Teruntuk Perantau NTT yang Hendak Pulkam Tetap Kuat, Jangan Baper Jika Diperlakukan Berbeda - Congkasae.com

News Update

13 April, 2020

Teruntuk Perantau NTT yang Hendak Pulkam Tetap Kuat, Jangan Baper Jika Diperlakukan Berbeda


***Oleh Antonius Rahu***
Gelombang kepulangan  perantau NTT belakangan ini mulai terasa di mana-mana, menyusul wabah Covid-19 yang sudah merebak hampir ke seluruh pelosok tanah air.

Ini adalah gelombang pergerakan manusia yang dibilang cukup besar terjadi selama beberapa dekade terakhir di provinsi kepulauan bernama Nusa Tenggara Timur.

Ini bukanlah tanpa alasan, mengingat sebagian besar warga Nusa Tenggara Timur memang mengais rejeki di luar derah.

Merantau, ya....itulah kata yang cocok untuk mereka. Ada beberapa motif atau latar belakang mereka merantau,  mulai dari alasan mencari pekerjaan yang lebih baik, mencari pengalaman bahkan menuntut imu.

Bagi kami orang NTT merantau merupakan kebiasaan yang sudah diwariskan secara turun temurun, populasi orang NTT yang berdomisili di luar Provinsi itu saat ini diestimasi mendekati 30% dari total populasi penduduk Nusa Tenggara Timur.

Meski sampai detik ini saya belum mendapatkan data resmi jumlah perantau NTT dari otoritas terkait.

Dijuluki Tulang Punggung Namun Kerap Jadi Korban Perdagangan Manusia
Ilustrasi jenazah TKI NTT,Getty/Congkasae.com

Para perantau NTT umumnya tersebar di beberapa sektor di tanah air, mulai dari sektor rumah tangga, buruh bangunan, perusahaan, pariwisata, Mahasiswa, Dosen, Guru, Perawat dan masih banyak profesi lainnya.

Di Indonesia mereka tersebar di hampir seluruh pelosok negeri mulai dari DKI, Bali, Makassar, hingga Kalimantan dan Papua.

Sementara untuk  yang berstatus buruh migran di luar negeri juga terbilang cukup banyak, sedikitnya ada beberapa negara tujuan favorit perantau NTT, diantaranya Malaysia, Singapura, dan Taiwan.

Baik yang diberangkatkan melalui jalur formal atau legal maupun non formal alias ilegal pemerintah kelihatannya cuek dengan kondisi buruh migran NTT.

Saking cueknya pemerintah, sampai-sampai hampir  setiap tahun Provinsi itu pasti selalu mendapat kado petih jenazah para buruh Migran.

Naasnya lagi petih jenazah yang diterima keluarga selalu dalam kondisi yang tidak utuh, pasti ada organ tubuh jenazah yang hilang.

Di saat bersamaan para sindikat perdagangan manusia berkedok perusahan Jasa Keberangkatan Tenaga Kerja (PJTKI) berkeliaran bebas di NTT.

Modus Operandi yang kerap digunakan adalah merekrut anak-anak gadis usia belasan di daerah pedalaman dengan iming-iming gaji besar. Namun ternyata itu hanyalah strategi mengelabuhi anggota keluarga dan korban.

Alhasil keluarga korban yang minim akses informasi menyetujui dan secara tidak langsung korban sudah masuk dalam lingkaran sindikat perdagangan manusia.
Ribuan buruh Sawit perantau NTT di Kaltim, Foto Tribun/Congkasae.com

Untuk mengelabuhi keluarga korban, pelaku kerap menggunakan orang lokal sebagai perekrut di lapangan, nantinya perekrut memberikan uang satu jutaan pada ibunda korban dengan alih-alih uang sirih pinang.

Akhirnya anak diberangkatkan dan keluarga di NTT tidak pernah tahu kapan ia bisa pulang kembali, hilang selamanya, pergi tanpa kabar, menghilang tanpa jejak.

Kejadian ini terus berulang setiap tahunnya, lihat saja pada 2016 lalu Diaspora NTT di Bali yang sering disebut Flobamora Bali pernah menggagalkan puluhan calon TKW tanpa dokumen resmi di Bandara Ngurah Rai.

Para Calon TKW ini berasal dari beberapa daerah di NTT rata-rata usia mereka masih di bawah 18 tahun. Rencananya mereka akan diberangkatkan ke Malaysia.

Namun Tuhan berpihak pada mereka setelah Flobamora Bali berhasil menggagalkan keberangkatan gadis-gadis usia belia ini dan dipulangkan ke NTT.

Kurang lebih begitulah cerita buruh migran NTT setiap tahunnya. Meski begitu jasa mereka sangat besar untuk tanah kelahiran.

Buktinya mereka telah banyak menyumbang devisa bagi provinsi Nusa Tenggara Timur, bahkan di beberapa daerah di provinsi itu mereka menjadi tulang punggung dalam keluarga.

Dari hasil keringat perantau inilah yang jadi salah satu sumber mengalirnya rupiah ke kantong-kantong devisa wilayah itu untuk menggerakan roda perekonomianya.

Dilema, Bertahan di Rantau dalam Ketidakpastian atau Pulkam?
Ilustrasi kebingungan, Bagas/Congkasae.com

Kondisi memang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita perkirakan, ibarat ladang yang kami garap di NTT, terkadang memberikan hasil yang sepadan dengan usaha yang kami lakukan.

Namun terkadang bencana belalang atau ilalang yang menghimpit tanaman kami sehingga tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Kurang lebih hal itu juga yang terjadi pada perantau di luar NTT saat ini, kalah wabah Corona ini melululantakan segalanya dan berimbas pada kerja mereka.

Imbasnya adalah perusahan tempat kerja yang selama ini jadi sumber utama penghasilan tidak lagi mengeluarkan uangnya untuk menggaji mereka.

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di hampir semua sektor di kota-kota besar. Sementara kebutuhan hidup pekerja termasuk perantau NTT hampir mustahil untuk bisa absen dalam sehari saja.

Biaya makan-minum, biaya sewa hunian, bayar kos, dan lain-lain jalan terus dan mustahil bisa absen. Ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu opsi terbaik adalah pulang kampung.

Iya pulang kampung memang jadi opsi terbaik, meski di kampung hanya makan ubi bakar, pisang rebus, jagung bose, jagung titi, asalkan bisa selamat dari ancaman bencana kelaparan yang sudah membayang-bayangi di depan mata.

Bisa melewati masa-masa keritis ini bersama keluarga besar, itulah yang kurang lebih dipikirkan para perantau dalam perjalanan pulang.

Iya kami di NTT juga mengkhawatirkan kondisi kalian yang ada di daerah rantauan. Di ujung ruangan yang gelap berbekalkan pelita, kami selalu berdoa semoga kalian selamat dari ancaman wabah Covid-19 ini.

Di ujung barat pulau Flores tepatnya di Pelabuhan dan Bandara Komodo Labuan Bajo, setiap kapal dan peswat yang menepi di daerah itu selalu penuh sesak.

Ini adalah fenomena di luar kebiasaan dan tidak lazim, rupanya perantau ini sudah benar-benar kembali ke NTT.

Kalian Jangan Baper Jika Diwarnai Kecurigaan
Ilustrasi Halo Sehat/Congkasae.com

Harus diakui bahwa kepulangan perantau NTT ini ke daerah asalnya diwarnai dengan kecurigaan terutama oleh sesama kami yang di NTT.

Rasa sensitifitas dan kewaspadaan kami di kampung akhir-akhir ini meningkat drastis akibat wabah corona ini.

Apalagi dengan para pendatang baru, kami lebih takut dengan ancaman wabah Corona mengingat minimnya akses ke fasilitas kesehatan di daerah pedalaman NTT.

Meski kami tahu bahwa kalian yang baru tiba di NTT itu masih sehat-sehat namun ketakutan kami lebih besar dari pada anggapan itu.

Tak jarang kepulangan kalian diwarnai aksi-aksi rasial dan penolakan oleh warga sekitar, namun percayalah bahwa kami semua menyayangi kalian sebenarnya.

Kami ingin agar kita masih bisa sama-sama kembali menikmati rasa hangatnya mentari yang terbit di ufuk timur di hari esok.
Tim Gugus Tugas Covid-19 melakukan pemeriksaan suhu tubuh Bocah di tempat karantina kabupaten Ende, Foto Eppi Darato/Congkasae.com

Dan masih bisa melewati hari-hari dengan canda tawa ditemani segelas kopi sembari menikmati indahnya senja lagi-dan lagi.

Kami tidak ingin salah satu dari kita tidak lagi menikmati itu semua karena kehabisan darahnya akibat diisap monster bernama covid-19.

Iya kami sayang kalian sebenarnya, kami cinta kalian, kami rindu kalian semua, dan kami pikir rasa itu juga ada pada kalian bukan?

Namun Covid-19 telah menjadi sekat pemisah kebersamaan kita untuk sementara waktu, tradisi salaman, cium hidung, cipika-cipiki itu ditiadakan.

Bukan hanya itu kebiasaan bertegur sapa itu kini diganti dengan kecurigaan satu sama lain, tak jarang ada cibiran dari mulut-mulut yang tidak terkontrol.

Jika membuka media sosial Facebook kalian jangan baper jika melihat unggahan yang memojokkan kalian. Kalian harus kuat sebagaimana gigihnya kalian bertahan hidup di tanah rantau.

Bagaimana kuatnya kalian hanya berbekalkan air putih sehari (tidak makan sehari), bagaimana kuatnya fisik kalian menahan panasnya terik matahari di jalan-jalan, di gedung-gedung terbuka.

Ingat bagaimana kuatnya kalian menahan tangis mana kala mendapatkan omelan dari sang majikan, kami rasa kalian bisa melewati itu semua.

Mental perantau kalian sudah kuat, jadi itu juga harus kalian terapkan ketika diperlakukan berbeda di tanah kelahiran.

Kami semua sayang kalian, kami rindu kalian, jadi patuhi aturan yang diterapkan di pintu masuk. Jika petugas cerewet patuhi, itu semua demi kebaikan kita semua.

Jangan baper juga jika di kampung kalian dijauhi tetangga bahkan keluarga sendiri, patuhi anjuran karantina mandiri selama 14 hari yang dilakukan otoritas desa.

Jangan membandel, jika menemui gejala batuk, pilek, sesak napas jujurlah pada petugas medis, biar segera mendapatkan pertolongan.

Jangan tersinggung jika ditanyai banyak hal oleh petugas, jawab sejujur-jujurnya, kalian jangan kaget dan bosan jika dicek beberapa kali selama dalam perjalanan pulang, yakinlah itu semua demi kebaikan kita bersama.

Sembari melewati masa-masa keritis ini mari sama-sama kita bergandengan tangan melawan Covid-19 ini.

Kita meminta pada Tuhan agar wabah Covid-19 ini segera berlalu, sehingga kita bisa kembali beraktivitas seperti sediakala tanpa adanya ketakutan dan saling curiga satu sama lain.

Penulis merupakan mantan perantau saat ini menetap di Labuan Bajo, Flores

No comments:

Post a Comment