Catatan untuk Negeriku (Bagian 3) - Congkasae.com

News Update

13 April, 2020

Catatan untuk Negeriku (Bagian 3)


Ada sebuah mitos di kampungku, konon, ketika alam semesta terasa sepi, bumi digoyang, maka terjadilah gempa.

Ketika bumi bergoyang, semua warga kampung segera berkumpul di halaman sambil berteriak dengan suara nyaring.

"ata do,, ata do,"teriakan ini berarti "kami ada, kami banyak orang dan masih hidup".

Ibu-ibu dan anak-anak membunyikan barang apa saja agar terdengar ramai, ada kehidupan di bumi.

Ada keyakinan, bahwa alam atau bumi ini ada yang menggendong, entah siapa. Gempa berarti menggoyang atau mengayunkan gendongan untuk meminta tanda apakah kehidupan masih ada atau sebaliknya.

Ketika alam mendapat sinyal bahwa kehidupan masih ada, dipercaya gempa akan segera berhenti dan kehidupan kembali berlanjut.

Corona boleh dibilang, sedang menggoyang dunia. Corona hadir untuk memberi peringatan pada manusia yang hidup di era modern ini, generasi abad-21.

Dalam proses social distancing, kita diberi waktu jeda walau sebentar. Dalam jeda ada permenungan dan refleksi.

Boleh jadi, Corona hadir, karena dunia terlalu gemerlap, hingar- bingar dan sangat brisik, dan jorok. Manusia hidup terlampau glamour, hedon, berhala pada materi, kuasa dan jabatan.

Covid-19 datang membawa pesan, alam semesta butuh keheningan. Manusia diajak untuk rehat sejenak, masuk dalam keteduhan, mencari kebeningan jiwa.

Itulah mengapa, dunia dibuat lumpuh, dan seketika dunia mati suri. Kepongahan dilucuti, sampai tak berdaya sedikitpun.

Ego kita diuji, sampai kita sadar bahwa manusia dan bangsa-bangsa tak bisa hidup sendirian.

Akhirnya diakui, bahwa Corona memang mengajari kita banyak hal tentang kehidupan, tentang bernegara serta berdamai dan menyatu dengan alam semesta.

Lagi-lagi kita diajar agar manusia tak layak jumawa, karena kuasanya hanya secuil, dan kapan saja bisa lenyap. Kita diajak masuk lebih dalam, pada hakekat kemanusiaan.

Tak ada yang tinggi dan yang rendah, tak ada yang besar dan kecil, tak ada kaya dan miskin, tak ada yang paling benar dan salah, tak ada yang paling suci dan berdosa. Kita manusia sama dan bersifat fana dan sementara.

Karena itu, kita diajak untuk hidup saling berbela rasa, empati dan peduli sesama. Bebanmu adalah bebanku, sakitmu adalah sakitku, kecemasanmu adalah kecemasanku.

Duka dan gembira dunia adalah duka dan gembira kita. Akhirnya, wabah ini akan sampai pada ujung dimana dunia dan manusia dipaksa tunduk dan berubah.

Akan muncul keseimbangan baru antara kehidupan manusia dengan alam semesta. Jika tiba saatnya, percayalah wabah ini akan segera berlalu.

Untuk itu, mari kita semua diajak untuk tunduk dan taat pada Yang Menggendong Kehidupan. Sambil menyalakan api harapan agar wabah ini segera berakhir.

***Sebastian Salang***

No comments:

Post a Comment