau mau berkata jujur mungkin mereka akan menjawab, bagaimana kami bisa belajar dengan tenang dan aman sementara di kiri kanan kami, di media masa, media sosial semuanya memberitakan tentang ganasnya covid 19 itu?

Yah, jelas mereka tidak bisa dipersalahkan karena jawaban mereka sangat masuk akal.

Jadi untuk saat ini sebagai pendidik yang kami bisa lakukan adalah merangkum semua materi yang belum sempat diajarkan atau didiskusikan sebelum dirumahkan ini, sehingga dengan demikian mereka punya sedikit bekal dan kepercayaan diri untuk dapat menghadapi UAS atau ujian kenaikan kelas yang juga sudah di depan mata.

Akhir kata, semoga himbauan Pemerintah untuk dirumah saja tidak disalah artikan oleh peserta didik kami menjadi 'sebuah liburan' yang panjang dan lama.

Sebuah kalimat penutup dari saya, Hopefully This Storm Will Pass Soon

Penulis merupakan Guru pada SMA Negeri 2 Borong, saat ini menetap di Borong.

No comments:

Post a Comment