- -->
  • Jelajahi

    Copyright © Congkasae.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Jangan ke Lengko Elar Jika Tak Punya Hobi Offroad

    02 Maret, 2022, 02 Maret WIB Last Updated 2022-03-02T13:25:32Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Kondisi jalan sebelum memasuki Lengko Elar

    [Congkasae.com/Lejong] Apa jadinya jika seharian kalian tidak bisa mengakses internet? mungkin kalian akan merasa khawatir? atau bahkan merasakan dunia berubah lantaran terputus dengan akses informasi dunia luar?


    Itulah yang dirasakan penulis, ketika berkunjung ke Lengko Elar, kabupaten Manggarai Timur awal pekan ini.


    Ya Lengko Elar merupakan sebuah tempat yang dikatakan cukup padat penduduk maklum daerah ini merupakan ibu kota kecamatan Elar.


    Kecamatan Elar sendiri dibentuk sejak kabupaten Manggarai Timur belum dimekarkan alias masih bersatu dengan kabupaten induk yakni kabupaten Manggarai.


    Di tengah hingar-bingar kemajuan dunia saat ini warga Lengko Elar ternyata masih belum merasakan terangnya lampu PLN, nikmatnya akses internet dari ponsel dan mulusnya jalan hotmiks.


    Hal itu terlihat ketika media ini mengunjungi daerah itu awal pekan kemarin, dari pengamatan media ini akses masuk ke wilayah itu bisa dilakukan melalui dua jalur utama yakni jalur Bea Laing-Watu Nggong Lengko Elar dan Jalur Mukun-Mamba-Lempang Paji-Lengko Elar.


    Pada awal pekan kemarin kebetulan media ini memilih jalur alternatif yakni Bea Laing-Watu Nggong-Lengko Elar.


    Berangkat dari Ruteng sekitar pukul 9:30 WITA, media ini baru tiba di Lengko Elar sekitar pukul 13:30 WITA.


    Itupun bisa sampai di sana setelah melewati perjuangan yang super hebat, terutama menaklukan jalan bebatuan yang sudah berusia puluhan tahun tanpa adanya aspal.


    Bagi orang yang tidak memiliki hobi Off Road kondisi tersebut terasa amatlah menyengsarakan, pasalnya, untuk bisa sampai di Lengko Elar saja media ini mengalami dua kali kecelakaan tunggal.


    Kecelakaan pertama dialami setelah melewati kampung Colol, tepatnya memasuki Lok Pahar, kondisi jalanan yang rusak parah hampir tak beraspal dengan onggokan batu yang terlepas akibat dilindas ban truk kayu mengakibatkan kendaraan roda dua yang dikendarai terlempar ke luar got.


    Dalam waktu sekejap, media ini sudah beristirahat sejenak di got dengan kondisi sepeda motor yang terpental setelah menumbuk tanah di sisi kanan jalan.


    Hampir tak diingat bagaimana dalam hitungan detik, bisa menabrak gundukan tanah meski kecepatan kendaraan pada saat itu tidak sampai 10km/jam.



    Ternyata kendaraan saya menabrak onggokan batu yang berserakan di badan jalan, ditambah lagi dengan kondisi jalan yang licin akibat bebatuan yang disusun ditengarai bersumber dari batuan kali, hal ini menyebabkan ban kendaraan terseret ketika kena air hujan.


    Syukurnya kecelakaan kali ini tak ada satupun kendaraan yang melintas, jadi dengan cepat-cepat saya bangkit dan membetulkan posisi kendaraan setelah terperosok keluar jalur.


    Perjalanan pun kembali dilanjutkan, kali ini semakin berhati-hati karena sudah mengalami kecelakaan pertama.


    Kondisi jalan rusak seperti itu dijumpai sepanjang jalur itu, kadang-kadang ban kendaraan terperosok kedalam kubangan air yang menutupi seluruh badan jalan.


    Kita sebagai pengendara harus menggunakan intuisi yang pas, dalam memilih jalur yang hendak dilewati kendaraan terutama dalam kubangan air itu.


    Pasalnya jika salah, kita bisa mengalami hal yang lebih buruk lagi, yakni jatuh dalam kubangan air berlumpur itu.


    Hal itu hampir dialami penulis ketika memasuki ujung aspal di pertigaan Watu Nggong, dalam benak saya bagian kiri adalah yang paling baik, ternyata malah sebaliknya.


    Jalur bagian kiri itu berlumpur akibatnya roda depan kendaraan tak bisa berputar, alhasil sepatu yang saya kenakan terendam air lumpur.


    Ini adalah peristiwa sedih kedua dalam rangkaian jalan salib menuju Lengko Elar, hahahah sudah seperti jalan salib saja.


    Setelah memasuki pertigaan Watu Nggong, kondisi jalan cukup baik, kendaraan saya bisa dipacu hingga mendekati 20km/jam.


    Meski banyak tikungan tajam, dan kondisi jalanan yang sempit namun kecepatan dipacu lantaran kondisi sepatu yang sudah basah terendam air lumpur.


    Dalam benak saya kondisi jalan itu akan mulus hingga Lengko Elar, ternyata tidaklah demikian, pasalnya 2 km sebelum memasuki Lengko Elar kondisi jalan itu kembali berubah.


    Bukan hotmiks yang ditemukan malah onggokan batu tanpa adanya aspal yang tersisah, pada beberapa titik jalur utama itu ditutupi material tanah longsor.


    Akibatnya tak ada lagi bebatuan dasar yang ada hanyalah lumpur yang membentuk jalur mengikuti roda kendaraan bus kayu.


    Ini lebih berbahaya dari yang sebelumnya lantaran kondisinya sangat licin ditambah lagi dengan medan di sisi kiri jalan yang curam.


    Ini terasa sangat menakutkan karena jika peristiwa sedih yang pertama saya alami itu terjadi di tempat ini maka bisa dipastikan kendaraan saya terlempar keluar jalur dan jatuh ke jurang.



    Melihat kondisi medan yang seperti itu, saya pun memutuskan untuk menunggu pengendara lain melintas.


    Rasa-rasanya tak berani melintasi tempat itu, setelah menunggu hampir 30 menitan lewatlah Simon dari Kirene (bukan nama sebenarnya) yang membantu mengendarai kendaraan saya melewati tempat itu.


    Bagi Simon kondisi tersebut merupakan hal biasa yang sering ia hadapi sehari-hari, Simon bahkan tak sedikitpun merasa takut jika kendaraannya tergelincir keluar jurang.


    Sebuah mental pemberani yang sudah lama tertanam dalam dirinya lantaran janji manis kampanye kepala daerah serta politisi dapil Elar yang hingga kini tinggalah janji, entah realisasinya kapan hanya politisi dan Tuhan yang tahu, katanya.


    Yang pasti Simon mengatakan jalur itu merupakan satu-satunya akses keluar masuk mereka menuju Ruteng dan Borong termasuk para politisi dari Dapil Elar, terkadang juga dilalui sang kepala daerah.


    Sederet alasan acapkali dilontarkan para pemimpin manakalah ditagih janji-janji manisnya saat kampanye.


    Namun ketika sudah duduk di kursi empuk, amnesia adalah penyakit akut yang dialami para politisi dari dapil Elar.


    Jalan Jelek tetap jadi makanan empuk untuk mendulang suara daerah itu dengan mengumbar janji semanis madu, namun minim realisasi.


    Penulis: Tonny


    Komentar

    Tampilkan


     

     


    Terkini