Menggali Makna Belis dalam Budaya Manggarai - Congkasae.com

News Update

close
MAU CETAK UNDANGAN, Cetak FOTO, UNTUK PERNIKAHAN ANDA?
Ke TONY PRINTING saja, Hubungi kami di 082 342 994 060

28 Mei 2021

Menggali Makna Belis dalam Budaya Manggarai

Molas Manggarai/Foto Casarondowoing

Kehadiran seorang perempuan memungkinkan adanya keturunan. Dari sini dapat kita sadari bahwa peran perempuan dalam mempertahankan keturunan sangat penting. 

***Oleh Sirilus Yekrianus***

Dalam budaya manggarai, perkawinan memiliki makna yang sakral dan penting. Kesakralan ini dapat dilihat dari ritus-ritus yang dilakukan dalam upacara perkawinan tersebut.


Seseorang yang hendak menikah harus melewati berbagai macam ritus adat dan harus melewati proses yang cukup panjang. 


Saya dalam tulisan ini tidak mengulas mengenai ritus-ritus yang dilakukan dalam upacara perkawinan. Dan yang menjadi titik fokus saya dalam uraian singkat ini adalah upaya menggali makna belis dalam sistem perkawinan orang Manggarai.


 Belis memiliki nilai yang luhur dalam budaya Manggarai. Akan tetapi akhir-akhir ini banyak orang melihat belis secara negatif.  


Keluhuran makna belis telah direduksi hanya dalam tataran materi, Pendidikan yang tinggi, dan persoalan status sosial. Maka tidak heran bahwa seolah-olah perempuan itu diperjualbelikan. 


Bahkan ada yang melihat bahwa belis merupakan bentuk penjajahan baru dan salah satu penyebab kemiskinan. Berangkat dari kenyataan ini, dalam tulisan sederhana ini saya akan menggali makna belis itu sendiri. 


Dalam menggarap tulisan ini pertama-tama penulis dalam bagian pengantara ini mengemukakan persoalan yang bertolak belakang dengan makna belis itu sendiri, seperti yang telah diulas tadi, belis sebuah bentuk penjajahan baru dan lain-lain. 


Pada bagian kedua, saya secara singkat menguraikan pengertian belis dan sejarah singkat mengenai belis itu sendiri. 


Dan pada bagian ketiga saya mengajak pembaca untuk masuk dalam bagian pokok pembahasan yang diberi judul “penjernihan makna belis”. Pada bagian ini saya akan memperlihatkan tiga poin penting yaitu; pertama, belis sebagai penghargaan martabat manusia. 


Kedua, belis sebagai legitimasi perkawinan monogami dan ketiga, belis sebagai prinsip tanggungjawab. Dan terahkir sebuah kesimpulan.

  

Sekilas Tentang Belis

Molas Manggarai ketika menari di kampus UPMI Denpasar Bali/Foto Congkasae.com


Pengertian

Defenisi mengenai belis telah banyak dilakukan dan pada ulasan ini saya secara singkat mengulas pengertian belis atau yang sering disebut paca/wagal. 


Ulasan dalam pengertian ini merupakan perangsang bagi pembaca untuk masuk dan mendalami makna belis.  Secara umum pengertian belis kita pahami sebagai tanda terimakasih kepada pihak wanita (keluarga) karena telah merelakan anak mereka untuk mengarungi kehidupan yang baru. 


Dalam tulisannya, Santiana Gaudiosa mendefenisikan belis sebagai bentuk mas kawin yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai bentuk mahar perkawinan (bdk. http://simki.unpkediri.ac.id/mahasiswa/file_artikel/2019/14.1.01.02.0003.pdf). 


Belis juga dilihat sebagai penentuan sahnya perkawinan sebagai imbalan jasa atau jerih payah orang tua. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), belis diartikan sebagai harta yang diberikan oleh pihak laki-laki, kepada mempelai perempuan pada saat melamar atau mas kawin (bdk. https://typoonline.com/kbbi/Belis).

Sejarah Singkat

Peran Tongka dalam menjembatani tradisi belis/Foto Congkasae.com

 

Proses belis yang kita kenal saat ini tidak terlepas dari historisitas hidup orang Manggarai. Artinya belis berkaitan erat dengan segala dimensi kehidupan orang Manggarai. Istilah belis ini terbilang dipengaruhi oleh beberapa dalu (raja) yang melakuakan ekspansi ke Manggarai. 


Dami N. Toda mengatakan bahwa tradisi belis sudah dilakukan sejak lama dan bahkan sejak tahun 1727 (Dami N. Toda, 1999:107). Dalam sebuah kajian mengatakan bahwa belis telah berlangsung lama bahkan sejak zaman kerajaan Todo sampai dengan kedatangan kerajaan Goa di Manggarai (Santiana Gaudiosa, 2018:5). 


Dikutib dari congkasae.com, tradisi belis dimulai sejak terjadinya wabah penyakit cacar yang melanda Manggarai di era 1930-an. Penyakit cacar ini memakan banyak korban dan populasi orang Manggari dari hari kehari semakin menurun. 


Maka pada masa itu perempuan dilihat sebagai benih (ni’i) berharga yang bisa melanjutkan keturunan dan mempertahankan keberadaan keluarga (wa’u) (https://www.congkasae.com/2016/09belis-di-manggarai-antara-antara.html). 


Kendati demikian, belis merupakan suatu peristiwa yang sakral dan memiliki makna yang sangat dalam. Validitas perkawinan orang Manggarai ditentukan oleh belis-nya. Artinya belis menentukan berlangsung dan tidaknya acara perkawinan. Makanya acara belis ini sangat penting dilakukan dalam budaya Manggarai.


Penjernihan Makna Belis

Tukar kila dalam proses peminangan molas Manggarai/Foto Congkasae.com


Penghargaan martabat perempuan

Telah dikatakan pada bagian awal, sejatinnya belis memiliki nilai yang luhur dalam sistem perkawinan Manggarai. 


Tradisi belis ini sejak awal dimaksudkan untuk menghormati martabat perempuan. Atau dengan kata lain untuk menghormati tuka wing de ende (mengormati rahim ibu yang mengandung). 


Kehadiran seorang perempuan memungkinkan adanya keturunan. Dari sini dapat kita sadari bahwa peran perempuan dalam mempertahankan keturunan sangat penting. 


Maka dari itu, sudah selayaknya seorang perempuan harus dihormati, dihargai. Pernghargaan terhap perempuan salah satunya diwujudkan melalui belis atau paca/wagal. 


Dalam perjalanan waktu makna belis ini tidak lagi dilihat sebagai yang luhur, tetapi direduksi pada harta benda, dan tentunya hal ini menjadi persoalan. 


Jika makna belis ini dilihat dalam tataran materi maka dengan sendirinya martabat perempuan dilecehkan, direndahkan. Bahkan perempuan bisa disamakan dengan harta benda yang dapat diperjual belikan. 


Dengan sendirinya konsep kemanusiaan seorang perempuan disamakan dengan materi. Anggapan seperti ini saya sebut sebagai kemunduran dalam penghayatan makna belis atau paca/wagal itu sendiri.


Harus diakui bahwa, terkadang dari pihak anak wina (keluarga mempelai laki-laki) tidak mampu melunasi belis yang telah disepakati (bantang). 

Acara podo wina weru dalam adat Manggarai/Foto Congkasae.com


Bahkan ada yang menunda atau membatalkan acara perkawinan karena alasan belis yang dibawa tidak sesuai dengan permintaan dari pihak anak rona (keluarga perempuan). Bagi saya inilah realitas yang benar terjadi dan menjadi rahasia umum orang Manggarai. 


Tetapi bukan karena alasan yang demikian kita mengatakan bahwa martabat perempuan disamakan dengan belis (disamakan dengan materi). 


Lantas apa yang harus dilakukan saat ini, agar martabat perempuan tetap dihormati, dihargai dan tidak disamakan dengan belis (baca: materi/benda) tersebut? Bagi saya yang perlu dilakukan adalah perlunya penanaman nilai bagi generasi sekarang terutama mengenai makna belis. 


Hal ini sangat penting, karena manusia generasi sekarang telah banyak dipengaruhi oleh budaya yang datang dari luar dan telah banyak dipengaruhi oleh teknologi yang semakin pesat. Penanaman nilai ini dimaksudkan agar generasi milenial sekarang tahu dan mengerti maksud dan makna belis yang sesungguhnya. 


Terkadang kemiskinan pemahaman mengenai belis dapat menimbulkan persoalan dan mengganggu kehidupan masyarakat secara umum. Bahkan dari sana juga timbul rasa benci, rasis dan tindakan kejahatan lainnya. 

Prinsip tanggungjawab

Setelah kita melihat makna belis sebagai  penghargaan terhadap martabat perempuan, pada poin kedua ini saya akan mengulas prinsip tanggungjawab seorang laki-laki dalam kaitannya dengan belis. 


Belis nampaknya memberi nilai positif bagi laki-laki yang hendak meminang seorang perempun. Melalui belis seorang laki-laki sadar bahwa pernikahan itu tidak mudah, harus ada pengorbanan, tanggung jawab yang besar. 


Bukti cinta seorang laki-laki kepada sang mempelai wanita adalah tanggungjawab termasuk dalam hal belis. Belis ini juga secara tidak langsung menggambarkan bagaimana tanggungjawab seorang laki-laki dalam mengurus isteri dan anak-anaknya nanti. 


Ketika seorang laki-laki berusaha keras untuk membayar belis, ini menunjukan bahwa dia sangat bertanggungjawab dengan calon istrinya.


Kesimpulan 

Dari ulasan singkat di atas, kita telah melihat sekilas mengenai pengertian belis, juga telah melihat sekilas sejarahnya. 


Dan kita telah melihat bagian penjernihan makna belis atau paca/wagal. Dalam bagian ini, kita dihantar untuk melihat dua poin penting yaitu belis sebagai penghargaan terhadap martabat perempuan. 


Ulasan mengenai penghargaan terhadap martabat perempuan ini sebenarnya mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali mengenai makna belis. Dan juga merangsang pembaca untuk menggali kembali makna belis yang saat ini diredam oleh mengalirnya budaya asing terutama dalam kalangan anak muda. 


Hal ini dapat kita lihat dan saksikan, kaum muda sekarang ini lagi demam-demamnya mengadopsi budaya K-Pop,  mengadopsi budaya barat dan bertingkah kebarat-baratan. Hal ini dapat memiskinkan pengertian dan penghayatan terhadap budaya sendiri.


Bagian yang tidak kala penting juga adalah prinsip tanggungjawab seorang laki-laki terhadap perempuan. Lagi-lagi ulasan saya pada bagian ini hendak merangsang dan mengajak kaum muda (yang belum menikah), agar menyadari bahwa menikah bukan suatu hal yang mudah. 


Bagian ini juga mengajak pembaca agar menyadari akan besarnya tanggungjawab seorang laki-laki terhadap isterinya salah satunya melalui belis atau paca/wagal. 

Penulis merupakan Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana, Malang

Nama Pena: Ekhing Patir_96

Daftar Rujukan 

Gaudiosa, Santiana. (Skripsi): Studi Tentang Tradisi Menelisik Makna Belis: Sistem Perkawinan Adat Manggarai di Flores NTT. Kediri: Universitas Nusantara PGRI, 2018. 

Toda, Dami N. Manggarai Mencarai Pencerahan Historiografi. Ende: Nusa Indah, 1999.

https://www.congkasae.com/2016/09belis-di-manggarai-antara-antara.html, diakses pada 17 April 2021.

http://simki.unpkediri.ac.id/mahasiswa/file_artikel/2019/14.1.01.02.0003.pdf, diakses pada 16 April 2021.

https://typoonline.com/kbbi/Belis, diakses pada 16 April 2021.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar