Airlangga-Khofifah; Represesntasi Golongan Nasionalis Dan Religiusitas - Congkasae.com

News Update

close
MAU CETAK UNDANGAN, Cetak FOTO, UNTUK PERNIKAHAN ANDA?
Ke TONY PRINTING saja, Hubungi kami di 082 342 994 060

31 Mei 2021

Airlangga-Khofifah; Represesntasi Golongan Nasionalis Dan Religiusitas

 

***Oleh Alvitus Minggu, S.I.P, M.Si***

Merencanakan Khofifah untuk berpasangan degan Airlangga sebagai calon Presiden dan wakil Presiden pada Pilpres 2024 merupakan pilihan rasional (rational Choice) dengan harapan Khofifah mampu mengendalikan narasi-narasi yang mengandung sara yang dimainkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang dapat mengancam nilai Bhineka Tunggal Ika.

 

Rencana tersebut, memang tidak terlepas dari pertimbangan tertentu, di mana khofifah dipilih  untuk menjadi wakil mendampingi Airlangga Pilpres 2024 ada hubungan dengan kepentingan politik mayaritas. Ia merupakan sosok yang dianggap paling ideal mendampingi Airlangga karena kita tahu bahwa Khofifah sosok yang memiliki prestasi dan pengalaman yang mumpuni, baik dalam bidang pemerintahan maupun dalam bidang keagamaan. Prestasi dan pengalaman Khofifah sangat nyata. di mana beliau sendiri aktif diberbagai kegiatan kemasyarakatan. Sisi lain, beliau juga aktif di organisasi Muslimat merupakan organisasi sayap perempuan Nahdlatul Ulama NU.

 

Apa lagi, beliau pernah memimpin Muslimat periode (2000- 2005). Berkat kegigihan dan  pengalaman tersebut, ia pun terjun kedunia politik hingga mengantarkan dirinya sebagai anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa PKB). Ia juga pernah menjadi Menteri dua kali dengan presiden yang berbeda. Saat ini, beliau menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur. Merupakan propinsi yang kuat Muslimatnya.

 

Demikian halnya, Airlangga Hartarto merupakan tokoh politik yang memiliki prestasi dan pengalaman yang mumpuni, Prestasi dan pengalaman Airlangga Hartarto sangat nyata, baik dari segi latarbelakang pendidikan, organisasi, karier politik dan bisnis. Pada periode pertama pemerintahan Jokowi, yaitu (2014- 2019) ia dipercaya sebagai Menteri Perindustrian. Kemudian pada periode kedua, Yaitu (2019-2024) Airlangga Hartarto juga kembali dipercaya oleh Jokowi sebagai Menko Perekonomian.

 

Dipilihnya Khofifah sebagai cawapres akan membawa konsekuensi positif bagi kemajuan bangsa dan Negara, yang jauh lebih baik daripada keadaan sebelumnya.

 

Pasangan Airlangga-Khofifah merupakan perpaduan nilai, yaitu mewakili kelompok nasionalis dan kelompok religiusitas yang disokong adanya keterlibatan secara langsung partai politik di dalamnya.

 

Menggabungkan Airlangga-Khofifah rupanya dalam rangka upaya untuk menghilangkan doktrin tirani minoritas dan mayoritas di bangsa ini.

 

Adanya keterlibtan partai politik baik secara langsung maupun tidak langsung dalam memunculkan calon presiden dan wakil presiden setiap pemilihan umum menunjukkan bahwa partai politik menjadi sesuatu yang terpenting dalam rangka untuk menjamin keberlangsungan sistem politik dalam suatu Negara.

 

Maka, dengan demikian secara moral politik berarti partai politik juga ikut bertanggungjawab bila suatu ketika calon presiden dan wakil presiden terlibat dalam kasus tertentu, khususnya kasus yang bertentangan dengan konstitusi Negara.

 

Pasangan Airlangga-Khofifah bisah menimbulkan persepsi publik bahwa pasangan tersebut, seolah-olah pasangan yang mempresentasikan suara umat islam, loyalitas dengan Islam dan didukung oleh Islam.

 

Mengapa persepsi itu terbangun, karena memang secara kuantitas penduduk Indonesia mayoritas merupakan pemeluk agama Islam sehingga gerakan pencitraan diri sebagai pembela Islam yang dibungkus dengan simbol agama sah-sah saja dan itu merupakan langkah strategis yang secara konsisten melakukan oleh para masing-masing kandidat demi memperoleh dukungan suara umat Islam secara signifikan.

 

Simbol agama ditarik-tarik keranah politik oleh berbagai komponen politik karena merasa perlu, demi memenangkan pertarungan kekuasaan politik. Agama dikapitalisasi sebagai kekuatan modal politik bagi para aktor-aktor politik yang sengaja diciptakan untuk meraup suara mayoritas.

 

Situasi kekinian, dimensi agama dalam setiap kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden sangat diperlukan. Mengingat hal itu menjadi wilayah pertarungan bebas. Tentu dalam hal ini memerlukan berbagai srategi politik untuk menyakinkan publik. Targetnya adalah memenangkan suara elektoral/dalam rangka untuk meraih suara terbanyak dari masing-masing distrik. Bila perlu hal itu menjadi rujukan oleh masing-masing pasangan calon untuk memenangkan pertarungan presiden 2024 mendatang.

 

Terlepas pro dan kontra soal konsep Airlangga Hartarto berpasangan dengan Khofifah Parawansa dengan menggunakan simbol agama dalam pemilihan presiden 2024, sebetulnya pertarungan tersebut, merupakan praktek riil perluasan pemahaman tentang ideologi demokrasi karena pemahaman tentang demokrasi bersifat multi kompleks. Salah satu di dalamnya berbicara mengenai kebebasan dan kemerdekaan.

 

Demokrasi sebagai ruang bersama, di mana setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk mengekspresikan tentang sebuah nilai termasuk pemahaman tentang calon presiden dan wakil presiden untuk menggunakan politik identitas berlabel dimensi agama.

 

Apakah pro dan kontra terkait dengan pencalonan Arlangga Hartarto berpasangan dengan Khofifah dalam pilpres 2024, namun pada dasarnya politik identitas, kebebasan dan kemerdekaan merupakan prinsip dasar yang secara otomatis melekat dalam diri setiap individu masyarakat bersifat absolutism karena pada hakekatnyya manusia itu selalu berbicara tentang politik yang dipengaruhi oleh intervensi sosial.

 

Dampaknya setiap hajatan pilres atau apapun sejenisnya selalu muncul sikap saling mendiskreditkan, bercaci maki dan menghina satu sama lain. Biasanya sikap saling mendiskreditkan satu sama lain dipicu oleh sentimen individui/kelompok. Pada akhirnya mengesampingkan faktor loyalitas rasionalitas.

 

Wacana untuk memilih Airlangga akan berpasangan dengan Khofifah sebagai calon presiden dan wakil presiden bukan tanpa adalasan, tujuannya adalah untuk membendung, mana kala dikemudian hari muncul gerakan radikalisme dan gerakan intoleransi di Indonesia. Hal tersebut sangat berpotensi besar terjadi seperti itu sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas Muslim.

 

Harapan lain, demi mewujudkan politik kebangsaan itu bisa melalui aspek Nasionalisme. Dalam rangka untuk menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah Negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan/cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan NKRI, baik secara internal maupun secara eksternal.

 

Menempatkan pasangan Airlangga-Khofifah sebagai calon presiden dan wakil presiden dalam pilpres 2024, dalam rangka untuk mengedepankan kembali nilai-nilai kebenaran sosial yang dapat mempersatukan masyarakat Indonesia serta mengedepankan kepentingan bersama. Demi mewujudkan manusia yang bisa saling menghormati, menghargai satu sama lain tanpa memandang status sosial orang. Lebih dari itu tujuannya adalah saling menjunjung tinggi nilai hidup berdampingan sehingga NKRI menjadi harga mati. Indonesia semakin kuat dan jaya, yang disimbolkan dalam pemahaman Bhineka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu. Dan tetap kita memiliki satu tekad yang sama, yaitu Indonesia tetap bersatu.

 

 




Oleh Alvitus Minggu, S.I.P, M.Si

Dosen Fisip Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Dosen Ilmu Politik Universitas Bung Karno Jakarta, sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Network Election Survei (INES).

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar